Liburan di Kota Batu (bag-1)

Coban Rondo

Liburan semester ganjil tahun ini hanya satu minggu dari 24 sampai 31 Januari 2008. Itupun masih ada kegiatan penerimaan raport pada hari Sabtu dan Minggu. Sekolah aneh, pembagian raport kok ditengah tengah waktu liburan. Beberapa walimurid merelakan untuk tidak mengambilnya karena masih berlibur. Seperti kebiasaan orang Indonesia jadwal molor menjadi biasa, begitupun saat pengambilan raport. Hasil semester secara peringkat masih sama seperti yang lalu, tetapi rata rata nilainya turun (Didi 89.57 dan Puput 92).

Kali ini liburan di rencanakan di daerah Batu – Malang. Hari Selasa 29 Januari 2008 jam 7an pagi kami berangkat dari rumah. Selepas Tol Waru – Porong kemacetan yang kami alami di daerah Porong tidak terlalu parah, sekitar 20 menit sudah terbebas. Setelah melewati kota Pandaan mampir di Depot Barokah untuk sarapan. Menu seperti biasa, nasi cumi hitam, nasi ayam goreng dan pecel. Mak Nyussss !! Lokasi depot ini kalau dari arah Surabaya berada di sebelah kiri jalan, selepas kota Pandaan kira kira 2 kilometer.

Setelah sarapan pagi dengan cumi badan terasa segar..! Tak terasa perjalanan telah melewati Singosari dan kemudian belok ke kanan di pertigaan Karanglo daerah pabrik rokok Bentoel. Jalan sangat lancar dan sebelum jam 10 telah memasuki kota Batu. Setelah berputar putar di kota diputuskan ke Air Terjun Coban Rondo.

Coban Rondo berada di atas kota Batu dengan lama perjalanan sekitar 15 menit. Dari kota Batu terus naik ke arah Pujon atau Kediri/ Jombang. Setelah melewati kawasan Songgoriti jalan mulai berkelok kelok. Disebelah kiri terdapat tebing dengan beberapa tempat bekas longsor, dan disebelah kiri dapat dinikmati kota Batu dari atas. Di sana juga terdapat beberapa penjual jagung bakar. Daerah yang sangat terkenal karena pemandangan lengkap kota Batu adalah Payung. 

Untuk mencapai wisata Coban Rondo harus melewati perkampungan. Kira kira setelah 2 kilometer dari jalan raya maka sampailah di gerbang wisata Coban Rondo. Tiket masuk per kepala Rp 8.000,- (tetapi untuk wisman beda, aneh !), dan kendaraan roda 4 dikenai Rp 3.000,-. Tetapi kami dikenai tiket borongan Rp 19.000,- . Nggak tau atas dasar apa si Bapak penjaga mengatakan ” Wis di itung borongan Mas Songoslasewu ae”. Dapet dua tiket untuk dua orang dan kendaraan roda dua ( LHO ?!..). Lanjuuuttt…!

Dari gerbang ini untuk menuju lokasi air terjunnya masih jauh, kira kira 2 km. Jalan dibuat searah, jadi antara masuk dan keluar di pisah, demi keamanan. Di sebelah kiri kanan terdapat banyak pepohonan yang tinggi. Udara dingin terasa sekali. Sepanjang perjalanan ini akan ditemui tempat penginapan, perkemahan, playground, tempat kebun hydroponik dll. Di ujung jalan ini terdapat area parkir yang sangat luas, disebelah kanan terdapat beberapa penjual makanan dan oleh oleh, yang pasti adalah jagung bakar.

Dari areal parkir masih harus berjalan beberapa ratus meter untuk menuju ke air terjun Coban Rondo. Coban Rondo in mempunyai ketinggian 84 m dan debit air terkecil waktu kemarau adalah 102 m3 per detik. Air dari Coban Rondo dimanfaatkan oleh penduduk sekitar dan PDAM kota Batu. Air dari Coban Rondo rupanya tidak sebersih saat terakir kali ke sana sekitar tahun ’97an. Begitupula dengan kondisi lingkungan, terdapat beberapa perubahan dan tambahan beberapa bangunan di sana.

Mungkin karena musim penghujan, jadi air agak kecoklatan baik yang berada di bawah air terjun maupun di sungainya tidak sejernih dulu. Brrr….. Dinginnya udara bertambah begitu sampai disekitar air terjun karena titik titik air yang jatuh di permukaan kulit. Di bawah air terjun terdapat beberapa pengunjung yang bermain air dengan basah kuyup meskipun terdapat larangan mandi dibawah air terjun, tipikal orang kita yang tidak mengindahkan peringatan. Begitu pula di sungai, terdapat lebih banyak pengunjung yang bermain air yang dingin. Jika ingin melihat kondisi air terjun dari permukaan yang lebih tinggi bisa mengambil jalur yang kiri.

Setelah puas berfoto dan bermain air di Coban Rondo, perjalanan dilanjutkan kembali ke kota Batu untuk mencari penginapan. Dalam perjalanan ke  Batu menyempatkan diri masuk ke kawasan wisata Songgoriti. Jika ingin menginap di vila vila yang pahe tanya saja calo vila yang ada di gerbang tempat wisata ini. Tiket masuk kendaraan ke area wisata Rp 1.500,- dan sepanjang perjalanan terdapat vila vila yang disewakan.

Perjalanan diteruskan untuk mencari penginapan yang lebih dekat kota Batu. Dari bertanya dan telepon akhirnya mendapat penginapan di Hotel Mutiara Baru. Lumayan, dengan Rp 130.000,- kamar double bed, tanpa AC (buat apa AC kalo di tempat dingin), air hangat dan swimingpool. Sebenarnya tarif normar Rp 165.000 dan kalau libur Rp 200.000,-. Poin plus dari hotel ini adalah kolam renangnya saja, karena air panas sangat tidak nyaman dan terlalu ramai.

Sore sekitar jam 6, berkeliling kota mencari makanan. Eh.. sekalian coba ke kota Malang. Dari kota Batu turun melewati Sengkaling, Universitas Muhammadiyah Malang, Dinoyo lurus terus putar balik di Sukarno Hatta, Jl Panjaitan terus akhirnya sampai di ujung jalan Ijen. Melintasi jalan Ijen yang terkenal dengan kemewahan jaman dulu, sampai di pertigaan jalan Kawi. Setelah berputar putar beberapa lama, akhirnya parkir di Pulosari di rumah makan siap saji lokal punya (disebelah bakso President). Paket A dengan 2 ayam, 1 nasi, 1 sup ayam, lalapan dan kentang ditebus Rp 14.000,-. Ayam goreng di masak model kremes yang gurih. Mak Nyusss juga……. Perjalanan dilanjutkan ke Plasa Dieng untuk sekedar cuci mata. Dan kembali lewat Sumbersari, Ketawang Gede, Dinoyo terus ke Batu.

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro, Liburan, My Family. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s