EKSPEDISI SUNGAI NIL (19)

by Agus Mustofa on Sunday, August 29, 2010 at 12:11pm

~ Mumifikasi, Otak dan Isi Perut pun Dikeluarkan ~

Masih tentang Necropolis alias Kota Pekuburan, Memphis. Adalah sangat menarik, dari kawasan yang membentang sepanjang puluhan kilometer itu tidak diketemukan artefak istana Firaun secara signifikam. Justru, yang diketemukan adalah pekuburan. Ini terkait dengan filosofi masyarakat Mesir kuno, yang memandang kehidupan sesudah mati jauh lebih penting dibandingkan kehidupan sekarang.

Kebanyakan raja Mesir kuno bersegera menyiapkan pekuburannya sesaat sesudah pelantikannya sebagai raja. Hari ini dilantik, hari ini juga merancang pekuburan. Baik dalam bentuk mastaba – tumpukan batu sederhana. Ataupun, piramida yang spektakuler. Ataupun, perbukitan yang disulap menjadi Valley of The King. Istana raja dibuat dari bahan-bahan yang mudah hancur, semisal batu bata atau semacam tanah yang diperkeras. Tetapi, pekuburan dibuat dari bebatuan yang tahan lama.

Para penganut agama pagan menyiapkan kehidupan sesudah mati sebaik-baiknya. Mereka membuat Piramida yang berbentuk lancip ke arah langit, dengan harapan, itu bisa mengumpulkan energi alam semesta yang memberikan kekuatan abadi bagi jenazah. Karena mereka yakin, bahwa tubuh yang telah mati itu akan dipakai kembali saat hidup di alam keabadian. Karenanya, harus dipersiapkan sesempurna mungkin.

Orang Mesir kuno adalah pioner dalam pembuatan mumi. Proses mumifikasi sudah mulai dikenal sekitar 4000 tahun SM. Saat itu, orang Mesir melakukan mumifikasi secara alamiah dengan memanfaatkan padang pasir yang panas dan kering. Para arkeolog menemukan mumi kering semacam itu di kawasan padang pasir Mesir, di sebuah mastaba alias ruang bawah tanah bertumpuk bebatuan. Dan kini, mumi yang posisinya tertelungkup itu disimpan dan dipamerkan di British Museum, London.

Akan tetapi, sejak tahun 2600 SM, para dokter Mesir kuno menemukan teknik mengawetkan jenazah yang kemudian dikenal sebagai mumifikasi. Dan semakin lama, tekniknya semakin maju. Sehingga teknik ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Mesir, tetapi juga oleh orang-orang Romawi saat mereka menguasai Mesir di peralihan Abad Masehi selama ratusan tahun. Dan juga bangsa-bangsa lain, hingga abad Modern. Maka, kita menyaksikan jenazah beberapa tokoh diawetkan dengan cara dibalsem. Diantaranya adalah Deng Xiaoping, Lenin, dan sejumlah Paus Vatikan.

Di zaman Mesir kuno, mumifikasi adalah bagian dari prosesi agama pagan yang mengiringi kematian seorang tokoh. Maka, suasananya bukan hanya medis, melainkan juga mistis, dengan dipimpin oleh seorang pendeta. Dan tentu, tim ahli pembuat mumi.

Jasad tokoh yang meninggal dibawa dengan keranda ke sebuah ruang khusus mumifikasi, dan menjalani proses itu hingga sekitar 70 hari, sebelum siap untuk dimakamkan. Ketua timnya disebut sebagai ’Controller of The Mysteries’ yang mengetahui ramuan rahasia mumifikasi. Diantaranya, menurut para arkeolog,  ada 7 jenis minyak rahasia yang belum terkuak bahannya sampai sekarang.

Sang ketua memakai topeng serigala hitam sebagai simbol Dewa Anubis, yaitu dewa penjaga Necropolis. Ia dibantu oleh beberapa asisten yang biasanya adalah pendeta, sambil melagukan nyanyian-nyanyian khusus selama proses pembuatan mumi, menyiapkan kain dan mengafaninya.

