EKSPEDISI SUNGAI NIL (14)

by Agus Mustofa on Tuesday, August 24, 2010 at 11:32am

~ Kincir Nabi Yusuf di Kota Subur Fayoum ~

 

Dari Tell Al Amarna, kami meneruskan perjalanan ke kota Fayoum. Ini adalah kota paling subur di negeri Mesir. Jaraknya sekitar 170 km dari kota Minya, dimana kami bermalam. Lepas dari Minya kami menelusuri jalanan zira’i, melewati desa-desa di sepanjang sungai Nil. Sungguh menyenangkan melewati kawasan hijau penuh pepohonan, setelah berhari-hari berada di jalan sakhrawi yang berpemandangan padang pasir nan tandus.

 

Berbelok ke arah barat, kami menyusuri sebuah kanal besar yang bersumber dari Sungai Nil sebagai aliran utamanya. Kanal ini dikenal sebagai Bahr Yusuf, alias Sungai Nabi Yusuf. Sebenarnya, bukan hanya kanal ini yang mengairi kawasan Fayoum, melainkan ada lagi dua kanal yang mengapit tepi-tepi kota Fayoum, yang bersumber dari sungai Nil. Konon, kanal-kanal ini adalah peninggalan nabi Yusuf, yang hidup di Zaman Pertengahan, kerajaan Mesir kuno. Diperkirakan sekitar abad 17 SM.

 

Ketika itu, sebagian besar kawasan Timur Tengah sedang dilanda musim kering berkepanjangan. Maka, Nabi Yusuf memperoleh kepercayaan dari raja yang berkuasa untuk mengatasi musim kering yang melanda selama 7 tahun berturut-turut. Nabi Yusuf lantas membangun kota Fayoum untuk dijadikan lumbung makanan bagi negeri Mesir dan sekitarnya. Dan selama tujuh tahun menjelang datangnya musim paceklik itu, ia berhasil menumpuk makanan sebanyak-banyaknya dari hasil pertanian di kota Fayoum ini. Hasil kerja selama tujuh tahun, berhasil mengatasi musik paceklik selama tujuh tahun berikutnya. Begitulah yang dijelaskan panjang lebar dalam al Qur’an, Surat Yusuf.

 

Bukan hanya orang-orang Mesir yang menerima berkah dari Kota Fayoum, melainkan penduduk negeri-negeri di sekitar Mesir juga. Diantaranya adalah bani Israil yang tinggal di kawasan Palestina. Digambarkan dalam al Qur’an, saudara-saudara Yusuf berdatangan ke Mesir untuk meminta bantuan makanan, dan mereka bawa pulang ke Palestina, yang berjarak ratusan kilometer dari Fayoum.

 

Setelah mereka tahu bahwa Yusuf yang menjadi pembesar di ibukota Mesir itu adalah saudara mereka, maka serombongan besar keluarga Nabi Ya’kub pun hijrah untuk menetap di Mesir. Ini terbukti dalam penelitian arkeologi modern, bahwa kawasan Fayoum ini ternyata pernah menjadi permukiman bangsa Yahudi.

 

Orang-orang Yahudi, saat itu bisa memperoleh izin tinggal di sana, karena yang berkuasa di Mesir pada waktu itu adalah bangsa Hyksos, yang berasal dari kawasan dekat Palestina. Di masa-masa itu, kerajaan Mesir Kuno memang mengalami kemunduran, dan dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Secara garis besar, kerajaan Mesir kuno terbagi dalam empat era, yakni: Old Kingdom (abad 30 – 21 SM), Middle Kingdom (abad 21 – 16 SM), New Kingdom (abad 16 – 7 SM), dan yang terakhir adalah era Late Period (7 – 1 SM).

 

Di era Old Kingdom dan New Kingdom itulah Mesir dikuasai oleh para Firaun. Sedangkan di era Middle Kingdom dan Late Period, Kerajaan Mesir terpecah belah menjadi kekuasaan-kekuasaan kecil dan dijajah oleh sejumlah bangsa asing. Sampai akhirnya jatuh ke tangan Yunani-Romawi di akhir-akhir pergantian abad Masehi dan sesudahnya.

 

Nama ‘Fayoum’ sendiri berasal dari bahasa Koptik, yaitu bahasa Mesir kuno yang sudah bercampur dengan bahasa Yunani: Phiom atau Pa-youm yang bermakna danau atau laut. Karena di kawasan ini memang terdapat danau cukup besar yang terbentuk sejak berabad silam. Danau itu memiliki ketinggian 45 meter di bawah laut. Sehingga sulit menggunakan air danau untuk mengairi kawasan yang lebih tinggi di sekitarnya.

 

Maka, disinilah kecerdikan Nabi Yusuf. Dia mengalirkan air dari sungai Nil yang berjarak sekitar 100 km ke danau itu. Ada beberapa kanal yang dilewatkan daerah pertanian seluas 340.000 ha di kota Fayoum. Untuk meratakan distribusi irigasinya, Nabi Yusuf menggunakan teknik kincir air. Ada ratusan kincir air yang dipakai oleh penduduknya hingga sekarang. Salah satunya adalah kincir raksasa yang diabadikan di tengah-tengah kota Fayoum, dekat Kanal Utama yang dikenal sebagai Bahr Yusuf alias kanal Nabi Yusuf.

 

Kini kota Fayoum menjadi lumbung Negeri Mesir. Berbagai macam hasil pertanian dikirim dari kota tua yang subur ini. Sehingga, banyak ungkapan yang bersifat pujian terhadap makanan yang lezat dikaitkan dengan kota Fayoum. Misalnya, ayam Fayoumi adalah ayam yang berasa lezat. Dan memang benar adanya, karena saya sempat berbuka puasa di kota ini. Demikian pula buah-buahan, sayuran, dan hasil pertanian yang baik-baik disebut sebagai Fayoumi…!

 

* * *

 

Nabi Yusuf adalah nabi keturunan Israil. Atau sering disebut sebagai Bani Israil. Sebab, Israil adalah nama lain dari Nabi Ya’kub. Anak-anaknya berjumlah 12 orang, yang kelak menjadi 12 suku dalam bani Israil di zaman nabi Musa.

 

Yusuf kecil dijahati oleh saudara-saudaranya, dan dibuang ke sebuah sumur di kawasan Sinai. Lantas ditemukan oleh seorang pedagang karavan dari negeri Madyan yang sedang lewat di daerah itu untuk mengambil air di sumur. Yusuf, lantas dibawanya untuk dijual di negeri Mesir. Kawasan tempat menjual Yusuf itu adalah Fayoum. Dimana kawasan ini memang menjadi tempat pemberhentian para pedagang karavan dari berbagai negara di sekitar Mesir.

 

Di Fayoum itulah Yusuf dibeli oleh seorang pembesar bernama Potiphar, orang Hyksos yang dekat dengan kalangan Istana. Sayang, isteri Potiphar menyebabkan Yusuf dipenjara dengan tuduhan mau memperkosanya. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah sebaliknya. Wanita yang di dalam al Qur’an dikenal dengan nama Zulaikha itulah sebenarnya yang membujuk Yusuf untuk berlaku serong, dan Yusuf berlari keluar ruangan. Celakanya, di depan pintu itu ada sang suami. Dan, dia lebih percaya kepada istrinya daripada Yusuf. Maka, Yusuf pun masuk penjara tanpa proses pengadilan.

 

Yusuf dipenjara selama 7 tahun. Tetapi, disanalah ia justru memperoleh ilmu hikmah untuk menakwilkan mimpi. Yang, kelak mengantarkan ia menjadi seorang kepercayaan Raja. Sang Raja bermimpi ada tujuh ekor sapi kurus yang memakan tujuh tangkai padi yang gemuk. Para pendeta pagan yang ada di sekelilingnya tidak ada yang bisa menakwilinya, tetapi Yusuf memberikan makna yang tepat tentang mimpi sang Raja. Bahwa Mesir akan mengalami masa paceklik selama tujuh tahun, setelah masa panen raya selama tujuh tahun.

 

”Yusuf berkata kepada raja: jadikanlah aku seorang yang berkuasa untuk mengelola (hasil) bumi (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” [QS. 12: 55]. Maka, atas bimbingan Allah, Yusuf membangun kota Fayoum menjadi kota yang subur. Dan membekas hingga sekarang. Karya orang-orang yang berilmu, yang diniatkan ikhlas karena Allah semata adalah karya abadi yang akan membawa manfaat buat umat manusia.

 

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s