EKSPEDISI SUNGAI NIL (3)

~ Matahari Masuk Kuil, 2 Hari dalam Setahun ~

by Agus Mustofa on Friday, August 13, 2010 at 2:42pm

Memasuki halaman kompleks Abu Simbel, kami dibuat berdecak. Di depan kami, persis menghadap ke Danau Nasser, Sungai Nil, berdiri kokoh dua buah kuil yang megah setinggi lebih dari 30 meter. Meskipun bangunannya sudah tidak utuh lagi, karena berusia lebih dari 3000 tahun, reruntuhan tempat ibadah rakyat Mesir kuno itu masih menyisakan kemegahannya.

Bukan hanya kuilnya yang membuat orang kagum, tetapi juga patung-patung raksasa yang menempel di wajah kuil itu. Ada 10 patung dengan tinggi sekitar 20 meter, yang berjejer di dua buah kuil. Yang sebelah kiri adalah 4 buah patung Ramses II beserta dewa matahari. Sedangkan yang sebelah kanan adalah 6 buah patung Ramses beserta istrinya, Nafertari, bersama Hathor sang Dewi Cinta.

Kuil sebelah kiri adalah kuil tempat peribadatan masyarakat Mesir kuno yang dipersembahkan untuk sang Fir’aun. Berada di depan kuil itu kita merasa kerdil. Rupanya, itulah memang yang diinginkan oleh Fir’aun. Agar siapa saja yang melihat patungnya merasakan betapa digdayanya dia. Sehingga pantas untuk disembah dan ditakuti, oleh kawan maupun lawan.

Dan ini ada kaitannya pula dengan letak Kuil Abu Simbel yang berada di tepi sungai Nil. Di zaman itu sungai Nil adalah lalulintas utama masyarakat Afrika. Fir’aun ‘menggertak’ siapa saja yang datang ke negerinya dengan ucapan ‘Selamat datang’ yang menggetarkan. Ya, Abu Simbel adalah kawasan terdepan Mesir bagi mereka yang datang dari arah selatan Afrika.

Mengenakan mahkota bertumpuk dua, empat patung Fir’aun yang menghadap sungai Nil itu mengapit pintu masuk ke dalam kuil. Mahkota bertumpuk dua menjadi lambang penyatuan kekuasaan antara Mesir Utara dan Mesir Selatan yang digenggamnya, setelah dinasti-dinasti sebelumnya terpecah. Ramses II adalah dinasti ke 19, yang hidup di abad 13 SM. Secara keseluruhan, para Fir’aun menguasai kerajaan Mesir selama 30 dinasti. Yaitu sejak sekitar 3200 tahun sebelum masehi sampai sekitar 332 tahun sebelum Masehi.

Memasuki serambi kuil, kita disambut oleh pahatan di sepanjang dinding-dindingnya dengan berbagai goresan huruf Hieroglyph. Di dinding itulah Fir’aun membuat provokasi-provokasi untuk menakut-nakuti siapa saja yang berani melawannya. Diantaranya, kita bisa melihat gambar serombongan tawanan perang yang diikat lehernya dengan tali, sambil berbaris. Dan salah satunya dijambak rambutnya oleh Fir’aun sambil dipukuli dengan tongkatnya. Rupanya, ia ingin menampilkan kekuasaan yang tidak terkalahkan. Dan, mengancam siapa saja yang berani melawan kekuasaannya.

Memasuki bagian dalam, patung-patung raksasa Fir’aun mengepung para pendatang, dengan berdiri tegak menempel pada pilar-pilar utamanya. Sekali lagi, penguasa Mesir kuno itu ‘menggertak’ para peziarah. Namun, sekaligus menunjukkan dirinya sebagai orang yang alim beribadah. Karena, di dinding-dinding bagian dalam itu ia juga menunjukkan kedekatannya dengan para dewa Mesir kuno. Ia tampak sedang melakukan ritual-ritual peribadatan kepada para dewa yang disembah masyarakat.

