Jaksa Urip Setelah di Vonis (eps.2)-dari Kompas

Jumat, 19 September 2008 | 10:49 WIB
RAMADHAN kali ini benar-benar memilukan buat kami. Biasanya kami selalu berkumpul, buka puasa atau sahur bersama. Suamiku kan mualaf, jadi masih dalam taraf belajar. Biasanya, menjelang Lebaran seperti ini aku sudah bersiap bersih-bersih rumah dan mudik ke Madura, kampung halamanku. Setelah itu ke Sragen.

Lebaran besok entahlah. Mungkin kalau aku belum melahirkan bisa dijemput Papa, dibawa ke Madura. Tapi kalau bayinya lahir sebelum atau pas Lebaran, lebih baik aku di Bali saja. Entahlah, aku tak tahu harus bagaimana. Pasrah saja pada Allah. Menurut perkiraan dokter, bayi yang ada dalam kandungan ini berjenis kelamin laki-laki. Kasihan nanti kalau lahir tidak bisa langsung digendong papinya. Suamiku juga belum menitipkan nama untuknya. Katanya, yang penting lahir dengan normal dan selamat saja dulu.

Alhamdulliah, sudah hampir setahun sejak suamiku dinas di Jakarta, hobi dagang kecil-kecilan yang dimulai dari ketidaksengajaan sudah kelihatan hasilnya. Sejak suami dinas di Jakarta, aku membawa baju-baju dari Mangga Dua untuk dijual di Bali. Sebaliknya, produk di Bali kujual di Jakarta. Untungnya memang tak seberapa, namun tetap kusyukuri. Terlebih dengan kondisi seperti sekarang, Peluang bisnis ini semakin terasa hikmahnya. Aku harus membesarkan anak-anak sendirian. Ya, bersyukur aku masih bekerja dan untuk tambah-tambah penghasilan, usaha daganganku mulai jalan. Mungkin Tuhan sudah mempersiapkan mentalku terlebih dahulu. Siapa sih yang tahu kalau aku bakal mengalami nasib seperti ini?

Soal vonis 20 tahun, jelas aku kaget. Dari tuntutan saja sudah tidak wajar. Kalaupun dianggap kasus suap-menyuap, seharusnya hukuman yang menerima (suap) dan yang menyerahkan sama saja. Tapi ini tidak. Malah hukuman yang diterima suamiku lebih tinggi 3 kali lipat dari Artalyta. Sebagai sama-sama penegak hukum, seharusnya mengerti apa yang menjadi dasar atau aturan atas penjatuhan penuntutan dan putusan. Kalau sudah begini, di mana keadilan itu? Sedangkan di kasus ini, tidak merugikan negara, instansi, ataupun pihak ketiga.

Aku tak menyangka JPU dan hakim begitu tega menjatuhkan tuntutan dan putusan selama itu. Seharusnya hakim punya nurani dan mempertimbangkan dalam menjatuhkan putusan terhadap suamiku. Misalnya, prestasinya saat masih berdinas. Itu pula yang membuat suamiku kini tambah stres, lusuh, dan tak bersemangat untuk hidup. Aku sedih sekali melihatnya. Dia yang dulu gagah dan rapi dengan baju seragam, sekarang pakai baju seenaknya seperti gembel. Hilang sudah sosok suami yang rapi, optimis, semangat, dan kutu buku. Buku apa saja dilalapnya, sampai-sampai kepalanya botak.

Jujur saja, aku pun sebetulnya sudah kehilangan semangat hidup. Tapi, anak-anak akan hidup sama siapa? Aku kuatkan hatiku semampuku. Sudah 8 bulan ini aku terus menangis. Antara menyesal dan kecewa.

Jual Motor & Gadai Perhiasan

Namun, inilah garis hidup kami. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus dijalani. Aku harus terus setia mendampingi suami dalam suka dan duka. Selam ini pun hidup kami jauh dari kemewahan. Maklum, sama-sama pegawai negeri sipil. Meski suamiku pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Klungkung, tapi untuk membeli rumah dan motor pun harus kredit. Bahkan sampai saat ini, aku masih harus membayar cicilannya di BPD.

Kalaupun ada yang bilang rumah kami di Bali bagus atau mewah, itu salah. Kesan itu hanya tampak dari depan saja. Rumah dan tanah itu luasnya 300 meter persegi. Mula-mula suami membeli tanah dengan cara mencicil. Itu dilakukannya jauh sebelum menikah denganku. Begitu menikah, untuk membangunnya, kami kredit ke BPD Bali dan sampai sekarang belum lunas cicilannya. Jika tamannya tampak indah, karena kami bisa menatanya. Kami juga suka bonsai.

Rencananya, rumah itu akan kukontrakkan. Biarlah aku dan anak-anak tinggal di rumah kontrakan yang lebih kecil, dekat kantorku dengan harapan uang hasil kontrakan bisa membayar cicilan. Sayangnya, belum laku juga. Mungkin orang takut menempati rumah itu karena takut sewaktu-waktu kenapa. Padahal, sudah aku bilang, kalau ada apa-apa uang aku kembalikan.

Akhirnya, sekarang ini, untuk membayar cicilan aku gadaikan beberapa perhiasanku (Rita menunjukkan beberapa helai surat gadai). Bukan itu saja. Untuk bisa datang ke Jakarta, menengok suami, kemarin aku terpaksa menjual motor untuk ongkos aku dan anak-anakku. Aku juga harus memikirkan biaya persalinan meski Mama dan Papa siap membantu.

Kalau kemarin-kemarin tak terasa kelewat berat karena masih ada gaji suami. Sekarang, pemasukan tinggal dari aku saja. Belum lagi aku harus mengurusi “dua dapur”. Suami di Jakarta kan bajunya harus ada yang mengurusi. Tiap dua hari sekali, cucian dari tahanan dibawa pulang oleh anak angkat kami, dibawa ke rumah Bekasi. Untung di sana ada pembantu yang datang setengah hari. Rumah di Bekasi bisa untuk transit kalau kami menjenguk suami. Rumah itu dulu aku beli dari warisan orangtuaku dan terbukti di rumah itu juga tak ada apa-apanya serta tak semewah seperti dugaan orang.

Masih begitu lama dan panjang jalan dan penderitaan yang harus aku, suami, dan anak-anak kami, lalui. namun aku yakin, di balik semua kepahitan ini pasti Tuhan sudah memiliki rencana tersendiri untuk kami.

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jaksa Urip Setelah di Vonis (eps.2)-dari Kompas

  1. udin berkata:

    jaksa urip kualat sama amrozi

    $##???
    Emang ….?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s