EKSPEDISI SUNGAI NIL (22)

by Agus Mustofa on Wednesday, September 1, 2010 at 11:19am

~ Benteng Megah yang Tak Pernah Dipakai Perang ~

Shalahuddin al Ayyubi adalah legenda yang masih hidup sampai sekarang. Namanya tercatat dalam buku-buku sejarah dunia, dan salah satu peninggalannya masih berdiri megah di kota Kairo: Benteng Shalahuddin. Penguasa Mesir abad 12 kelahiran Tikrit, Iraq ini dikenal sebagai pahlawan Islam dalam cerita perang Sabil.

Bentengnya sangat megah, berdiri di kawasan Jabbal Muqattam. Ini adalah kawasan perbukitan paling tinggi yang berada di kota Kairo. Shalahuddin memilih perbukitan ini dengan pertimbangan posisinya yang sangat strategi untuk mengontrol kawasan-kawasan penting dari serangan musuh.

Tapi selain itu, udaranya cukup segar. Sehingga, saat pemilihan lokasi, dikabarkan Shalahuddin memerintahkan stafnya untuk menyebar daging di berbagai kawasan sekitar Kairo. Ternyata daging yang ada di kawasan Muqattam bertahan lebih lama dibandingkan kawasan lain. Juga, kawasan ini sangat indah di waktu malam. Tak jauh dari benteng itu, masih di kawasan perbukitanl Muqattam, saya sempat duduk-duduk dengan orang-orang yang menikmati teh atau kopi, sambil menyaksikan kerlap-kerlipnya kota Kairo di waktu malam.

Untuk memasuki benteng, kendaraan pribadi harus parkir agak jauh, di bawah bukit. Dan tidak ada kendaraan untuk naik, kecuali harus berjalan kaki. Namun, dari jauh keindahan benteng ini memang sudah sangat menarik hati sehingga jarak ratusan meter itu tidak menjadi masalah. Ada 3 pintu gerbang yang bisa dimasuki, yaitu dari arah barat, utara dan selatan. Yang kini diaktifkan adalah bagian selatan, dengan halaman yang luas. Sebagiannya untuk parkir bus-bus wisatawan.

Memasuki benteng kita disambut oleh pintu gerbang yang megah, dengan menara yang kokoh menjulang ke langit. Tinggi dinding benteng sekitar 10 meter, dengan ketebalan 3 meter. Sedangkan menaranya dibangun pada jarak setiap seratus meter, sebagai konsentrasi pertahanan terhadap serangan musuh. Di menara ini banyak terlihat lubang-lubang jendela bagi pasukan pemanah. Sedangkan di bagian paling atas, adalah dek terbuka yang digunakan untuk menempatkan senjata meriam.

Benteng yang didirikan pada tahun 1176 ini dibangun dengan arsitektur Kastil termaju di zamannya. Pertahanannya ada 3 lapis. Yang pertama adalah pertahanan jarak jauh menggunakan meriam dan senjata panah. Ini dilakukan lewat menara-menara yang ada di sekeliling benteng.

Jika pasukan berhasil masuk ke benteng, mereka akan disambut dengan ruang terbuka di dalam benteng, yang dikelilingi tembok-tembok tinggi. Sehingga otomatis, pasukan musuh akan menjadi sasaran tembak yang empuk bagi pasukan di sekelilingnya. Dan, seandainya pun mereka berhasil melewati daerah ini, mereka akan disambut oleh lorong-lorong bercabang yang panjangnya 2100 meter. Disinilah, pasukan musuh akan dibantai satu-per satu.

Shalahuddin al Ayyubi datang ke Mesir pada usia 30 tahun, bersama dengan pamannya, Assaduddin Shirkuh seorang gubernur Homs di Syria untuk melakukan ekspedisi militer. Mereka dikirim oleh penguasa dinasti Abbasiyah, Sultan Nuruddin, untuk membantu dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir mengatasi pergolakan politik yang membahayakan posisi sultan Al ’Adid.

