EKSPEDISI SUNGAI NIL (24)

by Agus Mustofa on Friday, September 3, 2010 at 1:00pm

~ Tangannya Bergerak, Setelah 3.127 Tahun Jadi Mumi ~

Sejak kemarin kami menyimpang dari jalur sungai Nil menuju Gurun Sinai, untuk napak tilas kisah Nabi Musa. Dialah musuh besar Firaun yang diceritakan oleh agama-agama Ibrahim di dalam kitab Taurat, Injil dan Al Qur’an. Utusan Allah yang terlahir di zaman Ramses II ini sangat banyak diceritakan di dalam kitab suci sebagai ’petarung tangguh’ yang diutus Tuhan untuk menghentikan keganasan Firaun.

Sejak dari Abu Simbel di perbatasan Sudan sampai Kairo, sebenarnya tim Ekspedisi sudah menempuh sekitar 85 persen panjang sungai Nil. Tidak jauh lagi, kami akan sampai di Alexandria sebagai muaranya. Jaraknya hanya tinggal 250 km. Tetapi, selama beberapa hari ke depan, kami sengaja tidak melanjutkan perjalanan menyusuri sungai ke arah muara, melainkan menyimpang ke timur menyeberang Teluk Suez terlebih dahulu.

Ada beberapa agenda yang ingin kami telusuri, terkait dengan kisah eksodus Bani Israil dari Mesir. Dan ini terkait erat dengan berbagai situs Mesir kuno yang bercerita tentang Firaun di sepanjang sungai Nil. Dengan mengembangkan penelusuran ini, saya harapkan pembaca akan memperoleh gambaran lebih utuh tentang kisah Firaun vs Musa.

Dimanakah Musa dilahirkan? Dimana dia dibesarkan? Dimana pula dia melakukan penyeberangan saat dikejar oleh Firaun? Siapakah Firaun yang tenggelam di Laut Merah: Ramses II ataukah Firaun yang lain? Dan seterusnya, termasuk saya akan mendaki gunung Sinai untuk merasakan suasana saat Nabi Musa menerima wahyu Taurat di Jabbal Musa.

Dan kemudian, kami akan mengakhiri napak tilas kisah Musa ini di kota Sharm El Sheikh, dimana Musa bertemu dengan manusia misterius, Khidr, yang sempat menjadi guru spiritualnya. Perjalanan menyusur kawasan Sinai menempuh jarak lebih dari 1000 km, sampai balik lagi ke lembah Nil di dekat Delta, untuk melanjutkan Ekpedisi ke muaranya di laut Mediterania.

Tidak seperti biasanya yang hanya bercerita secara deskriptif, setidak-tidaknya dalam dua tulisan hari ini dan besok, saya akan memberikan sedikit analisa untuk menyambungkan cerita secara utuh tentang kisah Musa vs Firaun. Selebihnya, saya akan menuangkan cerita perjalanan spiritual ini dalam bentuk buku yang insya Allah, akan saya terbitkan bulan depan.

Sempat saya singgung ketika bercerita tentang kota Fayoum, bahwa kawasan subur itu pernah menjadi permukiman orang Yahudi alias Bani Israil, yakni sejak zaman nabi Yusuf. Disanalah istana Qarun berada. Dan di sekitar kawasan itu pula Nabi Musa dilahirkan.

Kalau kita lihat dalam peta sungai Nil, maka kota ini berada sebelum kota Memphis, yang kala itu sudah tidak menjadi ibukota kerajaan Firaun lagi. Ibukota di zaman Ramses II sudah berpindah ke Luxor. Tetapi, kota Memphis masih menjadi kota metropolitan sampai ribuan tahun berikutnya. Sehingga, lazim para raja memiliki istana musim panas di kawasan dekat delta sungai Nil itu. Termasuk Ramses II. Dan, tidak heran pula di museum Memphis bertengger patung Ramses II dalam ukuran raksasa.

Saat Musa dilahirkan, Ramses II sudah berusia diatas 54 tahun. Dan sudah mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Kalau kita telusuri sejarahnya, Ramses II diangkat sebagai Firaun pada usia 24 tahun. Ia sudah sepenuhnya mengendalikan Mesir dalam waktu dua puluh tahun pertama. Dan kemudian, mengangkat dirinya sebagai Tuhan, setelah 30 tahun berkuasa.