Di dalam ruang khusus itu, jasad dimandikan dengan air dicampur garam Natron. Kemudian dibawa ke sebuah ’meja operasi’ bernama Wabet, untuk dikeluarkan organ dalam perutnya dan otak dari kepalanya. Otak dikeluarkan dengan cara menyedotnya menggunakan pipa besi dari lubang yang dibuat di bagian hidung, atau tengkuk.

Sedangkan, organ-organ dalam dikeluarkan lewat sayatan yang dibuat di perut. Setelah itu, dimasukkan ke dalam vas khusus sebanyak 4 buah yang ada tutupnya. Semua organ dikeluarkan kecuali jantung dan dua buah ginjal. Ketiga organ ini dibiarkan berada di dalam tubuh karena membentuk segitiga piramida yang dipercaya memberikan keabadian kepada tubuh jenazah. Jantung, dipercaya akan ditimbang saat hari perhitungan untuk menentukan baik-buruknya balasan di alam keabadian.

Sedangkan organ lainnya, dimasukkan ke dalam vas yang diberi hiasan Anak-anak dewa Horus. Paru-paru dimasukkan ke dalam vas yang berhiaskan Hapi, yaitu dewa berkepala monyet babon. Lambung dimasukkan ke dalam vas Duamutef, dewa berkepala serigala. Hati atau liver dimasukkan ke dalam vas bergambar Imheti, sebentuk kepala manusia. Dan usus dimasukkan ke dalam vas Qebehsunuef, dewa berkepala Elang. Semua vas itu, nantinya dikubur bersama jasadnya, karena dipercaya akan kembali kepada tubuh saat dihidupkan kembali.

Setelah itu, tubuh jenazah dilumuri garam Natron untuk proses pengeringan selama 40 hari. Rongga perut yang sudah kosong, diisi kapas atau kain. Dan, selanjutnya  jenazah dilumuri lagi dengan The Seven Secret Oil serta cairan khusus, wewangian Lotus, resin, dan lain sebagainya sampai sekitar 70 hari. Setelah selesai, jenazah dibalut dengan kain kafan, dengan posisi tangan menyilang di depan dada. Juga diselipkan berbagai azimat untuk melindunginya selama perjalanan menuju alam keabadian.

Terakhir, wajah sang mumi ditutupi dengan topeng yang dibuat persis dengan wajah aslinya. Agar, ’Ka’, sang ruh mengenalinya kembali saat memasuki jasadnya. Kemudian dimasukkan ke dalam peti mati belapis-lapis agar tidak terganggu oleh binatang di dalam tanah, atau pun manusia yang bermaksud jahat. Di sepanjang dinding makamnya, dipahatkan sejumlah gambar untuk memandu orang yang mati itu agar tidak ’tersesat’menuju alam keabadian, dalam bentuk Kitab Kematian..!

* * *

Semua manusia bakal mengalami kematian. Dan secara instinktif meyakini, bahwa hidup di dunia ini bukanlah satu-satunya kehidupan. Ada sebuah kehidupan lain yang bakal kita jalani sebagai kelanjutannya. Karena itu, kita semua harus mempersiapkannya. Hanya orang-orang yang keras kepala saja yang menyimpulkan bahwa dunia adalah satu-satunya kehidupan. Dia telah menentang bisikan nuraninya, bahwa kehidupan dunia sebenarnya adalah kehidupan yang belum selesai..!

Allah mengingatkan ini kepada manusia, siapa pun dia. Bahwa, setelah kematian memang ada kehidupan lain yang lebih panjang waktunya. Dan disanalah kita bakal menuai hasil perbuatan selama di dunia. Jangan sampai kita lupa diri di sini, dan baru menyesal setelah kita berada disana. Tak ada gunanya.

’’Dan (alangkah ngerinya), ketika kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepala di hadapan Tuhannya (di akhirat): “Ya Tuhan kami, kini kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan berbuat kebajikan, sungguh kami meyakininya (sekarang)”. [QS. 32: 12]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s