EKSPEDISI SUNGAI NIL (16)

by Agus Mustofa on Thursday, August 26, 2010 at 2:56pm

~ Memphis, dan Necropolis Pertama di Dunia ~

Keluar dari kota Fayoum membawa kami ke pemandangan padang pasir kembali. Kawasan hijau yang begitu subur berganti dengan pemandangan cokelat tanah dan bebatuan yang tandus. Tak jauh dari Fayoum, sekitar 80 km, kami memasuki kota tua yang sangat terkenal dalam sejarah Mesir kuno, yaitu kota Memphis. Inilah ibukota Mesir kuno di zaman Old Kingdom selama lebih dari 1000 tahun.

Dibandingkan dengan Luxor yang menjadi ibukota New Kingdom, Memphis memainkan peran yang lebih lama. Bahkan, ketika ibukota kerajaan Mesir kuno sudah dipindahkan ke Luxor, jauh di selatan, pun kota Memphis masih memainkan peran sebagai kota besar yang ramai. Luxor hanya berperan sekitar 500 tahun, tetapi Memphis bertahan sampai lebih dari 3000 tahun, yakni sampai zaman Romawi berkuasa di Mesir.

Setelah itu, peran Memphis mengalami kemunduran seiring dengan datangnya kekuasaan Islam yang beribukota di Kairo. Kini, Memphis hanya berupa sebuah desa kecil. Ketika saya memasuki kawasan ini, saya melihat sebuah rambu lalulintas bertuliskan: Village Memphis. Dan memang benar, saya hanya menemukan sebuah Museum tak berapa besar di antara kawasan pedesaan yang tak lagi megah. Di museum itulah sejumlah peninggalan kerajaan Mesir kuno menampakkan kejayaan masa lalunya.

Untuk melihat kemegahan kota Memphis lebih baik dengan cara menyaksikan langsung reruntuhan kotanya, dalam kawasan yang sangat luas. Maka, kami pun hanya sebentar berada di dalam Museum. Kami langsung menjelajah ’bekas kota’ yang didirikan oleh dinasti pertama kerajaan Mesir kuno. Kami menyaksikan reruntuhan kota yang kini sedang digali kembali oleh para arkeolog untuk dihadirkan kepada kita.

Adalah Firaun Menes atau yang lebih dikenal dengan nama Narmer yang mula-mula membangun kota Memphis. Dia adalah raja pertama Old Kingdom yang berkuasa di abad 32 SM. Dialah Firaun yang pertamakali berhasil menyatukan kerajaan Mesir Utara dan Selatan. Atau, di dalam sejarah dikenal sebagai Lower Egypt dan Upper Egypt.

Maka, sejak Narmer itu Firaun Mesir menggunakan mahkota bertumpuk dua, yang dikenal sebagai Double Crown, sebagai simbol penyatuan kerajaan utara dan selatan. Dilanjutkan dengan penyatuan lambang bunga Lotus dan pohon Papirus yang menjadi simbol kesejahteraan kedua kerajaan. Sampai pada pemilihan kota Memphis yang berada di perbatasan wilayah kerajaan utara dan selatan di lembah sungai Nil, itu pun sengaja dipilih sebagai lambang penyatuan.

Kota yang tepat berada di ’pintu’ Delta Sungai Nil yang subur tersebut dikelilingi oleh tembok yang melindunginya dari luapan sungai Nil saat banjir tahunan. Kota itu diberi nama Ineb-Hedj, yang dalam bahasa Mesir kuno bermakna ’Tembok Putih’, menunjuk kepada tembok yang mengelilingi kota. Sedangkan nama Memphis baru muncul kemudian, dalam bahasa Yunani, yang bermakna ’Kota Indah yang Tertata Rapi’, karena di dalamnya banyak ditemukan taman-taman yang indah dengan air mancurnya, kuil-kuil dan istana-istana yang megah.

