jump to navigation

EKSPEDISI SUNGAI NIL (29) September 30, 2010

Posted by bayupancoro in bayu pancoro.
trackback

by Agus Mustofa on Tuesday, September 7, 2010 at 9:08pm

~ Mencegat Lailatul Qadr di Tepi Laut Mediterania ~

Sharm El Sheikh adalah kota terakhir di Gurun Sinai yang kami kunjungi. Dari kota di tepi Laut Merah ini, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pantai Teluk Suez yang mengarah ke terowongan penyeberangan kembali. Jaraknya sekitar 500 km. Memasuki benua Afrika, kami mengarah ke delta Sungai Nil, dan menyusurinya sampai ke muara di kota Alexandria.

Sebenarnya, di bagian delta ini sungai Nil terpecah menjadi beberapa cabang yang menuju ke muara. Salah satunya mengarah ke Alexandria. Sedangkan muara utamanya berada di kota Dumyat dan kota Rashid. Semuanya berujung di Laut Mediterania. Dengan keterbatasan waktu yang ada, kami hanya memilih salah satu saja, yakni kota yang paling besar dan paling banyak menyimpan sejarah: Alexandria. Inilah kota yang pernah menjadi ibukota Mesir selama 1000 tahun di zaman Yunani-Romawi.

Alasan lain kenapa kami memilih Alexandria sebagai terminal terakhir, karena kota ini memiliki kadar spiritual yang cukup tinggi bagi para pencari Kebenaran Tunggal. Diantaranya, disana ada masjid seorang guru sufi yang sangat terkenal, yaitu Abul Abbas al Mursyi. Masjid, yang kemudian menjadi makamnya, itu adalah kompleks makam 12 wali yang juga adalah murid-muridnya. Kawasan ini menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan yang datang ke Alexandria.

Lebih jauh, di Alexandria juga terdapat makam ‘orang biasa’ yang namanya disebut-sebut di dalam al Qur’an. Dialah Luqman el Hakim. Orang bijak yang tidak disebut sebagai nabi itu, nasehat-nasehatnya menyentuh sanubari dan sangat mendalam secara spiritual. Bahkan, namanya lantas diabadikan sebagai nama surat ke 31 dalam al Qur’an: Surat Luqman. Sayang ketika kami menziarahinya, kompleksnya sedang direnovasi, dan tertutup untuk sementara waktu.

Kami ingin menghabiskan sisa hari Ekspedisi Spiritual ini disini. Berada di sebuah tempat bersejarah yang mengandung nilai-nilai spiritual bagi para pencari Tuhan. Tidak dengan berada di samping makam para pelaku sufisme itu, melainkan bertafakur di muara Sungai Nil yang menjadi saksi bisu atas berjalannya sejarah masa lalu dengan segala hikmahnya.

Ketika berada di masjid Abbas al Mursyi, saya sempat menyaksikan para pelaku tarekat melakukan ritual ibadah khasnya. Puluhan orang berkerumun dalam tarian sufisme. Sambil menari dan bertepuk, mereka melantunkan puji-pujian: ya hu … ya hu … ya hu ( wahai Dia … wahai Dia … wahai Dia), sambil menggelorakan Asmaaul Husna. Tak kurang dari 5 kelompok aliran tarekat yang siang itu berkumpul membentuk halaqah masing-masing di masjid tepi pantai itu.

Malamnya, di masjid yang berbeda, saya menyaksikan ribuan orang melakukan shalat tahajud. Pesertanya membludak, menimbulkan kemacetan lalu lintas di depan masjid Al Qaid Ibrahim, sampai menjelang waktu sahur. Mereka meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir untuk menyambut datangnya puncak Ramadan: Lailat al Qadr.

Di beberapa masjid lainnya, saya juga melihat para pelaku i’tikaf yang terus menerus membaca kitab suci Al Qur’an sepanjang hari hingga malam. Sedangkan saya memilih cara saya sendiri untuk bertafakur menjelang berakhirnya Ramadan. Bulan Suci yang penuh hikmah, bagi siapa yang berniat mencarinya.

