EKSPEDISI SUNGAI NIL (7)

by Agus Mustofa on Tuesday, August 17, 2010 at 2:12pm

­~ Kemegahan Fir’aun di Luxor pun Runtuh ~

Selain mengunjungi Luxor Temple, saya mengunjungi Karnak Temple. Inilah kuil terbesar di zaman Mesir Kuno, selama berabad-abad. Kuil Karnak, bersama kuil Luxor menjadi pusat peribadatan masyarakat Mesir di zaman Fir’aun. Ibaratnya, sama dengan masjid al Haram dan masjid Nabawi bagi umat Islam. Disinilah, para penganut agama pagan mengadakan festival tahunan yang sangat meriah, yang disebut sebagai festival Opet. Saya mencoba menelusurinya dengan berkendara kereta kuda, atau yang dikenal masyarakat Mesir dengan sebutan Hantour.

Jarak antara kuil Luxor dan kuil Karnak sekitar 3 kilometer. Karnak di utara, dan Luxor di selatan. Kedua tempat itu menjadi rute arak-arakan sambil membawa patung dewa matahari, Amun Ra. Amun adalah dewa perang yang gagah perkasa, sedangkan Ra adalah dewa matahari. Maka, dalam mitologi Mesir Kuno, Amun Ra adalah Raja Dewa Matahari. Atau, rajanya para tuhan – King of Gods.

Sang Amun Ra diusung di atas sebuah replika kapal bersama istrinya Mut, dan anaknya, Khons. Mereka menjadi Trinitas di agama Mesir Kuno, yang kemudian diadaptasi oleh sejumlah agama sesudahnya. Keramaian festival tahunan itu diabadikan di dinding-dinding kuil Luxor, selatan Karnak. Diantaranya, ada sejumlah artis yang sedang terlihat melakukan akrobat dalam irama pukulan genderang.

Memasuki kuil Karnak kita merasa kecil. Kompleknya yang sangat luas, berukuran 1,5 kilometer kali 800 meter, bisa menampung peziarah sebanyak 80 ribu orang. Dari kejauhan sudah tampak pintu gerbangnya yang megah. Jauh lebih megah dibandingkan dengan Kuil Abu Simbel. Pilar-pilarnya yang besar berjumlah 134 buah menjulang tinggi ke angkasa.

Memasuki halaman depan kuil, kita disambut oleh deretan patung domba berbadan Singa. Bentuknya mirip patung spinx~ singa berkepala manusia ~ di piramida Giza. Tetapi berjumlah puluhan, berjejer di kanan kiri jalan utama menuju pintu gerbangnya. Cukup terasa kolosalnya. Kawasan ini disebut sebagai Thariqul Kibasy alias JalanDomba.

Di ujung Jalan Domba ini kita sampai ke pintu gerbang utama. Pintu gerbangnya adalah gapura yang menjulang tinggi puluhan meter di kanan kiri jalan utama. Semacam gapura selamat datangnya propinsi Jawa Timur atau Bali. Bedanya, gapura ini penuh dengan ornamen-ornamen khas Mesir kuno, dan huruf-huruf Hieroglyph yang bercerita sejarah masa lampau. Warnanya coklat tanah, khas kawasan padang pasir.

Melewati gapura raksasa, kita segera sampai di lorong pilar-pilar yang juga raksasa. Ratusan pilar yang diameternya lebih besar dari pelukan tiga orang dewasa itu menjadikan kita seperti berada dalam hutan tiang-tiang beton. Berdecak-decak kita dibuatnya, sambil membayangkan betapa hebatnya para arsitek yang membangunnya.

Lorong ‘hutan pilar’ itu kira-kira sejauh 100 meter, dan berhenti di sebuah lapangan luas untuk menggelar berbagai acara ibadah. Di sebelah kirinya ada kolam penyucian. Di sebelahnya lagi adalah ruang-ruang para pendeta, yang konon berjumlah ribuan orang dan tinggal di kuil itu juga.

Bangunan kuil raksasa ini memiliki ruang-ruang yang banyak dan luas. Menurut catatan sejarah, itu adalah perluasan-perluasan yang dilakukan oleh para Fir’aun sepanjang beberapa dinasti kekuasaannya, dalam rentang waktu 1500 tahun. Yakni, mulai abad 20 SM – 5 SM. Kemegahan kuil Karnak juga terlihat dari namanya dalam bahasa Mesir kuno: Ipet-Isut, yang berarti Tempat Paling Sempurna.

