EKSPEDISI SUNGAI NIL (12)

by Agus Mustofa on Sunday, August 22, 2010 at 10:09am

~ Ziarah ke Gua Persembunyian Isa dan Maryam ~

Akhirnya, saya benar-benar meninggalkan kota Luxor yang bertaburan situs besar dalam sejarah Mesir Kuno. Kami berangkat di pagi hari menuju ke kota Asyut yang berjarak sekitar 300 km ke arah lebih utara, dengan mengendarai mobil.

Menyusuri jalan sebelah timur sungai Nil lebih baik dibandingkan sebelah barat. Jalanan tepi barat adalah kawasan yang dikenal dengan nama Zira’i alias jalanan pedesaan dan kawasan pertanian. Sedangkan kawasan timur dikenal sebagai Sakhrawi alias jalanan padang pasir. Lewat Zira’i tidak bisa lancar, karena sering bertemu dengan perkampungan, pasar, dan iring-iringan kambing ataupun sapi. Sedangkan lewat Sakhrawi, jauh lebih lancar seperti lewat jalan tol, meskipun harus melewati kawasan padang pasir yang tandus.

Sekitar 4 jam perjalanan sampailah kami di kota Asyut. Sebuah kota yang bersih dan tenteram. Aliran sungai Nil yang tenang menambah ketentraman kota kecil ini. Tidak banyak situs Mesir kuno di kawasan ini, tetapi ada situs yang sangat menarik dari zaman Masehi. Yakni, tempat persinggahan nabi Isa dan Ibunya, Siti Maryam.

Sebelum ke penginapan, saya memutuskan untuk langsung berkunjung keperbukitan Jabbal Asyut, dimana Nabi bani Israil itu singgah bersama ibunya. Daerahnya, agak masuk ke dalam dari jalanan utama, sekitar 10 km. Kemudian berbelok menanjak ke atas bukit. Dari kejauhan lokasinya sudah kelihatan. Sebuah gua besar, yang kini sudah berubah menjadi sekelompok bangunan gereja: Deir Durunka. Disinilah salah satu pusat pengaderan biarawan Kristen Koptik untuk mengembangkan agamanya.

Beruntung, kami datang di bulan Agustus. Inilah saat-saat perayaan peringatan datangnya Isa dan Maryam ke tempat ini. Jadi, jamaah yang berziarah sedang ramai-ramainya. Menurut panitia perayaan, jumlah yang datang bisa mencapai 1 juta orang, dalam waktu 15 belas hari. Yaitu antara tanggal 7 – 22Agustus.

Memasuki halaman Biara Durunka saya mendengar suara puji-pujian dalam bahasa Arab, mirip orang Islam sedang mengaji, yang disiarkan lewat pengeras suara. Ingin tahu isinya, saya membeli buku pujian itu. Diantara isinya adalah sebagai berikut:

Ummuna yaa ‘adrak, yaa umm al masih,

Yalli fiiki daaiman biyikhlu almadiih

Quluubna bitikhibbik khubb ma lausy matsil

A’idzin nufadhdhol janbik wa naquulu taraatil

Ibunda kami sang perawan suci, wahai ibunda almasih

Yang ada pada dirimu selamanya, pantas mendapat puji-puji

Kami mencintaimu dengan sepenuh hati, cinta yang tak tertandingi

Kami ingin selalu berada di sampingmu dan menghaturkan puji-puji

Memasuki kawasan gua suci, kami didampingi oleh seorang biarawan bernama Abram. Dia mendampingi kami untuk melihat-lihat sampai ke dalam gua yang ternyata cukup besar, seluas ratusan meter persegi. Di tempat inilah dulu perawan suci Maryam dan putranya, nabi Isa, sempat bersembuyi dari kejaran Raja Herodes yang hendak membunuh mereka.