Saya merenung di teras kamar lantai empat, sebuah penginapan yang persis menghadap ke Laut Mediterania. Beratap langit yang bertabur bintang. Menghadap kegelapan laut yang luas dengan debur ombak yang sayup-sayup. Sesekali terdengar celoteh orang di jalanan, dan suara klakson mobil yang terjebak kemacetan di bawah sana. Sementara itu, di masjid-masjid terdengar suara pujian dan ayat-ayat Qur’an yang dilantunkan dalam shalat-shalat yang panjang.

Saya ingin merenungi Ramadan ini dalam realitas kehidupan, tanpa harus mengasingkan diri dan menyepi dari hiruk pikuk duniawi. Karena saya merasakan, Tuhan tidak hanya hadir di tempat-tempat sepi yang terasing. Tetapi, meliputi seluruh dinamika kehidupan makhluk-makhluk-Nya, dalam sepi maupun dinamika tiada henti.

Dia berada bersama dengan orang-orang yang sedang shalat sendiri maupun berjamaah. Dia juga sedang meliputi mereka yang berbuat maksiat, sendirian maupun bersama-sama. Dia kini sedang mendampingi orang-orang yang bersabar dalam menghadapi segala ujian hidupnya, sekaligus meliputi orang-orang yang ingkar dalam menghadapi kebenaran.

Ya, Allah adalah Zat yang sedang bersama seluruh makhluk-Nya dimana pun mereka berada. Langit luas yang bertabur milyaran bintang berada di dalam Kebesaran-Nya yang tiada terkira. Lautan lepas yang berselimut kegelapan dan kecipak ombak, sedang larut dalam Keperkasaan-Nya. Bahkan seluruh peristiwa di langit dan di bumi, tak ada yang terjadi tanpa kehadiran-Nya. Karena sungguh, alam semesta hanyalah sebutir debu yang ’tenggelam’ dalam Samudera Keagungan yang tiada berhingga.

’’Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.’’[QS. 4: 126]. ’’Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat (gaya gravitasi). Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari serta bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang telah ditentukan. Allah mengatur segala urusan, menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu. [QS. 13: 2].

Malam-malam akhir Ramadan, bagaikan hari-hari dimana Nabi Musa diperintahkan Allah menyempurnakan puasa sebelum berbicara dengan-Nya. Dengan kemurnian puasanya itu beliau menerima wahyu di Gunung Sinai. Atau, hari-hari ini adalah bagaikan saat-saat akhir tahanuts Rasulullah SAW di gua Hira’, yang sesudah itu beliau menerima wahyu al Qur’an al Karim, cahaya penerang bagi manusia akhir zaman.

Turunnya hikmah ilmu kehidupan selalu seiring dengan proses penyucian diri yang sempurna. Ketika jiwa dan raga telah larut dalam proses penyerahan diri kepada Zat Yang Maha Suci, maka itulah saat lailatul Qadr turun kepada orang-orang yang berpuasa sempurna di bulan Ramadan. Hikmah itu dibawa oleh malaikat Jibril yang memang bertugas menyampaikan ilmu-ilmu Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Berjuta malaikat mengiringi sang Jibril di akhir-akhir proses penyucian diri yang istiqomah.

Lailatul Qadr tak akan turun kepada orang-orang yang secara ’dadakan’ mencegat datangnya malam seperti mencegat datangnya keberuntungan sebuah undian. Karena sesungguhnya bukan ’malam’ itu yang menjadi subtansinya, melainkan pengetahuan mendalam yang disebut al Quran sebagai Al Hikmah. Betapa naifnya orang-orang yang ’mencegat’ datangnya ’sebuah malam’ di akhir Ramadan secara dadakan, karena malam hari di Indonesia, sebenarnya adalah sore hari di Timur Tengah, dan siang hari di Amerika.

’’Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alqur’an pada saat Lailatul Qadr… Turun para malaikat dan Jibril di malam itu dengan izin Tuhannya, untuk mengatur segala urusan (yang penuh hikmah)… [QS.97: 1 &4]

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: