EKSPEDISI SUNGAI NIL (15)

by Agus Mustofa on Wednesday, August 25, 2010 at 5:48pm

~ Mencari Tempat Tenggelamnya Istana Qarun ~

Berada di kota Fayoum kami penasaran dengan nama danau Qarun. Apalagi setelah saya telusuri, tidak jauh dari danau itu ada perkampungan yang juga bernama Desa Qarun. Apakah ini ada kaitannya dengan tokoh Qarun di zaman nabi Musa, yang harta benda beserta istananya ditenggelamkan Allah, karena kesombongannya? Ternyata benar. Di sekitar danau inilah Qarun dan istananya ditenggelamkan.

Qarun adalah bangsa Israil sebagaimana nabi Musa. Sejumlah penafsir al Qur’an mengatakan ia adalah sepupu nabi Musa. Sebagian yang lain menyebutnya paman nabi Musa. Tetapi, di dalam al Qur’an memang hanya disebut sebagai ’kaum Musa’. Tidak begitu jelas apakah ia paman ataukah sepupu.

Qarun hidup di zaman Firaun Ramses II sebagaimana juga Musa. Meskipun Qarun mengaku mengikuti agama Musa, ia justru sangat dekat dengan Ramses II yang memusuhi Rasul Allah itu. Bahkan ia memperoleh penghasilan besar dari posisinya yang mendua. Ramses memanfaatkan Qarun untuk menjadi mata-mata dan pengendali Bani Israil agar tidak berbuat macam-macam yang bisa membahayakan kedudukan Firaun.

Sebagaimana kita ketahui, Bani Israil adalah bangsa pendatang di negeri Mesir. Mereka datang ke negeri Firaun ini pada zaman nabi Yusuf, di sekitar abad 17 SM. Mereka memperoleh izin tinggal di Mesir karena penguasa saat itu adalah bangsa Hyksos yang secara emosional dekat dengan penduduk Palestina, Bani Israil. Namun, seiring dengan jatuhnya kekuasaan Hyksos ke tangan Firaun lagi di zaman New Kingdom, bangsa Israil menjadi bangsa kelas dua yang sering dianiaya oleh Firaun. Mereka banyak yang dijadikan budak, dan dijadikan sebagai ’pekerja paksa’ untuk membangun proyek-proyek Firaun. Sampai kelak dibebaskan oleh nabi Musa, dengan cara eksodus ke palestina kembali.

Qarun memainkan peran sebagai orang munafik, yang bekerja untuk kepentingan Ramses II. Karena itu sebagian besar kaumnya sangat membenci dia. Tetapi, dia memiliki harta berlimpah ruah karenanya. Dan memiliki sejumlah pengikut yang sesama penjilat kekuasaan. Kekayaan Qarun digambarkan sangat fantastis, dan sering melakukan pamer kekayaan kepada kaumnya yang miskin.

Musa tak bosan-bosannya mengingatkan Qarun, agar ia membagikan sebagian kekayaannya kepada kaumnya dalam bentuk zakat. Bukan malah pamer kekayaan seperti itu. Tetapi, kesombongan Qarun semakin menjadi-jadi. Ia kumpulkan seluruh harta bendanya, dan diaraknya keliling kota Fayoum. Ia kerahkan puluhan kuda dan unta, serta ratusan laki-laki dan perempuan, semata-mata untuk pamer kekayaan.

Maka, Allah pun memberikan pelajaran dengan menghancurkan kekayaannya itu di depan mata penduduk Fayoum. Istananya ditenggelamkan ke dalam perut bumi beserta segala isinya. Tanpa bekas, kecuali nama perkampungan Qarun, danau Qarun dan Qasr Qarun. Mengenai Qasr Qarun atau Istana Qarun, terjadi pro kontra. Saya juga sempat menelusurinya.

