EKSPEDISI SUNGAI NIL (1)

by Agus Mustofa on Wednesday, August 11, 2010 at 10:22am

~ Bertafakur, Menyusuri Sungai Terpanjang di Dunia ~

Sehari menjelang Ramadan saya sudah berada di Abu Simbel, sebuah kota perbatasan antara negara Mesir dan Sudan, Afrika. Kotakecil beraroma Mesir Kuno ini berjarak sekitar 1200 km selatan Cairo. Inilah tempat dimana saya memulai start untuk bertafakur panjang selama bulan Ramadan 1431H, dalam Ekspedisi Spiritual Jawa Pos: Jelajah Sungai Nil. Saya bersama tim seperti akan memasuki sebuah’lorong mimpi’ ke abad-abad silam saja layaknya.

Ide unik ini muncul begitu saja, ketika saya sudah tinggal di Cairo, Mesir selama 2 bulan. Saya benar-benar terperangah menyaksikan situs-situs sejarah bernilai tinggi yang bertebaran di sepanjang sungai Nil. Sungai terpanjang di dunia yang menyimpan rekaman peristiwa, sejak zaman Mesir kuno sampai zaman keemasan Islam. Adrenalin jurnalistik saya tiba-tiba berdesir.

‘Mimpi’ saya ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Dengan antusias, mas Leak Kustiya, Pemimpin Redaksi Jawa Pos mendukung. ”Oke, mas Agus. Kami dukung sepenuhnya,” celetuknya di seberang telepon sana. Sebuahekspedisi yang memadukan eksotika alam Afrika yang keras dengan sentuhan spiritual yang mendalam.

Maka, saya pun menyusun rencana secepatnya. Ketika itu, bulan Ramadan hanya tinggal sebulan. Sambil menyelesaikan buku serial ke-27 saya: ‘Perlukah Negara Islam’ yang sudah terbit bulan lalu, dan catatan-catatan Mingguan yang saya tulis untuk Jawa Pos, saya menyempatkan diri mempelajari medan Sungai Nil secara cepat. Ternyata, bukan main eksotiknya..! Tak salah jika saya menyusurinya.

Lima hari sebelum Ramadan, kami berempat berangkat naik mobil dari Cairo menuju Abu Simbel. Saya dan isteri ~ Anna Ratnawati ~ didampingi seorangpemandu jalan ~ Dadan S. Junaedy ~ dan seorang mahasiswa Al Azhar ~ Yovi Saddan, sengaja berangkat lebih awal. Ini memberi kesempatan kepada kami untuk melakukan orientasi lapangan dengan baik. Kami menjadi tahu, dimana harus menginap, dimana berbuka puasa dan sahur, serta mengirim berita ke Jawa Pos via internet, dan lain sebagainya.

Inilah petualangan yang memadukan antara keterpesonaan menyusuri kemegahan sejarah masa lampau, dan keagungan Karya Ilahi yang terhampar di sepanjang sungai Nil. Saya berharap, tafakur panjang ini mampu mengisi relung-relung jiwa kita selama ibadah Ramadan. Bulan yang penuh hikmah, dimana Allah menurunkan al Qur’an di dalamnya. Bulan membaca dan merenungi segala tanda-tanda Kebesaran-Nya.

~ Apa Jadinya, Afrika Tanpa Sungai Nil ~

Nil adalah sungai kontroversial terpanjang di dunia yang melintasi 9 negara Afrika. Dimulai dari negara Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda,Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan dan Mesir. Panjangnya lebih dari 6.650 km. Bahkan jika ditambah dengan sungai-sungai anakan di bagian hulu, bisa mencapai lebih dari 6.990 km. Hampir tujuh kali panjang pulau Jawa.

Soal panjang sungai Nil ini, di kalangan geologi terjadi perdebatan. Sebagian mengatakan kalah oleh Sungai Amazon di Amerika Selatan yang panjangnya juga lebih dari 6.990 km. Tetapi sebagian lagi bersikukuh mengatakan Nil adalah yang terpanjang. Jadi, betapa menariknya. Soal panjangnya saja sudah kontroversial. Sehingga membuat saya bertambah ‘gemas’.

