Nasi Goreng Bakar

Malam minggu kemarin kami mencoba warung baru yang sangat eye catch. Lokasinya kurang lebih 5 atau 6 kilo dari rumah namanya Warung Puenceng. Jadi kalau dari pertigaan Klethek terus ambil ke arah Sukodono (jalur alternatif ke Sidoarjo).  Warungnya sebelum Sukodono di sebelah kiri jalan samping sungai. Warung berwarna merah menyala dengan perabotan minimalis laksana di kedai di mall mall. Beberapa pegawai lalu lalang sibuk melayani pengunjung dengan seragam T-Shirt warna orange.

Yang menjadi daya tarik utama adalah menu yang disediakan yaitu, Nasi Goreng Bakar dengan beberapa option seperti seafood, kambing, sapi ayam, spesial dan telur ceplok. Deskripsi menu ini menurut daftar menu adalah adalah nasi goreng bakar bertekanan tinggi dengan O2 (Oksigen). Harga rata rata per porsi adalah 7rb sampai 8rb. Beberapa saat kemudian pesanan datang, penyajiannya cukup lumayan. Mereka tidak menggunakan piring tetapi dengan anyaman bambu yang kemudian dilapisi daun pisang. Nasi goreng disusun diatasnya dengan rapi dan disertai tempat kecil untuk acar dan potongan cabe kecil kecil. Secara rasa mirip denga nasi goreng di Mie Bakso yang frachisenya banyak ditemui di mall mall. Yang menjadi penasaran adalah tidak terlihat bekas bekas gosong hasil pembakaran. Sama sekali tidak terlihat kalau nasi goreng itu telah di bakar, atau memang karena ketidak tahuan..

Begitu selesai makan saya berusaha untuk menuntaskan rasa penasaran. Segera bergegas melongok dapur yang ada di stan depan, sama sekali tidak terlihat oven atau sejenis di area dapur yang ada hanya tabung LPG dan tabung las. Uh, semakin penasaran saja proses nasi bakar ini. Beruntung sang koki sedang meracik nasi goreng, sepertinya sama saja  proses pembuatan nasi gorengnya, bawang, telur bumbu nasi kecap dkk berurutan masuk ke wajan dengan api besar. Sesaat kemudian si koki memanggil salah seorang temannya, “Mbakar mbakar !”. Salah seorang pegawai datang langsung meraih burner las (gagang las) dan dinyalakan. Dari ujung burner di atur hingga api menjadi biru, kemudian api tersebut di arahkan ke wajan penggorengan dengan nasi di aduk aduk. Proses pembakaran ini kira kira berlangsung 1 menit, ahh rupanya demikian proses pembakarannya.

Perasaan penasaran sudah hilang, tetapi muncul pertanyaan di batok kepala ini. “Layakkah makanan yang diproses demikian di konsumsi ?”,  nasi goreng yang di las kalau boleh dibilang.

“Apakah makanan ini tidak mengganggu kesehatan di kemudian hari ? “, mengingat gas LPG yang terbakar langsung bersinggungan dengan nasi goreng.

“Dan sudahkah proses ini sudah di uji kelayakaannya di BPPOM, Depkes dll ?”, sudah tentu ini tanggung jawab mereka yang menerima amanat dari rakyat.

Beberapa pertimbangan tersebut menjadikan ragu untuk berkunjung lagi, ma’af Pak. Oh.. ya satu lagi, mungkin penamaannya harusnya diganti menjadi “NASI GORENG BAKAR BERTEKANAN TINGGI DENGAN LPG DAN O2“. Salam njajan.!

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro, Sekitar Kita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s