Kami sempat mendatangi sebuah reruntuhan bangunan yang disebut-sebut sebagai istana Qarun itu. Lokasinya ada di dekat pemukiman penduduk desa Qarun. Kini sedang digali kembali oleh pemerintah bekerjasama dengan sejumlah arkeolog mancanegara. Tetapi, sejauh yang saya telusuri, gedung bergaya romawi itu bukan istana Qarun. Melainkan kuil peribadatan di zaman Yunani-Romawi. Kuil ini dipersembahkan kepada Dewa Sobek alias Dewa Buaya yang menghuni danau Qarun. Karena itu, di dalamnya ada patung manusia berkepala buaya sebagai ikon utamanya.

Kawasan danau Qarun dan Fayoum yang subur, memang pernah menjadi lumbung makanan bagi bangsa Romawi ketika menduduki Mesir. Mereka membangun markas tentara, permukiman, dan kuil-kuil disana. Bahkan juga villa-villa di pinggiran danau Qarun itu. Tetapi seiring dengan runtuhnya kekuasaan Romawi di Mesir, kawasan itu mengalami keruntuhan juga. Sebagiannya masih tertinggal dalam bentuk reruntuhan, termasuk kuil Dewa Sobek yang dikira sebagai istana Qarun.

Sedangkan istana Qarun yang sesungguhnya berada di tepian danau, kini sudah tidak ada bekasnya lagi, karena ditenggelamkan oleh Allah, sebagaimana diceritakan dalam al Qur’an. ’’Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (diri)’’. [QS.28: 81]

* * *

Benarkah istana Qarun dibenamkan Allah di sekitar danau Qarun itu? Penelusuran geologis menunjukkan adanya kemungkinan besar. Karena, ternyata kawasan ini adalah kawasan labil berupa patahan lempeng bumi yang pernah mengalami penurunan. Dan itu sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu.

Karena itu ketinggian danau Qarun tersebut lebih rendah dari permukaan air laut, sejauh 45 meter. Danau ini airnya agak asin, dikarenakan mengalami penguapan terus menerus, tanpa bisa mengalir untuk berganti air. Dan di zaman Nabi Yusuf, kota Fayoum dibentuk menjadi kawasan pertanian yang subur dengan cara mengalirkan air sungai Nil yang berjarak sekitar 100 km timur danau. Aliran airnya justru mengarah ke barat, yaitu masuk ke danau Qarun. Karena danau ini memang lebih rendah dari sungai Nil.

Di zaman Qarun, kawasan ini mengalami gempa disebabkan oleh pergerakan patahan lempeng bumi tersebut. Sehingga, istana Qarun yang berada di tepi Danau pun runtuh karenanya. Dan tenggelam beserta isinya ke dalam perut bumi. Sejak itu luasan Danau Qarun menjadi lebih  besar dari sebelumnya. Kini, danau tersebut memiliki panjang sekitar 40 km membentang dari timur ke barat, dan lebar sekitar 10 km.

Di bagian utara-barat danau adalah perbukitan Jabbal Qatrani dengan ketinggian 350 meter. Sedangkan di bagian selatan-timur justru dataran rendah, puluhan meter di bawah permukaan laut. Di bagian yang runtuh inilah terbentuk danau, dan menjadi tandon air bagi sekitarnya. Di zaman Ramses II, Qarun memperoleh hadiah rumah di kawasan tepi danau. Bahkan, sebagian sumber informasi  mengatakan kawasan ini memang dihadiahkan kepada Qarun. Sehingga danau dan desa yang di situ pun dinamai dengan nama Qarun.

Allah memberikan pelajaran dengan banyak cara dan peristiwa. Pada dasarnya ingin mengingatkan manusia agar memahami hukum alam yang sudah digelar-Nya. Bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan, dan kejahatan akan berbalas kejahatan. ’’Maka masing-masing Kami azab disebabkan oleh dosanya sendiri. Di antaranya ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, dan di antaranya ada yang ditimpa suara menggelegar, dan di antaranya ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antaranya ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.’’ [QS. 29: 40]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s