Setelah itulah Musa terlahir dari rahim seorang wanita Bani Israil sebagai keturunan keempat dari Nabi Ya’kub. Musa sezaman dengan Qarun, familinya, yang bekerja pada Ramses II sebagai penjilat. Kelahiran Musa membuat Firaun gusar. Sebab, para penasehat spiritualnya mengatakan bahwa akan lahir bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil yang kelak akan mengalahkan kekuasaan Firaun. Ia pun memerintahkan untuk membunuhi bayi laki-laki dari Bani Israil [QS. 2: 49].

Tapi, bayi Musa diselamatkan oleh Allah dengan cara yang sangat istimewa. Ibu Musa memperoleh ilham dari Allah, untuk menghanyutkan bayinya di aliran sungai Nil. Dan atas kehendak-Nya, bayi yang ditaruh di keranjang bayi itu ’berlabuh’ di istana Firaun di Memphis. Saat itu, kemungkinan besar Nefertari, istri yang paling dicintai Firaun sedang berada di taman pinggiran sungai Nil. Ia melihat sang bayi lucu itu, dan jatuh hati kepadanya.

Diambilnya keranjang berisi bayi itu, dan ia meminta kepada Firaun untuk tidak membunuhnya. Tetapi, memelihara bayi laki-laki berkulit putih yang jelas-jelas bukan dari kaum Firaun tersebut [QS. 28:9]. Ramses tak mampu menolak permintaan sang isteri tercinta. Apalagi, Nefertari pernah kehilangan anak laki-laki Amunherkhepseshef, yang meninggal saat masih remaja. Padahal dialah pangeran utama yang digadang-gadang akan menggantikan kekuasaan Ramses II.

Perlindungan Allah terus berlanjut kepada Musa. Bayi itu tidak mau disusui oleh siapa pun. Dan hanya mau diberi air susu ibunya yang jelas-jelas berwajah Bani Israil. Tetapi hati Firaun luluh oleh permintaan isteri tercintanya. Sehingga dalam sebuah sayembara, ibu Musa terpilih sebagai pengasuh yang menyusui dan memelihara Musa sampai masa kanak-kanaknya berakhir. [QS. 28: 12].

Singkat cerita, Nabi Musa yang musuh besar Firaun dibesarkan di dalam istana Firaun sendiri. Sampai suatu ketika ia menjadi pemuda dan membunuh orang Qibthi alias orang Mesir asli, yang sedang berkelahi dengan seorang pemuda Bani Israil. Maka, Firaun pun tak mampu menahan diri untuk menghukum Musa. Dia geram kepada Musa, pemuda Bani Israil yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun, tetapi tetap menunjukkan pembelaannya kepada Bani Israil yang dibenci Firaun.

Musa pun melarikan diri meninggalkan kota Memphis, menuju negeri Madyan, di timur negeri Mesir. Disana, Musa diambil menantu oleh Nabi Syuaib sekaligus belajar agama kepadanya, selama sepuluh tahun atau lebih.[QS.28: 27]. Menjelang usia empat puluh tahun, Musa bersama keluarganya meninggalkan negeri Madyan menuju ke Mesir. Di tengah jalan, di sekitar gunung Sinai, Musa melihat api di sebuah bukit. Dia pun mendaki bukit itu. Ternyata, disana dia menerima perintah dari Allah untuk menghentikan kesewenang-wenangan Firaun, serta mendakwahkan agama Tauhid. Allah pun membekalinya dengan beberapa mukjizat.

Sebelum kedatangannya ke negeri Mesir itulah, Firaun Ramses II meninggal dunia. Beberapa tahun terakhir sebelum kematiannya, Ramses menderita sakit komplikasi yang menyiksanya. Kekuasaannya tidak lagi efektif, sehingga pemerintahannya dikendalikan oleh anaknya, Merneptah, yang sekaligus panglima perangnya. Ramses II meninggal dunia dalam usia 97 tahun, dan dimakamkan di Lembah Raja. Sayang, makamnya dibobol pencuri harta Firaun. Dan muminya sempat tidak jelas keberadaannya.

Baru pada tahun 1881, mumi Ramses II diketemukan oleh para arkeolog di sekitar Lembah Raja, untuk dipindahkan ke Museum Mesir di Kairo. Tapi yang mengerikan, ketika kain kafan mumi itu dibuka, tangan kiri Firaun bergerak terangkat dari posisi silang di depan dadanya. Ia menunjukkan ekspresi terakhirnya saat meregang nyawa. Entah apa yang menyebabkan, tangan sang mumi masih bisa bergerak setelah lewat 3.127 tahun dari saat kematiannya..!

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Satu Balasan ke EKSPEDISI SUNGAI NIL (24)

  1. rizma berkata:

    HOAX..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s