EKSPEDISI SUNGAI NIL (8)

by Agus Mustofa on Wednesday, August 18, 2010 at 6:06pm

~ Lembah Raja, Diincar Pemburu Harta Fir’aun ~

Persis di depan penginapan saya, di seberang sungai Nil, ada sebuah lembah yang dikelilingi gunung dan bukit-bukit berbentuk mirip piramida. Kawasan bebatuan yang tandus itu terletak di tepian barat sungai Nil yang airnya mengalir tenang. Disanalah jenazah 62 Fir’aun dan keluarganya dikuburkan, khususnya dari era New Kingdom yang beribukota di Luxor, abad 15 – 10 SM.

Beberapa nama terkenal ada di kompleks pemakaman itu, diantaranya adalah jenazah Thutmosis, Amenhotep, Ramses dan Tutankhamun yang muminya masih utuh serta bisa disaksikan hingga sekarang. Jenazah Tutankhamun ada di lokasi makam, sedangkan Ramses II sudah dipindahkan ke museum Kairo. Beribu-ribu koleksi peninggalan sejarah Mesir yang tersebar di seluruh dunia ternyata berasal dari Valley of The King ini.

Untuk berziarah ke makam para raja itu kita bisa melalui 3 jalan. Dengan menggunakan mobil pribadi melewati jalan yang agak memutar. Dengan Perahu layar bisa langsung dari depan penginapan. Dan menggunakan balon udara ikut program yang disediakan pihak hotel. Kami memilih menggunakan mobil saja, agar bisa leluasa melakukan eksplorasi ke situs-situs lainnya di kota Luxor.

Dalam waktu 40 menit, kami sampai di pintu gerbang Valley of The King. Disini kami mengabadikan perbukitan yang menjadi kompleks pemakaman itu, karena ternyata di dalam tidak boleh melakukan pemotretan. Kami yang sembunyi-sembunyi memotret, hampir saja kena denda 1000 USD untuk setiap gambar yang diambil. Dan petugasnya memerintahkan menghapus file-file di dalam kamera. Maka, kami pun mengambil foto dari seberang sungai Nil, dari dermaga perahu layar.

Lokasi lembah para raja dipilih oleh Fir’aun Thutmosis 1 yang berkuasa di tahun 1528 – 1510 SM. Dan kemudian diikuti oleh raja-raja sesudahnya. Dalam mitologi Mesir kuno, jenazah para mumi akan memasuki alam keabadian jika mereka dikuburkan di bawah bangunan berbentuk Piramida. Karena itu, meskipun mereka tidak membangun Piramida seperti di zaman Old Kingdom yang beribukota di Memphis, mereka menerapkan filosofi yang sama, yaitu memilih perbukitan batu yang berbentuk Piramida sebagai makamnya.

Makam, dalam tradisi para penyembah matahari, selalu ditempatkan di tepi barat sungai Nil. Ini menjadi simbol pertemuan mereka dengan sang dewa matahari ~ Amun Ra ~ di tempat tenggelamnya, di ufuk barat. Karena itu, di dinding-dinding lorong makam itu dipahatkan sebentuk cerita, bahwa orang yang mati akan bertemu dengan dewa matahari setelah berlayar menggunakan perahu menuju alam keabadian.

Dalam gambar-gambar itu disimbolkan adanya dua belas pintu dengan para penjaganya yang memeriksa mereka dalam gelap malam. Kenapa jumlahnya ada duabelas pintu? Karena malam hari, menurut kisah itu ada 12 jam. Setelah melewati pintu-pintu itu, mereka berharap bertemu dengan dewa matahari, Amun Ra yang mereka sembah, saat matahari ‘terbit di esok hari’ di alam keabadian.

Pada saat meninggal, para Firaun selalu membawa bekal untuk ‘hidup’ di sana. Mulai dari makanan kesukaan, pakaian, perhiasan, kereta perjalanan, sampai perlengkapan rumah tangga seperti meja kursi dan lain sebagainya, yang menjadi ‘kebutuhannya’. Selain itu, juga dibuat patung-patung dirinya dalam ukuran sesungguhnya yang dipajang di dekat ruang penempatan jenazah. Patung itu dibuat dalam wajah yang masih muda sebagai simbol keabadian kehidupan mereka disana.

