EKSPEDISI SUNGAI NIL (11)

by Agus Mustofa on Saturday, August 21, 2010 at 1:11pm

~ Hatshepsut, Firaun Wanita yang Menyaru Laki-Laki ~

Keluar dari Lembah Raja, kami memutuskan untuk mengunjungi satu situs lagi yang juga sangat menarik, yaitu Kuil Hatshepsut. Inilah kuil yang dibangun oleh seorang Firaun perempuan dalam era Kerajaan Mesir kuno di abad 15 SM. Lokasinya berada di balik bukit yang mengelilingi Lembah Raja. Sebenarnya, masih ada sejumlah situs menarik lainnya di Luxor, sayang esok hari kami harus segera melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Nil lebih ke utara lagi. Maka, ini adalah situs terakhir yang kami kunjungi di bekas ibukota New Kingdom itu.

Keluar dari Valley of The King, hari sudah menjelang sore. Karena itu kami agak tergesa-gesa menuju ke kuil Hatshepsut. Sebab, jika terlalu sore kami akan kehilangan momentum cahaya matahari untuk memotretnya. Ternyata, hal ini malah menyebabkan kami keliru jalan. Meskipun, hal itu justru membuat kami menemukan dua buah patung raksasa dari zaman Amenhotep III yang eksotik. Kedua patung yang sudah rusak wajahnya itu konon berada di pintu gerbang kuil yang dibangun oleh Amenhotep III, dari zaman Fir’aun tiga generasi setelah Hatshepsut. Situs itu kini sedang digali kembali.

Setelah mengambil gambar beberapa, kami pun menuju kuil Hatshepsut yang ternyata sudah tidak jauh lagi dari 2 patung Colossi of Memnon itu. Lokasinya benar-benar eksotik. Kuil yang pernah ditempati para biarawan Kristen di awal-awal tahun Masehi itu menempel di dinding tebing yang curam. Jadi, separo bangunannya dipahatkan ke bukit, dan separonya lagi disusun dari bebatuan kapur yang juga diambil dari bukit-bukit sekitarnya. Kalangan Kristen menyebut kuil ini sebagai Deir El Bahri, alias biara di pinggir sungai besar, yakni sungai Nil.

Halaman kuil ini demikian luas, sehingga untuk menuju pintu gerbangnya disediakan kereta ulang-alik seperti di Lembah Raja. Parkirannya bisa menampung ratusan mobil peziarah. Di pinggiran kawasan parkiran terdapat pokok-pokok kayu Myrh alias pohon kemenyan yang dulu di zaman Firaun berjajar rimbun. Pohon kemenyan ini didatangkan dari negeri Somalia yang dulu menjadi partner perdagangan Hatshepsut. Tetapi, kini pohon-pohon itu sudah tidak ada lagi, sehingga suasananya menjadi demikian terik.

Di bagian tengah lapangan luas ada jalan utama yang mengantarkan ke gedung kuil bertingkat 3. Di sepanjang jalan utama, terdapat bekas-bekas patung Singa berkepala domba sebagaimana terdapat di kuil Karnak. Menyusuri jalan ini, kita akan sampai ke jalanan naik untuk menuju ke lapangan yang lebih tinggi, yang juga luas. Semacam teras utama, sebelum memasuki kuil yang sesungguhnya.

Dari teras utama, untuk menuju kuil peribadatannya, harus naik satu tingkat lagi melewati jalan mendaki yang lebar. Tetapi, di pilar-pilar penyanggahnya, Hatshepsut sudah menempatkan berbagai ornamen yang menggambarkan dirinya sebagai anak Tuhan. Di sebelah kanan jalan utama, ada gambar seorang bayi yang baru dilahirkan oleh Dewi Neith, sang Dewi Perang. Rupanya, Hatshepsut ingin mencitrakan dirinya sebagai sosok wanita yang kuat, sehingga pantas menjadi Firaun.

Lebih ke kanan lagi, di bagian ujung, terdapat ruangan Anubis yang berisi gambar-gambar mural, berwarna-warni di dinding-dindingnya. Itu adalah cerita tentang Firaun Tuthmosis III yang sedang melakukan persembahan kepada dewa Matahari, Ra Harakhty.Tuthmosis III adalah anak tiri Hatshepsut, yang semestinya berhak atas kekuasaan kerajaan, tetapi direbut oleh Hatshepsut.

