EKSPEDISI SUNGAI NIL (6)

by Agus Mustofa on Monday, August 16, 2010 at 2:13pm

~ Masjid Abu Al Haggag Berdiri di Atas Kuil Fir’aun ~

Meskipun belum puas berada di kota Aswan yang indah, kami harus segera turun gunung menuju Luxor. Ini adalah ‘Mekahnya’ masyarakat Mesir Kuno, sekaligus pusat pemerintahan para Fir’aun di zaman New Kingdom. Jaraknya sekitar 210 km dari kota Aswan ke arah utara. Kami menempuhnya selama 3 jam perjalanan darat dengan menggunakan mobil, menyusuri tepi timur Sungai Nil, melewati kota-kota Kom Ombo, Edfu, dan Esna.

Memasuki kota Luxor yang indah, kami langsung menuju ke Luxor Temple. Sebuah kuil yang menjadi salah satu pusat peribadatan agama Mesir waktu itu. Bangunan yang megah itu sudah tidak utuh lagi. Tetapi pilar-pilarnya yang kokoh masih berdiri tegak menyanggah reruntuhan atap bangunannya.

Yang saya merasa aneh, di antara reruntuhan kuil itu berdiri sebuah masjid yang indah. Dan unik. Pilar-pilarnya menjadi satu dengan pilar kuil, tetapi masjid itu berdiri di bagian bekas atap kuil Luxor. Itulah masjid Abu al Haggag, seorang Sufi abad pertengahan yang hidup di zaman Bani Abbasiyah.  Dia yang hidup di abad 12 M itu berasal dari Baghdad, Iraq dan kemudian menetap di daerah bekas ibukota Mesir kuno untuk menyebarkan Islam.

Rasa penasaran saya berkurang setelah berkeliling masjid. Ternyata, masjid ini didirikan secara ‘tidak sengaja’ pada posisi atap kuil. Awalnya, kuil Luxor sudah terpendam karena runtuh ribuan tahun yang silam. Semakin lama, badan kuil itu semakin dalam terpendamnya. Dan, yang kelihatan hanyalah ujung-ujung tiang yang kokoh, mencuat di permukaan tanah.

Sang Sufi lantas memanfaatkan tiang-tiang itu untuk membangun masjidnya, tanpa membongkar sisa-sisa kuil yang memang sangat megah. Bahkan, ornamen-ornamen yang melukiskan para dewa pagan di zaman Mesir kuno pun masih utuh. Termasuk huruf-huruf Hieroglyph yang merekam sejarah masa lampau. Juga, gambar para Fir’aun yang memang lazim dipahatkan didinding-dinding kuil, di ruang peribadatan mereka.

Ketika pemerintah Mesir melakukan penggalian kembali situs bersejarah itu, di tahun 1885 M, barulah ketahuan bahwa masjid Abu al Haggag sebenarnya berdiri di atas reruntuhan kuil Fir’aun. Namun pemerintah Mesir memutuskan untuk membiarkan saja bangunan masjid di atas kuil itu, karena justru menjadi daya tarik yang sangat unik bagi para peziarah. Bahkan, kemudian memperbaikinya menjadi lebih bagus.

Sekarang, kalau kita melihat keluar dari dalam masjid ke arah belakang lewat jendela, kita menjadi tahu bahwa di bawah masjid itu ada kuil besar peninggalan Fir’aun. Disana kelihatan pilar-pilar yang kokoh yang menyanggah ruang-ruang peribadatan yang luas. Masjid ini berada belasan meter di atas lantai dasar kuil. Akan tetapi, karena pintu masuknya dari arah yang berbeda, maka pintu utama masjid bisa diakses dari halamannya lewat anak tangga seperti lazimnya.

Yang menarik, Syekh Abu al Haggag tidak memusnahkan sisa-sisa peninggalan kuil itu. Bahkan memanfaatkannya. Selain membiarkan pilar-pilarnya untuk menyangga bagunan masjid, sang Sufi membuat ruang imam shalat dengan cara mencekunginya. Jadi, tempat imam memimpin shalat itu berada di cekukan pilar raksasa. Disisinya, ia lantas menempatkan mimbar utama untuk tempat berkhutbah.