Semua perbekalan dan barang-barang berharga ditanam bersama dengan jenazah yang sudah dimumifikasi. Di dalam perut bukit itu dibuat lorong panjang yang menuju ke ruang penempatan mumi di bagian paling ujung. Di sepanjang lorong itulah dibuat ruang-ruang untuk menempatkan perbekalan. Dan di sepanjang dindingnya dipahatkan berbagai ornamen dan gambar yang mengisahkan sejarah hidup sang Firaun, sampai perjalanannya menuju alam keabadian. Cerita itu disebut sebagai ‘Kitab Kematian’.

Yang menarik, ketika ditemukan oleh para arkeolog, makam-makam di kawasan Lembah Raja itu ternyata sudah banyak yang kosong. Harta benda di dalamnya sudah lenyap, bahkan bersama muminya. Perut bukit-bukit berbentuk piramida itu sudah berlubang-lubang dibobol para pemburu harta Firaun. Ada yang berasal dari penduduk setempat, tetapi banyak juga yang berasal dari luar Mesir.

Selain harta berupa emas dan perhiasan, barang-barang bersejarah itu memiliki nilai yang sangat tinggi di tangan para kolektor. Apalagi muminya. Tidak heran, sebagian besar benda-benda bersejarahnya bertebaran di museum-museum luar negeri, diantaranya ada di British Museum (London), di Louvre Museum (Paris), di Turin Museum (Italy), dan di Berlin Museum (Jerman). Belum lagi yang berada di tangan kolektor-kolektor pribadi. Diperkirakan, yang beredar di luar Mesir lebih dari 1 juta barang peninggalan. Padahal, yang tersimpan di Museum Kairo hanya sekitar 200 ribu benda saja.

Sejak itu, Lembah Raja menjadi obyek wisata yang sangat menarik perhatian dunia. Dan ketika saya berkunjung ke sana, penjagaannya luar biasa ketatnya. Sehingga, tidak sebagaimana di situs-situs lainnya di Mesir, di kawasan ini pengunjung dilarang memotret. Mungkin takut masih ada harta para Fir’aun yang tersembunyi disana. Tidak heran, pemerintah lantas merekrut penjaga dari keluarga Ala’ Abdurrasul, yang dikenal sebagai pencuri andal kuburan-kuburan Fir’aun secara turun temurun di kawasan ini.

Namanya adalah Ali bin Ala’ Abdurrasul, yang saya temui di dalam makamTutankhamun. Sebuah strategi jitu yang dipilih oleh pemerintah Mesir, agar makam-makam itu tidak bisa dijarah lagi oleh para penggali kubur. Karena, tentu saja sulit bagi seorang pencuri, apalagi yang pemula, untuk mengelabui pakar pencuri yang kini menjadi penjaganya..!

* * *

Sehebat apa pun para Firaun ternyata mati juga. Dan sebanyak apa pun harta benda yang mereka bawa ke dalam kuburannya ternyata habis juga. Bukan karena mereka bawa ke alam keabadian, tetapi ludes di tangan para penggali kubur yang memang masih membutuhkan harta benda untuk membiaya hidupnya.

Manusia tidak membawa apa-apa ke alam kematian untuk bertemu Tuhannya. Mereka hanya membawa amal kebajikan dan karya-karya kemanusiaan yang diamanatkan kepadanya oleh Sang Pencipta. Karena sesungguhnya, hidup di dunia ini bukan sebuah kebetulan. Tetapi membawa sebuah misi untuk membangun tatanan kehidupan yang penuh rahmat bagi siapa saja, makhluk ciptaan-Nya. Setelah itu, kita semua bakal mati, untuk mempertanggungjawabkannya kepada Sang Sutradara. ”Kami (Allah) tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu, maka jikalau kamu mati, apakah mereka (juga) akan kekal abadi?” [QS.21: 34]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s