Suami Hatshepsut adalah Tuthmosis II. Ia beristri Neferu Ra sebagai permaisurinya, dan memiliki anak Tuthmosis III. Sedangkan Hatshepsut adalah selir. Ketika Tuthmosis II meninggal, otomatis kekuasaan kerajaan jatuh ke tangan Tuthmosis III. Ia pun dilantik menjadi Fir’aun pada tahun 1476 SM. Namun, saat itu ia masih kanak-kanak sehingga kerajaan dikendalikan oleh para menteri. Hatshepsut lantas merebut kekuasaan Tuthmosis III, dan dia menahbiskan dirinya sebagai Fir’aun yang berkuasa penuh selama 1473 – 1458 SM, atau sekitar 15 tahun. Sebelum akhirnya direbut kembali oleh Tuthmosis III, yang melanjutkan kekuasaan sampai ia meninggal di tahun 1425 SM.

Selama kekuasaannya, Hatshepsut mencitrakan dirinya sebagai Firaun laki-laki. Karena itu, patung-patung yang berada di kuil Hatshepsut menggambarkan dirinya mengenakan mahkota Firaun bertumpuk dua sebagaimana para Firaun laki-laki. Dan bahkan, patungnya diberi jenggot panjang. Tetapi, dengan bentuk badan yang feminin.

Di sebelah kiri kuil Hatshepsut terdapat dua kuil lainnya, yaitu kuil Tuthmosis III dan kuil Amenhotep II – Firaun yang berkuasa setelah Tuthmosis III. Sedangkan di bagian paling dalam, ruang peribadatan utama, terdapat patung dewa matahari Amun Ra. Secara keseluruhan ini adalah kompleks kuil tiga generasi Firaun, yakni: Hatshepsut,Tuthmosis III, dan Amenhotep II. Tetapi, yang masih tegak berdiri dengan kokoh dan paling utuh diantara ketiga kuil itu adalah kuil Hatshepsut.

Padahal, saat Tuthmosis III berkuasa kembali ia sempat menghancurkan peninggalan Hatshepsut. Karena dendam dikudeta, maka anak tiri Hatshepsutitu merusak patung-patung ibu tirinya. Tetapi para arkeolog berhasil menemukan kembali serpihan-serpihannya sehingga sejumlah patung Hatshepsut bisa direkonstruksi dengan cukup baik. Dan kini ditempatkan di lokasi aslinya di pilar-pilar bagian depan kuil sebagai Firaun wanita berjenggot yang menggenakan mahkota Firaun laki-laki.

Kekuasaan Firaun wanita ini berakhir dengan kematian yang misterius. Diperkirakan ia dibunuh oleh anak tiri yang dikudetanya, Tuthmosis III. Dan muminya sempat tidak teridentifikasi selama bertahun-tahun, ditempatkan di gudang Museum Mesir kuno di Kairo. Sampai akhirnya, terungkap kepastian bahwa itu memang adalah mumi Hatshepsut. Kini, muminya dipajang bersama dengan mumi-mumi Firaun lainnya, seperti Ramses II, Seti I, dan Firaun laki-laki lainnya. Tentu saja, mumi Hatshepsut itu kelihatan sebagai mumi perempuan, karena sudah tidak mengenakan mahkota double-crown lagi, dan tidak berjenggot seperti patung-patungnya..!

* * *

Perbuatan tidak baik, tidak akan pernah melahirkan kebaikan. Kejahatan berbalas kejahatan. Keserakahan akan berbalas keserakahan juga. Dan kekerasan pun akan berbalas kekerasan. Allah mengajarkan hukum alam yang telah diciptakan-Nya dengan adil ini kepada umat manusia. Barangsiapa berbuat baik maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat maka balasan atas kejahatan itu pun untuk dirinya sendiri; dan Allah tidak pernah menganiaya hamba-hamba(Nya). Demikianlah dijelaskan oleh-Nya dalam QS. 41: 46.

Bahkan secara tegas Allah juga mengatakan, bahwa rencana jahat tidak akan kemana-mana, kecuali akan kembali kepada yang melakukannya. ”Rencana jahat tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) hukum (Allah yang telah terjadi) kepada orang-orang yang terdahulu…” [QS. 35: 43]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s