EKSPEDISI SUNGAI NIL (13)

by Agus Mustofa on Monday, August 23, 2010 at 2:31pm

~ Mencari Akhetaten, Sebuah Kota yang Hilang ~

Di kota Asyut kami hanya menginap semalam. Esok harinya kami meneruskan perjalanan lagi menuju kota berikutnya Minya, yang berjarak sekitar 150 km. Kami menempuhnya dalam waktu sekitar 3 jam, di bawah pengawalan polisi Asyut sampai di luar kota. Tentang pengawalan ini saya menyimpan tanda tanya.

Ternyata, kawasan Asyut terkenal dengan kelompok radikalnya. Sehingga, polisi tidak mau mengambil resiko, setiap rombongan turis selalu dikawal. Apalagi yang dianggap orang asing, dan tak menguasai lika-liku jalanan di sekitar kota Asyut. Pengawalan yang dilakukan secara estafet itu mengantarkan kami sampai benar-benar keluar dari kota Asyut. Dan, kami disarankan untuk menggunakan jalan Zira’i alias jalan pertanian saja, sehingga kalau ada apa-apa dengan kami, banyak yang bisa menolong.

Sebelum masuk ke kota Minya yang sepi, kami memutuskan untuk mencari sebuah situs yang jarang dikunjungi turis, yaitu sebuah kota yang hilang. Kota itu bernama Akhetaten. Inilah kota yang dulu pernah menjadi pusat kerajaan Mesir kuno selama 15 tahun (1352-1336 SM) setelah Luxor. Rajanya bernama Ikhnaton, ayah dari Tutankhamun yang muminya menghebohkan karena dibungkus 120 kg emas itu.

Ada cerita yang menarik di sekitar Firaun Ikhnaton ini sehingga ia memindahkan ibukota Luxor ke kota yang sama sekali baru, yang dinamainya Akhetaten. Ternyata, Firaun ke sepuluh dalam dinasty 18 itu berpindah agama, dari agama pagan yang menyembah matahari ke agama tauhid yang menyembah Tuhan yang Esa.

Ikhnaton terlahir dengan nama Amenhotep IV. Dia adalah anak dari Amenhotep III yang menyembah dewa matahari. Karena itu, namanya mengandung kata ‘amun’ atau ‘amen’ yang terkait dengan Amun Ra ~ sang dewa matahari. Dalam perjalanan spiritualnya, Amenhotep IV kemudian mengubah keyakinannya. Ia membelot dan berganti nama menjadi Ikhnaton, atau Akhenaten, yang bermakna Pelayan Tuhan yang Esa. Tuhannya bukan lagi Amun, melainkan Aton, Sang Pencipta matahari. Menurut beberapa kalangan, perpindahan agamanya itu dipengaruhi oleh ibunya – Quinty – yang konon adalah keturunan nabi Yusuf.

Ia pun lantas memindahkan ibukota kerajaan Mesir dari Luxor ke sebuah kota yang dibangunnya dari nol, Akhetaten. Sebuah kota di pinggiran sungai Nil yang indah, sepanjang 15 km. Disinilah Ikhnaton mengembangkan agama tauhid selama 15 tahun masa pemerintahannya, didampingi oleh istrinya yang terkenal cantik dan baik hati, Ratu Nefertiti.

Di bawah kepemimpinan Ikhnaton dan Nefertiti Mesir mengalami masa transisi, termasuk revolusi dalam beragamanya. Kuil-kuil yang dibangunnya di sekitar Akhetaten memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan kuil Karnak dan Luxor yang cenderung gelap karena tertutup atap dan pilar-pilar raksasa. Kuil Ikhnaton bernuansa terang dengan filosofi membiarkan matahari menyinari ruang-ruang yang ada di dalamnya.

Tetapi, pemindahan ibukota kerajaan itu membuat para pendeta pagan yang menguasai kuil Karnak dan Luxor geram. Sehingga mereka mencari cara untuk menghalangi berkembangnya kekuasaan dan agama Ikhnaton. Momentum besar mereka dapatkan ketika Ikhnaton meninggal dunia. Dan saat itu, anaknya masih kecil bernama Tutankhaton. Dengan cerdiknya mereka bisa mempengaruhi pejabat-pejabat kerajaan agar memilih menantu Ikhnaton yang bernama Smenkhkare sebagai pejabat sementara, sambil menunggu Tutankhaton cukup umur.