Gua di Jabbal Asyut ini menjadi persinggahan terakhir ibu dan anak dalam melakukan perjalanan sekitar 1000 km. Mereka berkelana selama sekitar 3 tahun, dimulai dari Palestina, menyeberang ke Mesir lewat Gaza dan Rafah, kemudian menyusur ke arah hulu sungai Nil ke arah selatan. Waktu itu Nabi Isa masih berumur beberapa bulan. Dengan naik keledai dan didampingi Yusuf, paman Maryam, mereka singgah di berbagai kota disepanjang sungai Nil. Diantaranya adalah Tal Basta, Sakha, Wadi el Natrun, Bahnassa, Smalot, Dairut, Jabbal Kuskam, dan terakhir di Jabbal Asyut.

Bersama biarawan yang bertubuh tinggi besar itu saya melihat-lihat isi gua yang kini menjadi tempat peribadatan umat kristen Koptik. Diantaranya, saya melihat dua buah ruangan yang pernah menjadi tempat tidur Maryam dan Isa. Yaitu, di pojok kanan dan kiri bagian paling dalam gua.

Disana banyak jamaah berkerumun untuk berdoa dan memohon berkah. Mereka berdoa sambil menghadap ke dalam ruangan yang diberi pintu teralis, yang di dalamnya ada foto Bunda Maryam dan nabi Isa dalam ukuran besar. Foto ibu dan anak itu, setiap perayaan tahunan begini selalu diarak keliling kota Asyut, dengan dinaikan kendaraan semacam kereta. Dan, dalam waktu yang bersamaan, umat kristen Koptik di sekitar Jabbal Asyut menggelar pasar malam dengan acara-acara yang meriah. Juga ada acara pembabtisan bayi dan anak-anak.

Penganut Kristen Koptik adalah umat yang menjalankan peribadatannya dengan memiliki sejumlah perbedaan dengan umat Kristiani pada umumnya. Mereka mengaku memperoleh syiar agamanya lewat orang-orang suci di zaman-zaman awal. Saya melihat foto Saint Markus dalam ukuran besar yang dipajang di dalam ruang gereja mereka. Ia adalah Orang yang dimuliakan sebagai pembawa ajaran Kristen abad awal ke Mesir.

Diantara perbedaan yang ada, ialah mereka menjalankan sembahyangnya 7 kali dalam sehari yang mereka sebut sebagai As Sab’u Shalawat (Shalat Tujuh Waktu). Lima waktu diantaranya mirip dengan yang dilakukan oleh umat Islam, yakni pagi hari jam 6, siang hari jam 12, sore hari jam 3, petang hari jam 6, dan menjelang tidur. Sedangkan yang dua waktu adalah, pagi jam 9 yang mirip shalat Dhuha, dan tengah malam yang mereka sebut sebagai Nisyfu al Lail, yang mirip shalat tahajud. Mereka juga memiliki puasa selama 40 hari menjelang perayaan Paskah. Dan, puncak perbedaan mereka dengan umat Kristiani pada umumnya adalah pada perayaan Natalnya. Mereka tidak menyelenggarakan Natal pada tanggal 25 Desember, melainkan pada tanggal 7 Januari.

* * *

Siti Maryam dan Nabi Isa adalah dua orang manusia yang sangat dimuliakan di dalam al Qur’an. Mereka menjalani penderitaan dengan penuh kesabaran sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, sang Ilahi Rabbi yang mengutusnya. Di zaman Raja Herodes yang beragama pagan seperti para Fir’aun, kedua ibu dan anak itu diancam dibunuh, karena dikhawatirkan akan melahirkan masalah bagi kerajaan Romawi.

Atas perintah Allah, kemudian mereka menyingkir jauh untuk sementara waktu. Dan kelak kembali kepada bani Israil, menyiarkan agama tauhid menentang agama-agama pagan yang dianut kebanyakan bangsa Romawi pada waktu itu. ”Dan telah Kami jadikan putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” [QS. 23: 50]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s