Power Factor Controller/ PF Controller November 6, 2007
Posted by bayupancoro in Electric fo Dummies, Iptek, bayu pancoro, electric, listrik.4 comments
Untuk PF Controler model lama memerlukan setting parameter C/K. Setting C/K yang tepat akan mengoptimalkan kerja controller ini. Sesungguhnya C/K adalah besar arus step pertama yang mengalir ke PF Controller. Jadi penghitungan C/K adalah sbb :
C/K = Ic / K
dimana :
Ic : Arus Capacitor step pertama
K : Ratio CT ( 500/5 berarti K = 100)
Untuk PF Controller model terbaru biasanya dilengkapi dengan automatic tuning. Jadi dengan masuk ke menu auto kemudian PF Controller akan melakukan pengukuran sendiri dan menyimpan parameter tersebut.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan PF Controller adalah peletakan CT, arah CT dan Kabel Kontrol. Peletakan CT sangat penting agak pengontrolan PF sesuai dengan yang diharapkan. CT harus diletakkan diatas titik sambungan antara beban dan panel capacitor. Arah CT kebalik biasanya ditandai dengan blinkingnya dispaly dan pembacaan PF yang tidak sesuai. Jika terbalik tinggal oper posisi kabel dari CT di terminal. Sesuaikan kabel kontrol sesuai wiring diagram yang terlampir. Kontrol bisa menggunakan L-N atau L- L dan jalur R S T juga disesuaikan. Ada sebuah merk jika pengambilan tegangan sama dengan line yang dipasang CT pembacaan PF Controllernya jadi kacau.
Bandara – The Serries (2) November 6, 2007
Posted by bayupancoro in Sekitar Kita, Uncategorized.add a comment
Setelah beberapa kali mempergunakan jasa Juanda International Airport ada beberapa hal menarik yang perlu menjadi catatan. Mengingat bandara ini adalah bandara internasional, tentunya diharapkan stadart pelayanannya harus berlevel internasional (airport tax rp 30rb juga). Tranportasi umum untuk menuju ke bandara bisa dengan dua cara yaitu taxi dan bus bandara. Yang perlu menjadi perhatian adalah bus bandara, mengingat status bandara Juanda sepertinya tidaklah layak kondisi bus tersebut dan service yang di tangani. Sebagai gambaran, rute bus ini hanya bandara Juanda ke terminal bus Bungurasih dan sebaliknya (Rp 10rb). Jadi kalau mau menuju tempat lain harus lewat terminal bus dulu. Kondisi bus juga jangan dibayangkan seperti yang ada di bandara Soekarno – Hatta, hanya bus 3/4 (bis ijo versi suroboyo) dengan fasilitas AC. Jumlah bus bandara sepertinya juga tidak sebanyak di Soekarno -Hatta. Jadi kalau berminat mempergunakan jasa bus bandara harus beradu cepat dengan penumpang lain.
Mempergunakan jasa taxi keluar Juanda International Airport, terlebih dahulu harus membeli voucer taxi di loket (sepertinya ada 2 loket saja). Begitu sampai depan loket tinggal mengatakan tujuannya, misal “Geluran – Sepanjang – Sidoarjo” charge yang dikenakan 60rb. padahal kondisi lewat jalan normal 50rb dan jalan tikus 43rb saja (mahal !). Bayangkan jika kondisi bandara sedang ramai (biasanya Jum’at atau Sabtu), hanya dilayani max. 2 loket berapa lama harus antri taxi mahal. Setelah memperoleh voucer, kembali harus antri untuk giliran dapat taxi, ya benar giliran. Jadi kalu giliran kita dapat taxi jelek ya tidak bisa complain begitu pula sebaliknya! Mayoritas taxi yang ada di sana adalah anggota PIMKOPAL/ taxi Prima ( yang tidak prima) dengan kondisi yang tidak layak untuk beroperasi di bandara bertaraf internasional ini. Tetapi ada cara untuk mendapatkan taxi yang layak. Setelah turun dari pesawat langsung menuju bus bandara dan tidak menggunakan taxi. Begitu diluar bandara/ mendekati terminal Bungurasih (daerah Makro dan Aloha) langsung turun. Di sekitar tempat tersebut banyak taxi yang lebih bagus dan murah (overall), Blue Bird group atau Silver.
Saat menunggu jadwal penerbangan pesawat di gate, adakalanya ingin BAB atau BAK. Ruang tunggu/ Gate di Bandara Internasional Juanda tidak dilengkapi dengan fasilitas ini didalamnya. Jadi jika ingin melakukan hal tersebut harus keluar gate terlebih dahulu. Setelah selesai sebelum masuk gate harus melalui security check lagi. Mungkin hal ini sepele, tetapi bila bepergian sendiri dengan tas bawaan yang lumayan hal ini bisa jadi merepotkan. Atau ini hanya karena berada di penerbangan domestik saja ?? Seharusnya tidak demikian adanya.
