EKSPEDISI SUNGAI NIL (17)

by Agus Mustofa on Friday, August 27, 2010 at 3:22pm

~ Dahshur, Piramida Bengkok yang Gagal ~

Dari kawasan Sakkara kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Dahshur, yang sebenarnya lebih dekat ke kota Fayoum. Tapi kami sengaja mengunjunginya setelah dari Sakkara, karena Sakkara adalah Piramida yang paling awal dibangun di zaman Mesir kuno. Sedangkan Dahshur adalah piramida yang dibangun setelahnya. Saya ingin merasakan proses yang berlangsung di zaman itu.

Kawasan Dahshur lebih sepi dibandingkan dengan kawasan Sakkara. Demikian pula turis yang berkunjung ke piramidanya. Salah satu sebabnya, kawasan ini tidak sekaya Sakkara dalam kandungan peninggalannya. Selain itu, kawasan Dahshur adalah kawasan militer, sehingga terkesan lebih angker dan tidak boleh sembarangan. Tidak ada pedagang yang berani jualan di sini. Demikian pula tidak ada persewaan kuda dan unta.

Namun beruntung, saya sempat ’menyewa’ unta para polisi yang menjaga kompleks ini untuk berkeliling kawasan. Mengingat, cuacanya sangat terik, bermedan padang pasir yang luas. Sehingga melakukan eksplorasi dengan jalan kaki dalam keadaan puasa bukan main beratnya. Itupun masih basah kuyup dengan keringat, kepanasan.

Sebenarnya, di Dahshur ada sebelas piramida yang dibangun pada zaman dinasti ke 4 sampai ke 12. Tetapi yang utuh tinggal dua buah saja, yaitu Piramida Snefru Bent  dan Red Piramid. Selebihnya sudah runtuh menjadi gundukan pasir dan bebatuan lapuk. Ini menunjukkan betapa tidak mudah untuk membangun sebuah piramida yang bisa bertahan ribuan tahun.

Kompleks Dahshur memang lebih kecil dibandingkan Sakkara. Areanya hanya membentang sepanjang 4 km. Bandingkan dengan Sakkara yang 7 km. Tetapi, yang menarik dari kawasan Dahshur adalah nilai sejarah pembuatan Piramidanya. Inilah Piramida kedua yang dibangun setelah piramida berjenjang di Sakkara. Maka, ada yang menyebut Piramida Dahshur ini sebagai piramida pertama yang berbentuk benar-benar piramida. Sebab, yang di Sakkara itu tidak berbentuk piramida murni. Melainkan seperti sebuah bangunan bertingkat yang bertumpuk mengerucut.

Berdasar pengalaman piramida Sakkara yang dibangun oleh dinasti sebelumnya itulah, Raja Snefru (2613 – 2589 SM) mencoba membangun bentuk piramida yang lebih sempurna. Maka, ia memerintahkan para arsiteknya untuk merancang sebentuk piramida yang utuh. Sayang, kemiringan Piramida itu terlalu terjal, yaitu 54 derajat. Sehingga ketika dibangun, para pekerjanya mengalami kesulitan untuk merealisasikan bagian atas bangunan. Dan kemudian arsiteknya mengubah sudut kemiringannya menjadi 43 derajat.

Setelah jadi, ternyata kelihatan jelek. Bangunan piramida itu terlihat bengkok di bagian atasnya. Sehingga, sampai sekarang banyak yang menyebut Piramida Dahshur yang memiliki tinggi 105 meter itu sebagai Piramida Bengkok. Atau, ada juga yang menyebutnya sebagai Piramida Snefru-Bent.

Tentu saja, Raja Snefru tidak puas melihat hasilnya. Dan kemudian, memerintahkan untuk membangun kembali sebuah piramida yang lebih sempurna. Padahal, sebelum membangun piramida bengkok itu sebenarnya Snefru sudah bereksperimen dengan Piramida Maydum, yang berada di kawasan lebih selatan dari kompleks Dahshur. Itulah piramida yang dibangun oleh ayahnya, Firaun Sanakhit, di generasi sebelumnya. Dia bersama tim arsiteknya mengotak-atik piramida Maydum sehingga mengalami kerusakan disana-sini. Tetapi piramida Maydum memang masih mirip dengan Sakkara yang bentuknya berjenjang seperti anak tangga.

Akhirnya, Snefru tidak mau menggunakan Piramida Bengkok itu sebagai bakal makamnya. Dan dibiarkan serta dikosongkan tanpa pernah dimanfaatkan. Ia lantas memerintahkan para arsiteknya untuk membuat Piramida lagi di kawasan yang sama, hanya berjarak sekitar 2 km dari Piramida yang gagal. Jadilah piramida yang kedua dengan lebih sempurna. Namanya Red Pyramid, karena dibuat dari bebatuan yang berwarna agak kemerahan. Dan, di dalam ruang piramidanya ada grafiti menggunakan cat berwarna merah.

Bersamaan dengan membuat Piramida yang kedua itu, Snefru juga membuatkan piramida yang lebih kecil untuk istrinya. Posisinya ada di sebelah Piramida Merah. Tetapi, kini kondisinya juga sudah banyak yang rusak. Selain desain konstruksi yang benar, pemilihan jenis batu sebagai bahan pemuatan piramida juga membawa pengaruh yang besar bagi ketahanannya dalam jangka panjang.

Yang menarik, Raja Snefru ternyata adalah bapak dari Cheops yang membangun Piramida paling terkenal di dunia, sehingga masuk sebagai salah satu keajaiban dunia, yaitu Piramida di kompleks Giza. Juga, kakek dari Chepren yang membangun piramida selanjutnya di kompleks Giza yang terkenal itu. Disana ada 3 buah Piramida yang dibangun oleh keturunan Snefru.

Pengalaman Snefru menjadi pelajaran yang berharga bagi anak-cucunya untuk membangun kompleks Piramida Giza. Bukan hanya bentuknya yang sempurna, melainkan juga bebatuan yang menjadi bahan bakunya. Kalau, Piramida Snefru memiliki ketinggian 105 meter, maka yang dibangun anaknya di Giza itu lebih tinggi lagi, yakni 146 meter. Dan bisa bertahan sampai kini meskipun sudah berumur lebih dari 5000 tahun. Sayang, benda-benda berharga di dalamnya sudah lenyap. Termasuk muminya. Lagi-lagi karena ulah pencuri kuburan Firaun..!

* * *

Bekerja keras pantang putus asa, dan mengambil pelajaran dari peristiwa sebelumnya adalah kunci dari sebuah keberhasilan. Tidak peduli apakah ia hanya mengejar kesuksesan duniawi atau pun ukhrawi. Bahkan, juga untuk sebuah kejahatan ataukah kebaikan. Allah adalah Zat yang Maha Pemurah kepada siapa saja yang bekerja keras dan bekerja cerdas untuk mencapai tujuannya. Dia memberikan ’bantuan’-Nya berdasar sifat Maha Pemurahnya. Sebagaimana diceritakan-Nya dalam QS. 17: 18-21.

Bahwa siapa saja bekerja sungguh-sungguh pasti akan mencapai tujuannya. Tetapi sambil mengingatkan, bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan utama yang harus diperjuangkan dengan sebenar-benarnya, karena Akhirat adalah kehidupan yang jauh lebih berkualitas dibandingkan kehidupan dunia yang hanya sebentar saja.

’’Untuk mencapai kesuksesan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja’’. [QS. 37: 61]. ’’Maka apabila kamu telah selesai (mengerjakan suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (akan hasilnya). [QS. 94: 7-8].

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s