Selain itu, jika kita melihat kebagian atas mimbar, kita akan menyaksikan guratan-guratan huruf Hieroglyph beserta gambar-gambar para fir’aun dengan dewa-dewa pagannya. Jadi, terasa aneh dan unik. Karena, biasanya di dalam masjid tidak boleh ada gambar, patung, atau apalagi dewa-dewa. Namun, semua itu malah bertempat di atas imam yang memimpin shalat. Luar biasa..!

Bukannya dimusnahkan, bagian tersebut kini malah diekspose dengan cara memberikan bingkai kaca, dan diberi lampu. Orang-orang yang shalat di sana sudah terbiasa dengan hal itu. Dan tidak mempermasalahkannya. Atau, takut dianggap menyembah dewa-dewa pagan, misalnya. Mereka, para penganut tasawuf itu, tahu persis bahwa mereka tidak menyembah para dewa. Shalat mereka adalah untuk mengagungkan Tuhannya, Allah SWT, Sang Penguasa yang meliputi alam semesta..!

* * *

Melihat masjid Abu al Haggag yang unik, saya jadi teringat pada pertanyaan seseorang, tentang kenapa umat Islam shalat menghadap ke Ka’bah. Seakan-akan umat Islam menyembah bangunan batu berbentuk kubus hitam itu. Apalagi, ada yang lantas menganggap Allah berada di dalam Ka’bah, karena umat Islam menyebut Ka’bah dengan sebutan Baitullah – Rumah Allah. Tentu saja, pertanyaan seperti ini menunjukkan orang itu tidak mengerti konsep ketuhanan di dalam Islam.

Tidak hanya orang-orang yang di luar Islam, yang sudah beragama Islam puluhan tahun pun kadang-kadang tidak paham tentang hal ini. Sehingga, ketika beribadah haji, sebagian mereka merasa lebih dekat kepada Allah karena berada di dekat Ka’bah. Karenanya, seorang kawan saya bertanya: ”lho, apakah kalau kita berada di Indonesia, itu sama artinya kita kalah dekat terhadap Allah, dibandingkan dengan orang-orang Arab yang tinggal disekitar Mekah?”

Tentu saja, menjadi lucu pemahamannya. Karena sesungguhnya itu hanyalah distorsi pemahaman dari mereka yang tidak memahami konsep tauhid seperti diajarkan oleh al Qur’an. Mereka terbawa tradisi dan ajaran yang simpang siur dari mulut ke mulut saja. Maka, dengan tegasnya al Qur’an mengatakan bahwa Allah itu tidak menempati ruang alam semesta, melainkan justru alam semesta inilah yang berada di dalam Zat-Nya yang Maha Besar.

Bukan Tuhan yang berada di dalam surga, melainkan surga yang berada di dalam Tuhan. Bukan Tuhan yang berada di dalam alam Akhirat, melainkan Akhirat itulah yang berada di dalam kebesaran Diri-Nya. Apalagi, Ka’bah. Bukan Allah yang berada di dalam Ka’bah, tetapi Ka’bah itulah yang berada di dalam Allah.

Karena itu, kata Allah di dalam al Qur’an, seluruh langit dan bumi ini adalah milik-Nya semata. Dan adalah Diri-Nya meliputi seluruh alam semesta. Dia berada dimana saja bersama kita, bukan karena Dia berjumlah banyak, melainkan karena Dia Maha Besar meliputi segala yang ada. ” Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.”[QS.4: 126]

Jadi, tidak heran jika sang Sufi Abu al Haggag dengan mantapnya meyakini, bahwa gambar-gambar dewa dan ornamen Mesir kuno yang ada di atas mihrab itu, tidak bisa sedikit pun memengaruhi kekhusyukan shalatnya. Karena, sesungguhnya Allah sedang bersama siapa saja yang menghunjamkan perasaan ihsan dalam ibadahnya, yaitu merasakan kebersamaan dengan Sang Pencipta dalam seluruh kesadarannya..!

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s