Secara umum, kualitas Juanda International Airport meningkat secara fisik bangunan. Tetapi untuk service pelayanan adalah “sami mawon”. Semoga para pejabat bisa memperbaiki dan mengelola agar benar benar menjadi airport bertaraf internasional.
Bandara – The Serries (1) November 6, 2007
Posted by bayupancoro in Sekitar Kita, Uncategorized.add a comment
Dengan pertimbangan jadwal check-in belum masuk listing, saya putuskan menunggu di luar saja. Bisa lebih leluasa jalan jalan menghabiskan waktu. Karena sudah masuk waktu Ashar, bergegas mencari mushola. Berjalan sedikit ketemu petunjuk arah mushola dan toilet dalam satu papan. Ternyata bukan hanya tulisan penunjuk arah saja yang berbagi tempat, kondisi sebenarnya juga demikian. Mushola dam toilet terdiri dari satu bagian dan berbagi tempat. Begitu masuk di sebelah kiri menuju mushola dan jika terus lurus adalah toilet. Di area toilet bagian kiri untuk BAK dan sebelah kanan terdapat bilik bilik. Bau (maaf) pesing dan tidak sedap menyebar kemana – mana, di lantai terdapat genangan air bercampur dengan tanah atau pasir yang terbawa oleh pengunjung.
Di area di area mushola yang tidak begitu luas, bau toilet masih menyengat. Begitu masuk area disebelah kiri terdapat tempat berwudhlu dengan 3 atau empat kran air. Kondisi lantai tidak berbeda jauh dengan toilet, hanya agak lebih bersih. Selesai wudhlu ternyata di dalam mushola masih penuh dan harus menunggu. Saat masuk di mushola udara pengap dan panas langsung memenuhi dada. Ruang tersebut hanya bisa dipergunakan 2 shof dan satu shof tambahan. Begitu sempit dan pengapnya mushola ini begitu selesai sholat yang hanya 4 rokaat, badan sudah basah kuyup oleh keringat. Segar rasanya ketika keluar dari mushola ini.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya tiba giliran chech-in. Setelah menyelesaikan segala urusan saya melanjutkan perjalanan ke ruang tunggu. Waktu sudah melewati jam 6 sore dan saya harus melaksanakan sholat Maghrib. Mushola di gate/ ruang tunggu berada dilantai bawah. Sama seperti kondisi di luar mushola ini berdampingan dengan toilet. Tetapi kebersihannya lebih baik daripada yang diluar. Ukuran mushola lebih kecil dari yang diluar, sama 2 shof juga tapi tidak pengap karena AC ruang atas yang dialirkan ke bawah. Saya juga harus menunggu giliran untuk melakukan sholat. Satu baris hanya bisa di isi 4 orang. Jadi dengan satu imam dan 4 makmum mushola sudah penuh.
Setelah melakukan sholat di dua tempat tersebut saya jadi berpikir, ” Apa benar saya ada di Indonesia ??”. Sampai sampai bandara terbesarnya tidak mampu menyediakan tempat ibadah yang layak. Secara Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Apakah pajabat PT. Angkasa Pura I tidak ada yang muslim ?? Apakah karena mushola tidak mendatangkan keuntungan secara finansial ?? Huh..
Sepertinya memang mushola memang luput dari perhatian pembuat kebijakan. Saya tidak bisa membayangkan, misalnya saya sedang dalam perjalanan bersama wisman muslim. Dan mengalami kondisi seperti yang saya alami di atas. Apa yang bisa saya jelaskan mengenai kondisi mushola seperti itu ? Ingat, kondisi mushola di bandara udara internasional terbesar di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Bukannya mengharap mushola yang mewah luas full AC. Tetapi setidaknya lokasi yang agak jauh dari toilet, bisa menampung 4 sampai 5 shof dan ventilasi yang layak agar tidak terasa panas dan pengap. Dengan begitu kesucian tempat ibadah dapat benar benar terjaga, yang beibadah bisa lebih kusyu dan semoga menjadikan doa doa yang terucap bisa terkabul. Pada akhirnya akan berimbas kepada para perusahaan pengelola serta para pegawainya. Semoga… Kapan ??
Pusiiiing November 6, 2007
Posted by bayupancoro in Sekitar Kita, Uncategorized.add a comment
Dah lama gak nulis… Nulis apa ya ??
