jump to navigation

Jaksa Urip Setelah di Vonis (eps.1)-dari Kompas September 22, 2008

Posted by bayupancoro in Sekitar Kita.
Tags: , ,
trackback
Kamis, 18 September 2008 | 14:33 WIB

Hari itu, mantan Jaksa Agung Muda Urip Tri Gunawan tertawa riang menyambut kedatangan dua buah hatinya yang menengoknya di Rutan Brimob. Kegetiran memang terbersit di wajahnya. Apalagi, hakim sudah menjatuhkan vonis 20 tahun penjara.

“Bagaimana mungkin anak-anak harus berpisah dari papinya selama 20 tahun?” tanya sang istri, Rita Darmayanti (32), sambil memperhartikan Urip dan anak-anaknya. Rita yang tetap berpuasa kendati tengah hamil tua, kerap berkaca-kaca saat mengungkapkan isi hatinya.

Sabtu malam delapan bulan lalu, aku bermimpi rambutku tercerabut sebagian dan seperti orang botak. Padahal, rambut adalah mahkota dan jabatan, kan, seperti mahkota. Apa artinya, ya? Aku terus memikirkan “pesan” apa gerangan yang bakal kuterima dari mimpi itu. Karena terus merasa galau, kutelepon suamiku di Jakarta. Kami memang tinggal terpisah karena aku belum mendapat izin pindah kerja dari Bali ke Jakarta. Kuceritakan tentang mimpiku dan memintanya berhati-hati. “Di rumah saja, deh. Takut ada apa-apa,” kataku. Suamiku menjawab, harus keluar sebentar untuk menemui seseorang.

Esoknya, ketika kutelepon lagi, suamiku sedang main dengan anak-anak tapi katanya mau keluar sebentar. Ternyata, hari Minggu jam 10.00 itu, ia ditangkap KPK. Aku syok! Bingung tak tahu harus berbuat apa. Hatiku semakin nelangsa mengingat anak-anak tinggal bersama ayah dan neneknya (ibu dari suami) di Bekasi. Mau keluar rumah pun susah karena wartawan sudah menyemut di depan rumah. Akhirnya aku berhasil keluar rumah, segera menuju Jakarta.

Waktu itu beritanya simpang siur. Ada yang mengatakan, suamiku tertangkap di hotel. Padahal, itu tak benar. Yang membuatku makin sakit hati, media massa begitu memojokkan, seolah-olah suamiku penjahat, perampok, dan pembunuh. Belum lagi tayangan tentang penangkapan suamiku diputar berulang-ulang hingga memberi dampak psikologis bagi kami sekeluarga. Khususnya anak-anak yang tak tahu apa-apa.

Seandainya KPK tak terlalu arogan, mungkin suamiku tak akan melawan. Bahkan anehnya, semua media massa sudah siap dan sudah menunggu di TKP. Dari mana mereka tahu? Seharusnya pihak KPK yang lebih mengerti aturan asas praduga tak bersalah. Bahwa semua orang yang ditangkap belum tentu bersalah, sebelum ada putusan hakim.

Berita Mengejutkan
Sejak peristiwa itu, aku tinggal di kontrakan yang dekat dengan kantor. Kehidupan kami mulai berubah. Untuk menjenguk suami mondar-mandir ke Jakarta, biaya hidup, serta membayar cicilan rumah, jelas tak mencukupi karena suami sudah tak memperoleh gaji lagi. Mobil terpaksa kujual untuk menyambung hidup.

Hidup sendiri di Bali rasanya hampa, tak ada semangat untuk hidup. Sebab itu pula, anak-anak akhirnya kuboyong lagi ke Bali. Sekalipun ayah dan ibuku siap membantu, namun aku enggan merepotkan mereka terus. Ya, alhamdullilah, meski sudah pensiun, ayahku masih menjadi dosen di tiga universitas.

Begitulah, belum reda rasa sedih dan syokku, Kamis lalu ( 4/9) saat bersiap-siap berangkat kerja, temanku menelepon dan memberitahu, JPU (jaksa penutut umum) telah menjatuhkan vonis. Dengan hati-hati ia bilang, suamiku dijatuhi hukuman penjara 20 tahun. Lemah lunglai rasanya tubuhku.

Aku tahu, suamiku akan dipenjara. Tapi tidak kubayangkan bakal selama itu. Dalam tuntutan dan putusan, tidak ada sama sekali hal-hal yang meringankan. Padahal, suami sudah berdinas 17 tahun sebagai jaksa. Banyak perkara, baik besar maupun kecil, yang sudah ditanganinya tapi sepertinya tak ada toleransi pada suamiku.

Meski badan lemas dan perasaan tak keruan, hari itu aku tetap harus kerja karena ada sidang dan aku bertindak sebagai jaksanya. Meski hati ini hancur, sebagai aparat aku juga seorang jaksa yang harus tetap tegak di hadapan orang-orang dalam persidanganku. Setelah sidang berhasil kulewati, tubuhku terasa makin lunglai, Rasanya lengkap sudah penderitaanku kendati semua teman dan pimpinanku memberi dukungan moril.

Demi Anak & Kandungan
Allah hendak mengujiku. Bagaimana mungkin anak-anakku harus berpisah dari papinya selama 20 tahun? Oh Tuhan, kuatkanlah aku. Aku merasa, apa gunanya hidup tanpa suami? Tujuan hidup, kan, ada dua, yaitu melanjutkan keturunan dan beribadah dengan berbuat baik pada suami, orangtua, keluarga, dan lainnya.

Kadang aku merasa benar-benar putus asa. Namun aku sadar, anak-anakku serta bayi yang kukandung, memerlukan bimbinganku. Merekalah semangat hidupku. Aku tidak boleh terlihat cengeng di depan mereka, meski tiap malam, Adhi (3) selalu menanyakan ayahnya. “Papi sedang sekolah di Jakarta,” begitu selalu jawabku. Kalau Prita, mungkin lama-lama sudah tahu karena sering melihat papinya di layar teve.

Aku bisa merasakan rasa kehilangan mereka. Apalagi, sejak bayi, anak-anak sudah terbiasa mendengar suara papinya memberi uro- ura (nyanyian kecil lagu-lagu Jawa seperti Kidang Talun ) sebagai pengantar tidur mereka. Rasanya masih terngiang di telinga, suamiku menyanyikan Kidang Talun untuk Adhi.

Masih segar juga dalam ingatan, bagaimana aku selalu menyiapkan baju seragam suamiku setiap berangkat kantor. Juga selalu masak dengan tanganku sendiri untuk suami dan anak-anak. Ya, selain hobi masak dan bikin kue, mamaku dulu mengajarkan agar semua anak perempuannya bisa masak untuk suami dan keluarganya. Katanya, biar suami betah di rumah. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara yang perempuan semua, aku harus bisa memberi contoh pada adik-adikku. Karenanya sudah menjadi kebiasaanku, usai salat subuh langsung masak. Pembantu hanya bersifat membantu saja.

Makanan favorit suamiku, sambel tumpang khas Sragen (sambel yang diberi ulekan tempe, Red.). Aku khusus belajar dari ibu mertua agar suamiku merasa senang. Dia juga suka masakan Madura seperti rawon dan soto. Kue-kue pun aku buat sendiri.

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: