EKSPEDISI SUNGAI NIL (5)

by Agus Mustofa on Sunday, August 15, 2010 at 6:58pm

~ Batu Granit Piramida Dikirim dari Aswan ~

Hari kedua di kota Aswan saya memanfaatkan untuk menelusuri tambang batu granit. Saya penasaran, karena menurut catatan sejarah, sejumlah situs bersejarah menggunakan batu granit Aswan sebagai pelapis bangunan pentingnya. Diantaranya adalah Chamber of The King alias ruang mumi Fir’aun yang ada di Piramida, Giza.

Saya sempatkan untuk menelusuri tepian sungai Nil dengan perahu Nubia. Ternyata benar, di sepanjang tepian sungai Nil itu banyak terdapat bukit-bukit granit merah keabu-abuan. Setelah itu, saya naik mobil untuk menyusuri perbukitan di sekitar Aswan. Lagi-lagi, saya menemukan sejumah kawasan yang mengandung batu granit merah dengan kualitas tinggi.

Bahkan salah satunya terdapat di tengah kota Aswan. Di suatu tempat yang dikenal dengan nama Unfinished Obelisk. Kawasan itu dinamakan demikian, karena disana ada sebuah tugu peninggalan sejarah yang unik, dari zaman Fir’aun perempuan bernama Hatshepsut abad 15 SM.Tugu utuh sepanjang sekitar 30 meter itu masih melekat di bukit granit. Tidak bisa dipindahkan, karena bagian bawahnya memang belum dipotong dari tambangnya.

Granit Aswan disukai oleh para Fir’aun untuk melapisi bagian tertentu dari Piramida, agar bisa bertahan ribuan tahun. Sebab, sebagian besar bebatuan Piramida itu memang dibangun dari batu kapur yang tidak sekeras granit. Sehingga lebih mudah lapuk termakan usia. Sedangkan granit dengan kepadatan yang lebih tinggi memiliki kekerasan dan daya tahan yang lebih lama, serta memberikan hawa sejuk ke dalam ruangan.

Hanya saja, yang masih membuat penasaran para peneliti peradaban Mesir kuno adalah tentang bagaimana para pekerja di zaman itu membawa bongkahan-bongkahan granit yang berukuran besar dari Aswan ke Giza. Karena, bagian atas Chamber of The King itu ternyata terbuat dari batu granit utuh seberat 50 ton. Selain itu, juga tergambar dalam lukisan papirus, mereka membawa obelisk berukuran puluhan meter dalam keadaan utuh dengan perahu menuju muara sungai Nil. Sehingga didaerah Alexandria ditemukan lokasi obelisk seperti yang tergambar dalam lukisan-lukisan itu.

Berdasarkan catatan dan lukisan pada kertas papirus, memang disimpulkan bahwa batu-batu dari Aswan dibawa ke Giza yang berjarak lebih dari 900 km, dengan menggunakan perahu. Mereka memanfaatkan sungai Nil sebagai jalur transportasinya. Tetapi, perahu sebesar apakah yang mampu mengangkut batu seberat itu? Bagaimana pula teknis loading-nya supaya perahu tidak tenggelam? Dan bagaimana caranya, agar batu itu bisa sampai ke kompleks Piramida Giza, bahkan dinaikkan ke bagian atas piramida pada ketinggian sekitar 100 meter dari atas tanah?

Sebagian pertanyaan itu kini mulai terjawab. Di sebelah Piramida Giza ditemukan ada sebuah perahu yang dikenal sebagai Solar Barque alias Perahu Matahari. Perahu ini dipercaya sebagai alat angkut batu-batu Piramida.Tetapi, menurut perkiraan para ahli, perahu matahari itu hanya memiliki kemampuan angkut sekitar 30 ton saja. Jadi, bagaimana bisa mengangkut yang 50 ton?

Seorang ilmuwan Jerman, Franz Lohner, memberikan gambaran, sangat boleh jadi batu bertonase tinggi itu dimuat oleh dua buah perahu yang bergerak secara paralel dengan dihubungkan papan pengangkut batu di bagian tengahnya. Jadi, dua buah perahu itu seperti menjadi ‘pemikul’ di kanan kiri batu. Dengan cara ini, bobot 50 ton menjadi terbagi separonya pada setiap perahu.

Selain itu, saat bongkar muatnya juga menjadi lebih rasional. Dan tidak membuat perahu oleng atau pun tenggelam. Karena batu granit tersebut up-loaded dari arah depan perahu langsung ke arah papan pengangkut, dengan menggunakan papan miring yang diberi gelondongan kayu sebagai roller-nya. Begitu juga sebaliknya, ketika down-loaded.

Setelah itu, 2 perahu pemikul ditarik oleh perahu lain yang ada didepannya, mengikuti aliran sungai Nil menuju ke kawasan Giza. Untuk menempuh jarak 900 km itu, perahu membutuhkan waktu sebulan, karena kecepatan aliran sungai Nil hanya sekitar 30 km per hari.

Masyarakat Mesir kuno ternyata tidak asing dengan ilmu-ilmu fisika dan matematika terkait dengan konstruksi bangunan. Bahkan mereka termasuk ahli di dalam bidang ini. Sehingga bisa membuat bangunan-bangunan yang megah dan menakjubkan seperti Istana Fir’aun dan berbagai Piramida tempat ia dimakamkan, yang bisa bertahan selama ribuan tahun. Mereka memanfaatkan hukum alam yang telah tersedia di sekitarnya dengan sangat cerdas dan cerdik.

Maka, sesampai di kawasan Giza, perahu pengangkut bebatuan granit itu dibelokkan lewat kanal-kanal menuju depan kompleks Piramida, dengan cara ditarik oleh ratusan orang. Dugaan itu menjadi rasional, karena ternyata antara sungai Nil dan kompleks Piramida itu memang ada kanal tua, yang disebut sebagai Kanal Memphis. Dan, ujungnya berada di sebelah patung Spinx, singa berkepala manusia, di dekat Piramida Cheops..!

~ Pelajaran bagi Orang yang Berakal ~

Alam diciptakan Allah denganSunnatullah yang sempurna. Siapa saja yang memperlajari hukum alam dengan baik, dia akan memperoleh kemudahan dalam hidupnya. Karena, berbagai fasilitas sudah disediakan oleh Sang Pencipta. Manusia tidak pernah menciptakan apa pun yang ada di alam. Kita tinggal memanfaatkan belaka.

Gaya angkat air yang menyebabkan kapal bisa mengapung di sungai atau pun lautan, gaya angkat udara yang menyebabkan pesawat bisa terbang, gaya gravitasi Bumi yang menyebabkan benda jatuh ke bawah, gaya magnet, gaya listrik, sampai gaya nuklir yang menyatukan partikel-partikel di tingkat inti atom, semuanya adalah hukum alam yang diciptakan oleh Sang Penguasa. Hanya manusia yang berakal yang bisa mengambil pelajaran dari semua itu. Entah dia beragama atau pun tidak. Karena sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Pemurah kepada siapa saja.

Karena itu dalam berbagai firman-Nya, Allah menyadarkan peran Tuhan dalam kehidupan manusia. ”Tuhanmu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu.[QS.17:66]. Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? [QS. 54: 15].

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s