EKSPEDISI SUNGAI NIL (25)

by Agus Mustofa on Friday, September 3, 2010 at 9:36pm

~ Merneptah, Firaun yang Tenggelam di Laut Merah ~

Misteri besar yang masih belum terjawab tuntas adalah: siapakah Firaun yang bertarung melawan Musa, dan akhirnya mati tenggelam di Laut Merah itu? Karena, ternyata Ramses II yang merawatnya sejak kecil sudah meninggal dunia dalam usia tua.

Kematian Ramses II menyebabkan Merneptah naik tahta. Karena dialah anak laki-laki tertua yang masih hidup, setelah dua belas kakak laki-lakinya meninggal dunia sebelum masa pewarisan. Merneptah sudah berusia sekitar 50 tahun waktu diangkat sebagai Firaun. Hampir sebaya dengan Musa. Sebelumnya, dia adalah panglima perang Ramses II yang sangat terkenal. Dan menguasai ratusan ribu tentara.

Ketika berkuasa, Merneptah juga mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kelakuan sewenang-wenangnya tak jauh dari bapaknya. Jika nama Ra Mses bermakna keturunan Dewa Matahari (Ra), maka nama Merne Ptah bermakna Kesayangan Dewa Pencipta (Ptah). Merneptah mengendalikan kekuasaannya secara diktator militer. Dia biasa menghukum siapa saja yang berani menentangnya, dan tak segan-segan membunuhnya dengan cara menyiksa terlebih dahulu.

Al Qur’an menggambarkan, Nabi Musa merasa menciut nyalinya ketika diperintahkan Allah untuk menemui penguasa negeri Mesir itu. ’’Pergilah kepada Firaun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,’’ [QS. 20: 24-25]

Maka, Musa meminta izin kepada Allah agar Harun yang masih saudara sepupunya diperbolehkan menemani dalam berdakwah. Apalagi, untuk menghadapi Firaun dengan balatentaranya yang terkenal bengis itu. ’’Sungguh, aku akan memotong tangan dan kakimu bersilangan secara timbal balik, kemudian sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.” Demikian ancam Firaun kepada siapa saja yang berani menentangnya.

Termasuk kepada para tukang sihir yang terbukti kalah melawan Musa, dan lantas memberikan pengakuan bahwa Musa benar-benar seorang utusan Tuhan. Apa yang dibawa Musa bukanlah sihir, melainkan mukjizat. Maka, bertambah murkalah sang Firaun. Dia pun mengobarkan permusuhan kepada Bani Israil secara lebih keras. Bukan hanya membunuhi anak lelakinya, tetapi menyiksa dan menumpas bani Israil.  Pertarungan antara Musa dengan Firaun itu berjalan sekitar 10 tahun, yaitu selama masa pemerintahan Merneptah (1213 – 1203 SM).

Di zaman Merneptah inilah kemudian bangsa Israil diusir dari Mesir. Data ini terdapat di Museum Mesir, Kairo. Tertulis dalam huruf Hiroglif di sebidang batu granit yang dinamakan Prasasti Merneptah atau Israel Stela. Inilah satu-satunya prasasti yang menyinggung tentang Bani Israil dalam artefak para Firaun yang berkuasa sepanjang ribuan tahun, sebanyak 30 dinasti.

Tak tahan menghadapi kebrutalan Firaun dan balatentaranya, Musa mengajak seluruh Bani Israil untuk eksodus besar-besaran menuju Palestina. Yang paling dekat adalah menyeberangi laut, di teluk Suez. Ada 3 pendapat utama tentang lokasi penyeberangan ini. Yang pertama adalah di danau Ballah, yang posisinya dekat Laut Mediterania dibandingkan Laut Merah. Jaraknya lebih dari 150 km dari Memphis.

Yang kedua adalah danau Timsah  yang berjarak sekitar 120 km. Dan yang ketiga adalah ujung teluk Suez yang berjarak tidak sampai 100 km. Saya lebih condong alternatif yang ketiga ini, yaitu di ujung teluk Suez yang masih terhubung secara langsung dengan Laut Merah.

Ada alasan kuat yang mendasarinya. Yaitu, rombongan Musa sedang dikejar-kejar oleh tentara Firaun, dan mereka sedang berusaha sesegera mungkin untuk mencapai pantai. Karena, menurut QS. 20: 77 Musa dan rombongannya memang diperintahkan untuk berangkat pada malam hari menuju pantai, dan baru tersusul di pagi hari. Maka yang terdekat adalah teluk Suez. Ayat itu menyebut laut sebagai tempat penyeberangan, bukan danau.

Selain itu, perjalanan ratusan ribu orang ini dilakukan dengan berjalan kaki. Tentu, mereka memilih jarak yang terdekat. Dan pada pagi hari mereka segera tersusul oleh pasukan Firaun. Jika kecepatan berjalan mereka sekitar 15 km/ jam maka rombongan ini sampai di pantai sekitar 6-7 jam. Sudah memasuki waktu  pagi.

’’Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sungguh Tuhanku besertaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. [QS. 26: 61-62]

Dan benarlah apa yang menjadi keyakinan Musa. Allah memberikan pertolongan di luar dugaan. Karena, dia sendiri sebetulnya tidak tahu harus melakukan apa saat rombongan Bani Israil sampai ke tepi pantai, sementara tentara yang dipimpin Firaun sudah kelihatan semakin mendekat.

Maka Allah memerintah Musa untuk memukul laut dengan tongkat yang dibawanya. Seketika itu bumi bergetar, diperkirakan terjadi gempa tektonik yang menyebabkan terjadinya Tsunami. Air laut pun surut beberapa saat, sehingga memberi kesempatan kepada rombongan Musa untuk menyeberang. Tetapi, malang menghadang pasukan Firaun. Mereka yang sedang mengejar Bani Israil itu digulung oleh ombak menggunung yang datang kemudian.

’’ Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (Musa), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.’’ [QS. 2: 50].

* * *

Musa, sang utusan Allah, akhirnya bisa mengalahkan Firaun. Penguasa yang mengaku dirinya sebagai Tuhan itu pun tenggelam bersama ribuan tentara yang dikerahkan untuk membasmi Bani Israil. Allah menyelamatkan jasadnya untuk dijadikan pelajaran bagi umat yang hidup kemudian.

’’Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.’’ [QS. 10: 92]

Jenazah Firaun diketemukan beberapa hari kemudian oleh masyarakat di tepi pantai, dan lantas diserahkan kepada pihak kerajaan. Keganasan Firaun Merneptah pun runtuh dalam sepuluh tahun kekuasaannya. Jasadnya dimumifikasi, dan dikubur di Lembah Raja, di makam keluarga KV-5. Kini muminya bisa disaksikan di Museum Mesir, Kairo, dibaringkan berdekatan dengan ayahnya, Ramses II.

Tetapi menariknya, warna kulit mumi Merneptah berbeda dibandingkan dengan mumi-mumi lainnya. Mumi Firaun yang satu ini berwarna pucat keputih-putihan. Diduga, karena jenazahnya terendam air laut selama beberapa hari, saat tenggelam di Laut Merah..!

Bersambung besok: //Dipukul Tongkat Musa, Batu Menyemburkan Air//

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s