Sekitar dua tahun masa transisi itu, Tutankhaton pun dilantik sebagai Firaun dalam usia yang masih sangat muda, 9 tahun. Dan para pendeta pagan yang berada di balik skenario itu bisa mengembalikan pengaruh agama pagan kedalam istana. Maka, nama Tutankhaton pun diubah menjadi Tutankhamun. Kata ‘Aton’ yang bermakna Tuhan yang Esa, diganti menjadi ‘Amun’ yang bermakna dewa matahari. Dan sejak itu, ibukota kerajaan dipindah lagi ke Luxor. Tutankhamun tidak bertahan lama dalam kekuasaannya, ia mati secara misterius di usia masih sangat muda, 18 tahun. Dia dimakamkan di Lembah Raja, sebagaimana jenazah para Firaun.

Sedangkan kota Akhetaten dibumihanguskan oleh para pendeta pagan, sehancur-hancurnya. Kota indah di tepi sungai itu kini hilang dari peta. Dan berganti nama menjadi Tell al Amarna. Untuk sampai ke situs reruntuhannya tidaklah mudah. Kami harus menyeberangi sungai Nil bersama mobil kami, dengan menggunakan kapal Feri. Setelah itu melewati daerah perkampungan yang padat untuk menuju kawasan berbukit di kejauhan sana. Dan ketika sampai disana, ternyata banyak orang yang tidak mengetahuinya. Berkali-kali kami bertanya kepada penduduk setempat, tetapi jawabannya selalu berubah-ubah membingungkan.

Ada yang menyebut di sekitar perbukitan, dan ada yang menyebut arah sebaliknya ataupun di lokasi yang berbeda lagi. Saya sempat menyewa keledai milik penduduk setempat untuk menuju kawasan yang dimaksud, karena tidak mungkin menggunakan mobil, tetapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan saja perjalanan menuju kota Minya yang tidak jauh lagi.

Kami pun menuju ke dermaga penyeberangan untuk menunggu datangnya kapal Feri, sekitar satu jam kemudian. Saat menunggu kapal penyeberangan itulah kami berbincang-bincang dengan seorang sopir Tuk-Tuk, yaitu kendaraan sejenis bajaj di Indonesia. Ternyata dia tahu adanya reruntuhan yang kami maksudkan. Tetapi, kata dia, kami tidak bisa mencapainya dengan mobil. Melainkan harus naik Tuk-Tuk. Maka, kami berempat pun naik Tuk-Tuk menuju lokasi reruntuhan Akhetaten.

Alhamdulillah, ternyata benar. Itu adalah reruntuhan kota Akhetaten di zaman Ikhnaton yang sudah berusia lebih dari 3000 tahun silam. Istananya benar-benar hancur, tinggal satu tiang besar saja yang masih tersisa. Di sekitarnya, tampak fondasi-fondasi bekas rumah kuno, dalam radius beberapa kilometer. Secara umum, kawasan itu telah berubah menjadi dataran padang pasir yang tandus dengan batu-batu berserakan sepanjang mata memandang.

* * *

Perjuangan menegakkan kebajikan atas kebatilan tidak selalu mudah. Butuh pengorbanan yang besar dan kesabaran yang kuat, sampai Allah memutuskan untuk memberikan yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya yang sabar dan istiqomah.

Kekuasaan boleh hilang, harta benda boleh lenyap, bahkan jiwa pun boleh melayang untuk memperjuangkan kebajikan. Tetapi, kebajikan tetap saja kebajikan, dan kebatilan tetap saja kebatilan. Akan datang suatu masa dimana kebajikan akan bersinar terang benderang, ketika umat memperoleh manfaat yang besar dari sebuah perjuangan.

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepadakebajikan, menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang buruk; merekalahorang-orang yang beruntung.” [QS. 3: 104]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s