Misi itu sukses, sehingga Shirkuh diangkat sebagai penasehat sultan ’Adid sampai wafatnya. Sepeninggal Shirkuh, sultan Adid mengangkat Shalahuddin sebagai penggantinya menjadi penasehat kerajaan Mesir. Shalahuddin yang terlahir dari keluarga Islam Sunni madzab Syafii itu memang memiliki latar belakang militer yang kuat. Karena ayahnya, Najmuddin Ayyub adalah salah seorang panglima perang yang tangguh di Dinasti Abbasiyah.

Selama menjadi penasehat sultan itulah Shalahuddin belajar banyak, dan kemudian menjadi batu loncatan bagi kariernya untuk menduduki tahta kekuasaan Mesir. Pada tahun 1171 sultan al Adid wafat, maka Shalahudin menjadi penguasa penuh kerajaan Mesir. Ia mengangkat dirinya sebagai sultan, dan menjadi pendiri dinasti al Ayyubi di Mesir. Kemudian, ia memisahkan diri dari Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Damaskus pada tahun 1174, ketika sultan Nuruddin wafat.

Dua tahun setelah berkuasa penuh itulah Shalahuddin membangun bentengnya di Kairo. Kekuasaannya melebar sampai ke Syria, Yaman, Maroko, Palestina, Irak, dan sebagian jazirah Arabiyah, termasuk kota suci Mekah. Karena itu, tidak sedikit yang menyejajarkan kehebatan Sultan Shalahuddin ini dengan Umar bin Khaththab, Umar bin Abdul Aziz, ataupun Harun Al Rasyid yang juga legendaris.

Shalahuddin memberikan warna yang berbeda kepada masyarakat Mesir, dengan mengubah orientasi keislaman mereka. Di zaman bani Fatimiyah, mazhab Islamnya adalah Syiah. Di zaman Shalahuddin, berangsur-angsur berubah menjadi Sunni, bermazhab Syafii yang kental. Dan itu berlangsung sampai sekarang. Meskipun masyarakat Mesir sangat terbuka untuk berbagai aliran dan mazhab, tetapi dominannya adalah sunni.

Setelah merasa kuat dan bisa mengatasi situasi dalam negeri Mesir, Shalahuddin memulai perang Sabil pada tahun 1187, untuk merebut Al Quds di Palestina dari tangan orang-orang kristen. Ada pula yang menyebut perang ini sebagai perang Salib. Dalam waktu empat bulan ia berhasil menguasai Tiberias, Hittin. Raja Yerusalem saat itu, Guy De Lugsinan berhasil ditawannya. Maka, itu menjadi pembuka jalan baginya untuk masuk ke al Quds. Shalahuddin, lantas membuat perjanjian damai dengan orang-orang Kristen untuk boleh memasuki Yerusalem. Sampai akhirnya, ia meninggal di Syria pada tahun 1193, dan dimakamkan disana.

* * *

Benteng Shalahuddin yang megah itu, tidak pernah digunakan untuk berperang selama masa berdirinya. Dibangun pada tahun 1176, kini sudah berusia 834 tahun. Selama itu, benteng ini berganti-ganti tangan dari satu penguasa ke penguasa yang lain, hanya sebagai istana tempat tinggal raja dan sultan, sampai abad 19. Sultan Ali Pasha adalah pendiri dinasti terakhir kerajaan Mesir ini.

Orang besar meninggalkan karya besar, dan namanya akan dikenang sepanjang sejarah kehidupan manusia. Shalahuddin al Ayyubi adalah salah satu diantaranya. Dia seorang panglima perang yang hebat, politikus yang ulung, negarawan yang tangguh, sekaligus seorang ulama yang memberikan keteladanan lewat akhlaknya yang mulia. Bukan hanya umat Islam yang mengakui kehebatannya, tetapi juga para orientalis Barat. Diantaranya diceritakan dalam buku Talisman karya Walter Scott dan Nathan der Weise karya Lessing.

’’Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan banyak mengerjakan amal kebajikan adalah sebaik-baiknya makhluk. [QS. 98: 7]. … maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala atas amalan-amalan mereka itu…’’ [QS. 3: 5].

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Satu Balasan ke EKSPEDISI SUNGAI NIL (22)

  1. Kusawanto berkata:

    Terima kasih sekali atas infarmasi legenda sungai nil atau legenda firaun, maju terus untuk mas agus mustofa team ekspedisi semoga lebih sukses ke depannya.

    >> Dua Djempol !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s