jump to navigation

EKSPEDISI SUNGAI NIL (26) September 30, 2010

Posted by bayupancoro in bayu pancoro.
trackback

by Agus Mustofa on Sunday, September 5, 2010 at 12:24am

~ Tongkat Musa, dan Perjuangan Membimbing Umatnya ~

Menyeberangi Teluk Suez kami memasuki benua Asia. Namun, karena masih berdekatan dengan benua Afrika, suasananya tak terlalu jauh berbeda. Sepanjang mata memandang terlihat gurun pasir yang tandus, berhias bukit-bukit batu. Inilah kawasan Gurun Sinai yang terkenal itu. Sinai utara penuh dataran padang pasir, Sinai selatan penuh dengan perbukitan batu.

Untuk menyeberanginya kami tidak perlu mengunakan kapal Feri, tetapi menggunakan terowongan bawah laut sepanjang 1,5 km. Ini adalah jarak penyeberangan yang paling dekat antara benua Afrika dan Asia. Diperkirakan di sekitar daerah ini pula Musa melakukan penyeberangan saat dikejar Merneptah. Tempat penyeberangan Bani Israil itu kini menjadi tempat lalu lalangnya kapal-kapal berukuran besar dari kawasan Eropa menuju Asia ataupun sebaliknya.

Keluar dari terowongan kami menyusuri pantai untuk menuju gunung Sinai atau yang dikenal juga sebagai Jabbal Musa. Jaraknya sekitar 415 km dari Kairo. Atau sekitar 300 km dari terowongan Teluk Suez. Pemandangan di kanan kiri kami sangat kontras, namun indah luar biasa. Di sebelah kiri, kami menyaksikan perbukitan batu yang kering kerontang. Tapi di sebelah kanan kami adalah laut luas yang membiru. Ya, kami sedang menyusuri pantai Teluk Suez ke arah selatan.

Kawasan Sinai sangat bersejarah karena menjadi saksi berbagai peristiwa eksodusnya Bani Israil dari negeri Mesir. Sebelum memasuki Palestina yang menjadi tujuan akhir mereka, Bani Israil sempat bertahun-tahun berada di kawasan tandus ini. Banyak kejadian-kejadian menarik yang menyertai perjalanan Bani Israil itu.

Setelah keberhasilan Musa memimpin Bani Israil keluar dari Mesir, Musa bersama umatnya menuju ke Gunung Sinai. Musa ingin bermunajat dan bersyukur kepada Allah atas perlindungan yang diberikan-Nya. Dan mohon bimbingan untuk membawa umatnya ke tanah harapan, yaitu Palestina.

Musa meninggalkan Bani Israil di kaki Sinai, dalam pimpinan saudaranya, Nabi Harun. Ia berjanji akan pulang setelah 30 hari bermunajat di puncak Sinai. Maka, Musa pun berpuasa selama 30 hari untuk mensucikan jiwa raganya, agar bisa kerkomunikasi dengan Allah lebih jernih. Ternyata, Allah memerintahkan untuk menyempurnakan puasanya menjadi 40 hari. Lantas, Musa memperoleh wahyu Taurat bagi umatnya.

Digambarkan Musa berdialog langsung dengan Allah, sehingga dia memperoleh julukan Kalimullah di dalam al Qur’an, yakni orang yang diajak bicara langsung oleh-Nya. ’’Allah berfirman: “Hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu diantara manusia yang lain, untuk membawa risalah-Ku. Dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. Karena itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu. Dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. [QS. 7: 144].

Sayang, sepulang Musa dari Puncak Sinai, kaumnya justru terpengaruh ajakan Samiri untuk beribadah mengikuti agama pagan lagi. Mereka menyembah patung sapi, buatan Samiri, yang juga salah satu kaum Musa. Dengan alasan, Musa hilang di puncak Sinai. Dan Tuhan Musa adalah kebohongan semata, karena tidak bisa dilihat. Tuhan yang benar, adalah seperti yang telah mereka kenal selama di Mesir, yaitu Dewi Hathor yang bertanduk sapi, dan Apis sang Dewa Sapi.

