EKSPEDISI SUNGAI NIL (20)

by Agus Mustofa on Monday, August 30, 2010 at 2:36pm

~ Kairo, Ibukota Negeri Seribu Menara ~

Meninggalkan kawasan Necropolis, kami memasuki ibukota Mesir Modern, yaitu Kairo. Inilah ibukota keempat setelah Memphis, Luxor, dan Alexandria, yang menjadi pusat pemerintahan negeri Mesir selama ribuan tahun. Masing-masing ibukota itu memiliki ciri khas yang sangat kental, terkait dengan peradabannya.

Memphis dan Luxor, adalah ibukota di zaman para Firaun yang beragama pagan. Karena itu, kedua kota tersebut meninggalkan artefak-artefak yang kental dengan tempat-tempat peribadatan agama pagan dan segala aksesorinya. Seperti kuil, patung sesembahan, dan makam raja-raja yang dipertuhankan.

Ini berbeda dengan Alexandria. Kota yang berseberangan dengan Eropa di Laut Mediterania itu, banyak meninggalkan bekas-bekas yang terkait dengan peralihan agama pagan ke Kristen. Kota pantai ini menjadi saksi masuknya dua peradaban besar, yaitu Yunani dan Romawi ke Mesir. Tetapi, kelak terbukti, mereka pun membawa peradaban Mesir yang juga pagan ke dalam budaya mereka.

Sebelum Nabi Isa terlahir, Alexandria menjadi pusat agama pagan ala Yunani-Romawi. Tetapi, setelah beliau lahir, berangsur-angsur Alexandria menjadi pusat penyebaran agama Kristen di Mesir. Sehingga, terlahirlah agama Kristen Koptik yang khas Mesir, yang mengklaim dirinya sebagai penerima berita di masa-masa awal berkembanganya Kristen secara langsung.

Sedangkan Kairo, sangat kental dengan budaya Islam. Kota ini dibangun pertamakali dengan nama Fustat, oleh Amru bin Ash. Ia yang dikenal sebagai tokoh ’Pembuka Mesir’ itu menjadi gubernur pertama Mesir di zaman Khalifah Umar bin Khathab pada abad ke-7. Sejak itu, sang Gubernur memindahkan ibukota dari Alexandria ke Fustat.

Di zaman Ibnu Tulun, pusat pemerintahannya berpindah dari Fustat ke Al Qatta’i, yang juga berada di kawasan Kairo. Nama Kairo baru diperkenalkan pada zaman kerajaan Fathimiyah tahun 969 Masehi, dengan nama al Qahiroh. Namun, terbaca oleh para pedagang Eropa sebagai Cairo. Maka, Kairo pun tumbuh secara khas dalam perpaduan budaya Arab dan peradaban Islam.

Pemilihan lokasi kota Kairo agak mirip dengan Memphis sebagai ibukota Mesir kuno. Kawasannya berada di dekat delta sungai Nil yang subur. Luasnya sekitar 450 km persegi. Dengan sungai Nil membelah di tengah-tengahnya, menjelang berakhir di muara. Benar-benar sebuah kota yang indah dan strategis. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari pantai dan  pelabuhan – sekitar 200 km – menyebabkan kota ini kemudian berkembang menjadi kawasan yang terbuka secara internasional, sejak belum adanya transportasi udara.

Kini, kota terbesar di Afrika dan dunia Arab ini menjadi kota yang sangat padat dengan kompleksitas yang tinggi disebabkan jumlah penduduknya yang besar. Yakni, sekitar 10 juta di malam hari, dan 20 juta di jam-jam kerja, di siang hari. Kompleksitas itu disebabkan berkembangnya Kairo menjadi Kairo Raya, yang mencakup kota-kota di sekitarnya, dan demikian banyaknya orang-orang yang masuk ke sini.

Sebagai ibukota yang didirikan oleh pemerintahan Islam, Kairo berkembang seiring dengan penyebaran agama Islam. Pembangunan masjid terjadi di semua penjuru kota. Ada ribuan masjid yang kini digunakan umat Islam Mesir yang berjumlah sekitar 70 juta jiwa. Di Kairo saja, ada sekitar 4000 masjid. Dan di seantero Mesir ada sekitar 24.000 buah. Jumlah penduduk Mesir sekitar 80 juta, dan 80 persennya beragama Islam.