Kuil yang menjadi pusat peribadatan agama pagan selama beberapa abad itu menjadikan Dewa Matahari sebagai Tuhan tertingginya. Meskipun, mereka juga menyembah dewa-dewa yang lebih kecil kekuasaannya. Karena itu, kota Luxor dikenal sebagai tempat bersemayamnya Amun Ra. Luxor yang berasal dari bahasa Arab al Aqshar – berarti ‘Istana-istana Raja’ itu – memang identik dengan Amun Ra. Sedangkan nama asli kotaLuxor dalam bahasa Mesir kuno adalah Thebes.

Dibandingkan kuil Abu Simbel, kuil Karnak jauh lebih megah dan lebih luas. Karena, kuil Abu Simbel memang dipersembahkan hanya untuk satu Fir’aun, yaitu Ramses II beserta istrinya. Sedangkan kuil Karnak dan Luxor dipersembahkan kepada sekian banyak Fir’aun yang berkuasa selama beberapa abad di era New Kingdom. Setiap Fir’aun yang sedang berkuasa selalu memberikan sentuhan untuk menambah dan mempercantiknya, sehingga semakin lama semakin besar dan megah. Apalagi kedua kuil itu berada di ibukota kerajaan.

Sedemikian megah kuil dan kerajaan Fir’aun, akhirnya tak tahan juga melawan waktu. Kuil yang mulai dibangun pada abad 20 SM itu akhirnya runtuh seiring dengan jatuhnya kerajaan Mesir ke tangan orang-orang asing yang menjajahnya. Diantaranya adalah bangsa Libya, kemudian suku Nubia, Parsi, dan akhirnya bangsa Yunani yang dipimpin oleh Alexander The Great, atau Iskandar Zulkarnaen. Di bawah pemerintahan orang Yunani inilah ibukota Mesir, Luxor, dipindahkan ke Alexandria di tepi laut Mediterania sampai 1000 tahun kemudian. Nama kota Alexandria sendiri diambil dari nama Alexander The Great. Atau, kita kenal juga sebagai Iskandariyah, yang diambil dari nama Iskandar Zulkarnaen.

* * *

Menyaksikan reruntuhan kuil Karnak dan Luxor, saya seperti sedang menonton film dokumenter tentang runtuhnya kekuasaan para Fir’aun yang berjaya selama berabad-abad. Sebuah simbol kekuasaan dan ambisi tanpa batas yang membuat mereka lupa, sehingga sampai mengangkat dirinya sebagai tuhan bagi sesama. Dimulai dari Memphis sebagai ibukota Old Kingdom, kemudian pindah ke Luxor yang menjadi ibukota New Kingdom, dan lantas pindah ke Alexandria di zaman Yunani dan Romawi.

Sejarah mencatat kisah mereka sebagai pelajaran besar bagi umat manusia. Sebuah mercusuar yang menjulang tinggi diantara mercusuar-mercusuar lain dalam sejarah peradaban. Pemain sejarah yang menonjol selain Mesir, adalah Kerajaan Parsi, Yunani, Romawi dan Kekhalifahan Islam. Sang Pencipta mempergilirkan kekuasaan itu kepada bangsa-bangsa yang berbeda untuk menggerakkan drama kehidupan manusia. Yang demikian ini diabadikan dalam ayat-ayat-Nya di dalam al Qur’an.

”Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pilar-pilar yang megah, yang berbuat sewenang-wenang di dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan di dalam negeri itu. [QS. 89: 10-12]. …dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. [QS. 6: 6]. Dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang (hidup di zaman) kemudian. [QS. 43: 56].

Maka, nilai seorang manusia dan bangsa adalah terletak kepada kemanfaatnnya dalam membangun peradaban yang mulia. Yang memanusiakan manusia, dan menghargai sesama dalam kebersamaan sebagai makhluk Tuhan yang Maha Adil dalam Kekuasaan-Nya. Bukan pada kepongahan untuk merendahkan siapa saja, dan mengangkat diri sedemikian tingginya. Toh akhirnya, terbukti runtuh juga ..!

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s