EKSPEDISI SUNGAI NIL (23)

by Agus Mustofa on Thursday, September 2, 2010 at 1:00pm

~ Kubah Timah Putihnya Berpendar di Langit Kairo ~

Ada satu ikon kota Kairo yang selalu menghiasi buku-buku panduan para turis. Yaitu, Masjid Muhammad Ali Pasha. Masjid yang berada di dalam benteng Shalahuddin itu sungguh Indah. Kubahnya yang berlapis timah putih berpendar di langit Kairo, terlihat dari berbagai penjuru kota. Apalagi posisi benteng itu memang berada di kawasan Bukit Muqattam yang tinggi.

Masjid yang didirikan tahun 1830 di zaman sultan Ali Pasha itu, kini sudah berusia 180 tahun. Dibangun oleh arsitek dari Turki kelahiran Bosnia, Yusuf Bushnak. Desainnya mengadaptasi bangunan-bangunan Romawi dan Eropa modern. Lokasinya dipilih di bagian tertinggi dari Benteng Shalahuddin, sehingga perlu menghancurkan dua bangunan bekas istana Mamluk yang pernah berkuasa di Mesir.

Shalat jumat di masjid tersebut memberikan suasana yang berbeda. Saya sengaja datang pada hari Jumat, karena masjid ini tidak digunakan untuk shalat 5 waktu lagi. Hanya seminggu sekali. Ruang masjidnya luas, dengan desain akustik yang memukau. Gema suara di dalam masjid didesain sedemikian rupa, sehingga muadzin yang mengumandangkan azan tanpa pengeras suara pun, suaranya sudah terdengar cukup jelas. Apalagi ketika khatibnya berkhutbah dengan mikrofon, suaranya bergema megah.

Desain konstruksinya juga hebat. Kubah setinggi 52 meter yang megah itu hanya disanggah empat tiang dengan bentangan yang lebar, lebih dari 25 meter. Apalagi, kubah tersebut di bagian dalamnya masih dibebani dengan lampu gantung khas Eropa yang berbobot lebih dari 2 ton. Membuat kawan saya yang berpendidikan Teknik Sipil berdecak kagum mengamatinya. Di bagian luar, dibangun menara-menara setinggi 82 meter.

Kubah itu, bukan hanya indah dilihat dari luar, melainkan juga dari dalam. Selain ornamennya yang sangat indah, kubah utamanya disanggah oleh empat kubah yang lebih kecil berbentuk setengah lingkaran sebagai penyanggah beban kubah utama. Disinilah kecerdikan sang perancang, dia bisa memadukan antara kebutuhan artistik dengan kekuatan konstruksi.

Di pojok-pojok pertemuan antar kubah utama dan kubah pendukung dibuat tulisan kaligrafi nama-nama Khalifah di zaman Khulafaurrasyidin: Abu Bakar, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan di bagian atas Mihrab bertuliskan Allah dan Muhammad Rasullah.

Warna Hijau dan emas mendominasi dekorasi interior masjid. Berpadu dengan batu onyx dan marmer putih bergurat-gurat coklat. Dikombinasi dengan karpet merah menyala, sungguh sangat indah. Sebuah masjid dengan desain modern yang berselera tinggi, cerminan citarasa Sultan Ali Pasha yang ingin menampilkan Islam Mesir dalam wajah modern.

Ali Pasha memang bukan orang Mesir asli. Dia seorang Albania asal Kavalla yang datang ke Mesir sebagai panglima pasukan Turki utusan Dinasti Usmani. Dia dikirim untuk membantu rakyat Mesir melawan pasukan Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte yang menjajah Mesir.

Keberhasilannya memukul mundur tentara Napoleon, mengantarkan Ali Pasha menduduki jabatan gubernur Mesir. Dia didukung oleh rakyat dan memperoleh restu ulama-ulama al Azhar. Maka, sejak itulah dia merintis Dinasti Muhammad Ali Pasha yang menjadi kerajaan terakhir di Mesir. Ali Pasha berkuasa di Mesir pada tahun 1805 – 1849, selama 44 tahun.