Bukti-bukti kemegahannya kini sedang digali kembali oleh para arkeolog. Salah satunya, adalah sebuah kota pemakaman yang dikenal sebagai Necropolis. Kawasannya membentang sepanjang 40 km. Dan di dalamnya terdapat lebih dari seratus buah Piramida yang menakjubkan, serta ratusan makam para kerabat Firaun, pendeta, dan pejabat-pejabatnya. Areanya lebih luas dari kawasan Lembah Raja yang sudah saya kunjungi di Luxor.

Sayang, karena usianya sudah lebih dari 5000 tahun, penggalian kawasan ini membutuhkan keahlian dan kehati-hatian yang ekstra.  Benda-benda bersejarahnya sudah banyak yang hancur dimakan waktu, atau hilang dicuri para perampok kuburan Firaun. Tetapi, fisik kota secara kesuluruhan, kini sedang direkonstruksi untuk dimunculkan kembali. Setidak-tidaknya, kawasan Kota Makam yang disebut Necropolis itu bakal kelihatan kembali.

Jika jenazah Firaun di Lembah Raja, Luxor, dimasukkan ke dalam perut bukit berbentuk piramida, maka di Necropolis ini jenazah Firaun dimasukkan ke dalam perut ’bukit buatan’: sebuah bangunan berbentuk Piramida yang menjulang tinggi puluhan meter ke angkasa. Tentu, jauh lebih dahsyat karena membutuhkan keahlian dan waktu konstruksi selama bertahun-tahun.

Ide dasarnya datang dari seorang arsitek multitalenta yang terkenal zaman itu: Imhotep. Awalnya, makam-makam raja Mesir hanya berbentuk Mastaba. Yaitu, sebuah ruangan yang dibentuk dari tumpukan batu yang di dalamnya ada peti mumi Firaun. Imhotep memgembangkannya menjadi sebuah bangunan Piramida yang monumental. Karena jasa dan ide-idenya yang brilian, di kawasan Necropolis itu kini didirikan sebuah Museum bernama Imhotep. Di dalamnya, kita bisa menyaksikan bagaimana karya-karyanya dalam membangun sebuah Piramida.

Piramida yang tertua adalah Piramida Sakkara. Bentuknya unik, dan berbeda dari piramida-piramida lainnya. Bangunan yang menjadi makam Firaun Djoser dari Abad ke 3 di zaman Old Kingdom itu berbentuk bangunan bertingkat yang mengecil di bagian paling atas. Piramida ini sering juga disebut sebagai Piramida Djoser, nama Firaun yang berkuasa di tahun 2667 – 2648 SM.

Tingginya 60 meter, terdiri dari enam tingkat, terbuat dari blok-blok batu kapur yang ditumpuk secara berjenjang. Ketika saya datang ke kawasan Sakkara, piramida tersebut sedang dalam renovasi. Kawasan makam ini memang masih terus diekskavasi untuk menemukan piramida-piramida lainnya. Yang sudah diketemukan ada ada sebelas. Diantaranya adalah piramida Userkaf, piramida Unas, Pepi, Djoser, dan Sekhemket. Dan baru-baru ini diketemukan lagi satu piramida yang masih terus dalam penggalian…

* * *

Mesir benar-benar menjadi gudang bukti-bukti sejarah masa lampau. Bukti adanya peradaban yang tidak kalah oleh zaman sekarang. Tentu, dalam bentuk yang berbeda. Allah, Sang Pencipta peradaban, memerintahkan kepada kita untuk melakukan perjalanan menyusuri peninggalan-peninggalan mereka. Agar kita bisa mengambil pelajaran. Bahwa peradaban setinggi apa pun kelak akan runtuh dimakan waktu. Tak ada yang mampu mengalahkan ’Sang Penguasa’alam semesta.

’’Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lantas memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Padahal orang-orang zaman dulu itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekasnya di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan (untuk mempertahankan kekuasaan) itu tidak dapat menolong mereka (dari kehancuran).’’ [QS. 40: 82]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s