Jadi, bisa dibayangkan bagaimana ’ramainya’ angkasa Mesir oleh suara Azan, saat datangnya waktu shalat. Karena itu, pemerintah Mesir sempat menetapkan peraturan untuk menyatukan suara Azan di seluruh Mesir, agar kumandangnya terdengar lebih sejuk dan teratur. Setiap masjid cukup me-relay saja suara azan yang dipancarkan dari sebuah stasiun radio terbesar. Tetapi, peraturan yang sudah ditetapkan sejak 3 tahun lalu itu, sampai sekarang belum bisa terlaksana, karena adanya pro-kontra di lapangan.

Demikian banyaknya masjid di Kairo, sehingga dalam satu kompleks bisa berdiri beberapa masjid. Diantaranya, kalau kita melihat dari ketinggian benteng Salahuddin ke arah barat, kita akan melihat dua buah masjid besar, yaitu masjid Sultan Hassan dan masjid Ar Rifai berdiri berdampingan. Dan di sekitarnya masih ada 3 buah masjid lain yang lebih kecil mengelilinginya.

Salah satu masjid yang sangat bersejarah, dan kini masih menjadi pusat pengkajian Islam adalah masjid Al Azhar (didirikan tahun 972 M). Inilah masjid tertua nomer 3 setelah masjid Amru bin Ash (dibangun tahun 641 M), dan masjid ibnu Tulun (dibangun tahun 876 M). Tetapi, aktifitasnya paling padat, karena masjid ini berada di dalam kampus al Azhar, salah satu kampus tertua di dunia, yang menghasilkan ribuan ulama di berbagai negara.

Memasuki kawasan al Azhar bukan main ramainya. Bahkan cenderung macet. Karena tidak jauh dari kampus ini ada pusat perbelanjaan terkenal yaitu Bazaar Khan El Khalili yang sangat legendaris. Di sebelah bazaar ini juga ada masjid besar, yaitu masjid Hussein. Disana terdapat makam cucu Rasulullah yang menjadi korban perang saudara di Karbala. Hampir setiap hari makamnya dikunjungi oleh umat Islam terutama kalangan syiah. Saya sempat shalat di dalamnya. Dan tak jauh dari situ ada lagi masjid Sayyidah Zaenab, yang sekaligus menjadi tempat pemakamannya. Ia juga cucu Rasulullah, adik dari Sayyidina Hussein.

Shalat di masjid Al Azhar yang sudah berusia lebih dari 1000 tahun, kita bisa merasakan kadar spiritual yang melingkupinya. Dari masjid inilah ribuan ulama Islam di seluruh penjuru dunia dihasilkan. Kajian-kajian dengan sistem halaqoh yang tradisional masih digelar di dalam masjid, melengkapi metode pembelajaran yang kini lebih modern di dalam kelas-kelas.

* * *

Ketika Rasulullah SAW hijrah ke kota Madinah, yang beliau bangun terlebih dahulu adalah masjid, yaitu masjid Quba’. Dari masjid inilah Rasulullah memulai penyebaran agama Islam untuk menyembah Allah yang Esa, dan menata peradaban umat. Setelah itu beliau membangun masjid demi masjid untuk mengembangkan perjuangannya, sekaligus mengikat erat persaudaraan umat Islam secara berjamaah.

Maka, tidak heran para sahabat Nabi dan pengikutnya meniru beliau dalam menyiarkan Islam ke berbagai penjuru dunia. Yakni, membangun masjid sebagai awal dari pembentukan umat. Termasuk ketika umat Islam masuk ke Mesir mengalahkan kekuasaan Romawi yang menjajah disini. Masyarakat Mesir sangat bergembira ketika tentara Islam berhasil meruntuhkan kekuasaan Imperium Romawi disini, dan kemudian membangun masjid Amru bin Ash yang legendaris itu..!

Masjid yang hebat menjadi pondasi dari umat yang hebat pula. Dari sinilah berkumandang puji-pujian untuk Allah, Sang Penguasa Alam semesta.’’ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk memuliakannya, dan disebut nama-Nya di waktu pagi dan petang hari,’’ [QS. 24: 36].

Bersambung besok: Masjid Berdamping dengan Gereja dan Sinagog.

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Satu Balasan ke EKSPEDISI SUNGAI NIL (20)

  1. sangpenjelajahmalam berkata:

    Pengen bisa expedisi seperti itu, kapan ya??

    >> Lha ya itu Mas, pasti semua pada pingin. Lha tapi sponsore sopo??? Hehehehe…
    Trims sudi mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s