Pemerintahannya bergaya militeristik. Untuk menstabilkan situasi dalam negeri, Ali Pasha membasmi petinggi-petinggi Mamluk yang menguasai Mesir generasi sebelumnya. Ratusan petinggi mereka diundang makan di istana, dan kemudian dihabisi tanpa ada yang tersisa. Konon, tak kurang dari 500 orang.

Sultan yang kontroversial ini mengembangkan Mesir Modern dengan dibantu anaknya, Ibrahim Pasha. Dibawah kendali mereka kekuasaan Mesir meluas sampai ke Syria, Palestina, Yaman, Saudi Arabia; bahkan hingga Oman, Iraq, dan Bahrain. Ia bercita-cita membuat Imperium Islam baru menyaingi Dinasti Usmani, Turki yang mengutusnya. Tetapi, akhirnya ia bisa ditekan oleh Turki yang bersekutu dengan Inggris dan Perancis. Sejak itulah, intervensi dunia Barat mengalir masuk ke Mesir hingga kini.

Di zaman dinasti Ali Pasha Mesir berkembang dengan berorientasi ke Barat, khususnya Eropa. Dan lebih khusus lagi Perancis. Ia banyak mengirim pelajar-pelajar untuk bersekolah di Eropa. Dia juga melakukan berbagai kerjasama ekonomi dan perdagangan, pengembangan sistem administrasi pemerintahan, arsitektur, seni budaya, dan konstruksi bangunan.

Di zaman Muhammad Ali pula Mesir membangun bendungan-bendungan baru, memperbaiki kanal-kanal pengairan dari sungai Nil, dan menumbuhkan sektor pertanian. Ia memberikan perhatian lebih pada komoditas kapas dan tebu. Dan tentu, ia lantas memperkuat armada militernya, sehingga sangat disegani di kawasan Timur Tengah.

Ketika wafat, keturunannya meneruskan kebijakan untuk membawa Mesir ke Western-minded. Di zaman Said Pasha, Mesir membangun terusan Suez bekerjasama dengan Inggris dan Ferdinand de Lesseps dari Perancis. Kanal strategis ini menjadi salah satu sumber pemasukan yang signifikan, yang kelak menjadi rebutan antara ketiga negara pengelola. Sampai kini, terusan Suez menjadi jalur kapal-kapal besar yang berlalu lalang antara Laut Mediterania dan Laut Merah.

Dinasti Muhammad Ali Pasha runtuh di zaman Raja Farouq, tahun 1952. Raja yang terkenal hidup mewah itu dikudeta oleh rakyat Mesir dibawah pimpinan Jenderal Muhammad Najib dan Gamal Abdul Nasser, yang kemudian mereformasi pemerintahan Mesir menjadi Republik pada tahun 1953, hingga sekarang. Sedangkan Raja Farouq diasingkan ke Monaco sampai meninggalnya. Ia yang memiliki bobot 140 kg itu meninggal di atas meja makan, saat jamuan di Roma Italia, dalam usia 45 tahun..!

* * *

Begitu banyak kisah yang dihamparkan Allah di sekitar kita. Ada yang baik dan ada yang buruk. Semua mengandung pelajaran bagi kita agar menjadi orang yang lebih baik ke masa depan. Orang sukses adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya untuk selalu berbuat baik. Itulah yang di dalam al Qur’an disebut sebagai orang yang bertakwa. Sedangkan orang zalim adalah mereka yang tak mampu mengendalikan dorongan hawa nafsunya, sehingga mencelakakan dirinya sendiri, di dunia maupun di akhirat.

’’Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan? Dan Allah membiarkannya tersesat berdasarkan ilmu-Nya. Dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya, serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?’’ [QS. 45: 23]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s