Sebenarnya, itu cuma soal cara mengukur saja. Pada kenyataannya, memang belum ada kesepakatan dalam menentukan titik tolak pengukuran panjangnya sungai. Terutamadi bagian hulu. Apakah anak-anak sungai yang menjadi sumber mata air ikut diukur panjangnya ataukah tidak. Jika, anakan sungai dihitung panjangnya, maka Sungai Nil pun menempati urutan pertama. Jika tidak, Sungai Amazonlah pemenangnya.

Tetapi semua itu tidak terlalu penting buat saya. Kalah menarik oleh profil sungai Nil yang memang sangat memesona. Hulu sungai ini berada di Danau terbesar di Afrika, Danau Victoria. Sebuah danau raksasa, yang hampir-hampir pantas untuk disebut sebagai ‘Laut Air Tawar’. Bayangkan, panjang danau itu sekitar 337 km dan lebarnya 250 km. Hampir-hampir seluas propinsi Jawa Timur. Dengan kedalaman rata-rata 40 m, yang menangkap air hujan dari kawasan pegunungan di atasnya.

Saking luasnya , danau itu mencakup 3 negara, yaitu berada di perbatasan Tanzania, Kenya, dan Uganda. Kawasannya disebut sebagai dataran tinggi Plateau Afrika Timur yang menjadi sumber penghidupan ketiga negara itu. Dari danau raksasa inilah mengalir sungai Nil Putih, yang melintas sampai ke Sudan.

Dan menariknya, sumber sungai Nil bukan hanya berasal dari Danau Victoria, melainkan juga dari Danau Tana di negara Ethiopia yang melahirkan sungai Nil Biru.Lebih kecil dari Victoria, danau yang terletak di dataran tinggi Ethiopia itu memiliki ukuran 84 km x 66 km. Sungai Nil Biru dan sungai Nil Putih itu kemudian bertemu dan menyatu di dekat kota Khartoum, Sudan. Dari sinilah mengalir Sungai Nil yang melintas jauh sampai ke negeri Fir’aun. Dan berakhir di bagian paling utara Afrika, yakni laut Mediterania. Sebuah hamparan laut yang sangat indah, yang menjadi pembatas negara Mesir dengan benua Eropa.

Sang Khalik sedang memamerkan ciptaan-Nya yang luar biasa kepada kita semua untuk menafakurinya. Sebuah aliran air yang demikian raksasa melintas gurun pasir yang tandus dan menyengat panasnya. Allah Yang Maha Penyayang mengirimkan air untuk menghidupi makhluk-makhluk di sekitarnya. Menyuburkan tanah-tanah yang dilewatinya, sehingga hiduplah berbagai macam tetumbuhan yang menjadi sumber kehidupan manusia dan hewan. Dan lebih dari itu, aliran air ini kelak menjadi jalan transportasi, yang membuka peradaban zaman Mesir Kuno, hingga kini.

Saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya Benua Afrika tanpa aliran sungai Nil. Karena, di padang pasir itu, air hujan hanya turun 2-3 kali setahun..! Dikarenakan sungai Nil itulah muncul ‘jalur hijau’ yang membelah benua Afrika. Dan di sepanjang lembah Nil itu pula penduduk Afrika mengonsentrasikan permukimannya. Luas totalnya hanya sekitar 10 persen dari daratan Benua Hitam. Sedangkan 90 persen lainnya, berupa kawasan padang pasir tandus yang mengerikan untuk dihunimanusia..!

QS. As Sajdah(32): 27

Dan apakah merekatidak melihat, bahwasanya Kami (Allah) menghalau air ke bumi yang tandus, laluKami tumbuhkan dengan air itu tanam-tanaman yang daripadanya binatang-binatang ternak dan mereka sendiri memperoleh makanan. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?

QS. Ibrahim (14): 32

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan bagimu sungai-sungai.

COPAS dari Agus Mustofa

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s