Dan yang menarik, di ruangan terdalam, Fir’aun menampilkan patungnya sebagai sesembahan para peziarah. Disini ada empat patung yang duduk berdampingan, salah satunya adalah Fir’aun. Sedangkan lainnya adalah para dewa utama dalam agama Mesir kuno yaitu, Ra Harakhty sang dewa matahari, Ptah sang dewa pencipta dan Amun sang dewa perang. Ruangan ini menjadi tempat pemujaan utama.

Dan lebih menarik lagi, ruang ibadah utama itu didesain sedemikian rupa, sehingga sinar matahari bisa menerangi ruang pemujaan itu hanya 2 hari dalam setahun. Sinar matahari tepat jatuh di patung sang Fir’aun bersama para dewa utama lewat pintu kuil yang menghadap ke timur. Yaitu, pada tanggal 22 Februari dan 22Oktober. Itulah tanggal kelahiran dan tanggal dilantiknya Ramses II sebagai raja Mesir.

Sayangnya, di tahun 1960-an UNESCO memindahkan posisi kuil itu lebih tinggi 65 meter dan mundur 210 meter untuk menghindari air sungai Nil yang meninggi akibat dibangunnya bendungan Aswan. Sehingga, tanggal masuknya sinar matahari kedalam kuil itu bergeser sehari, menjadi tanggal 21 Februari dan 21 Oktober. Kalau itu terjadi saat Fir’aun masih hidup, mungkin para arsiteknya sudah dihukum mati..!

~ Fir’aun, Mengaku Anak Dewa Matahari ~

Kata ‘Fir’aun’ bermakna ‘Raja’. Jadi ia bukan nama orang, melainkan ‘nama jabatan’. Ada puluhan Fir’aun yang berkuasa di Mesir sejak sekitar 3000 tahun sebelum Masehi hingga keruntuhannya di tangan Kerajaan Parsi pada tahun 343 SM. Dan setelah itu, jatuh ke tangan Iskandar Agung dari Yunani, pada tahun 332 SM, dengan ibukota Alexandria.

Setiap Fir’aun memiliki dua nama. Yang pertama adalah nama asli saat ia dilahirkan. Dan yang kedua adalah nama gelar setelah dilantik menjadi Fir’aun. Ramses II adalah nama gelar. Ramses, dalam bahasa Mesir Kuno terdiri dari dua kata, yaitu ‘Ra’ yang berarti Dewa Matahari, dan Mses yang bermakna ‘dilahirkan oleh’. Jadi, Ramses bermakna ‘anak Dewa Matahari’. Di zaman Ramses II inilah lahir seorang Rasul utusan Allah yang kemudian menjadi musuh utamanya, yaitu:Nabi Musa.

Al Qur’an menyindir dan mengritik kecongkakan Fir’aun dalam sejumlah ayat yang menggambarkan pertentangannya dengan nabi Musa. Fir’aun berkata:”Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akanmenjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. [QS. 26: 29]. (Fir’aun) menegaskan: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. [QS.79: 24]

Maka, untuk menegaskan klaimnya sebagai Tuhan masyarakat Mesir itu, para Fir’aun selalu menggunakan nama dewa dalam gelarnya. Misalnya, Merneptah. Kata ‘Ptah’ adalah nama sesembahan yang menunjuk kepada ‘dewa pencipta, dewa keindahan dan kesuburan’.

Masyarakat Mesir kuno memang masyarakat yang beragama pagan, dan menyembah dewa-dewa dalam jumlah banyak, terkait dengan alam. Ada dewa langit, dewa angin, dewa kematian, dewa air, dewa laut, dewa gunung, dewa api, dewa udara, dan lain sebagainya. Jumlahnya ada sekitar 90 dewa. Yang diakui paling hebat dari semua dewa itu adalah dewa matahari. Maka, Ramses II pun menggunakan kata ‘Ra’ untuk nama depannya, sebagai penegas bagi rakyatnya bahwa dia adalah tuhan terhebat yang harus diagungkan, diantara tuhan-tuhan yang berjumlah puluhan..!

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s