Tentu saja Musa marah dan sedih bukan main. Dihajarnya Samiri, dan dilemparkannya patung Sapi itu. Bahkan Nabi Harun pun dipegang kepalanya, hendak dihajar juga. Namun, Harun bisa menenangkan kembali Musa. Dan menjelaskan bahwa keterlambatan Musa pulang menyebabkan Samiri bisa mempengaruhi Bani Israil yang lemah iman untuk kembali ingkar.

Bukan hanya itu, Bani Israil pun lantas meminta Musa untuk menunjukkan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang bisa terlihat. Tentu saja Musa gemetar, karena sesungguhnya ia baru melakukan permintaan yang sama kepada Allah ketika sedang di puncak Sinai. Saat itu, bukit tempat dia berpijak bergetar hebat, dan bebatuan di sekitarnya hancur berantakan. Dan, Musa pingsan.

Kini, permintaan itu juga diucapkan oleh umatnya, dan kemudian Allah menunjukkan Kekuasaan-Nya lagi dengan menurunkan halilintar. ’’Dan (ingatlah), ketika kalian (bani Israil) berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas”, karena itu kalian disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.’’ [QS. 2: 55].

Setelah bisa menguasai kembali umatnya, Musa mengajak mereka untuk menuju ke Palestina. Itulah tanah yang dijanjikan bagi bani Israil untuk bermukim dengan tenang. Tetapi, saat itu Palestina sedang dalam kekuasaan bangsa lain, yang tidak menghendaki Bani Israil bermukim di dalamnya. Padahal, sebenarnya mereka memiliki hak atas tanah Palestina, karena nenek moyang mereka dari kawasan ini.

Musa mengajak mereka untuk menuntut hak itu, meskipun untuk itu harus berperang. Sayang, sebagian besar Bani Israil tidak mau melakukannya. Mereka justru ketakutan, dan memilih untuk mengembara di sekitar gurun Sinai, yang dikenal sebagai Padang Tiih. Kisah itu diceritakan panjang lebar dalam QS.5: 21-26.

’’Allah berfirman: (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan) orang-orang yang fasik itu.’’ [QS. 5: 26]

Maka, menderitalah Bani Israil selama empat puluh tahun di Gurun Sinai. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu kawasan ke kawasan yang lain. Untungnya Allah masih sangat pemurah kepada mereka. Sehingga mereka memperoleh makanan yang ada di daerah tandus itu. Diantaranya yang diterangkan oleh al Qur’an adalah Manna dan Salwa, yaitu sejenis madu dan burung puyuh. Dengan makanan itu, mereka memperoleh sumber karbohidrat, protein dan lemak untuk kehidupannya.

Mereka juga menyuruh Musa untuk memintakan air kepada Allah, dengan cara yang memojokkan. Kalau seandainya Tuhan Musa benar-benar ada, maka mereka minta diberi sumber air di padang tandus itu. Dengan sabar, Musa memintakannya kepada Allah. Dan kemudian, dia diperintah Allah untuk memukulkan tongkatnya ke bebatuan. Maka, menyemburlah mata air-mata air dari pecahan bebatuan itu. Jumlahnya 12 buah,  sebanyak suku Bani Israil yang menjadi umat Nabi Musa. Mata air yang dikenal sebagai Uyun Musa ini, masih bisa dilihat bekasnya di padang pasir Sinai.

Bukan hanya itu, mereka kemudian meminta lagi dengan cerewetnya, agar Musa memintakan kepada Tuhannya: segala macam sayuran, buah-buahan, rempah-rempah dan segala macam yang mereka butuhkan, sehingga membuat Musa marah. Padahal, kata Musa, mereka bisa memperoleh itu di kota-kota terdekat, karena tak mungkin mendapatkannya di gurun Sinai yang tandus.

Akhirnya, Musa memutuskan untuk bersabar dalam membimbing umatnya. Ia menunggu Bani Israil sampai melahirkan generasi berikutnya. Pelajaran sabar itulah yang ia peroleh dari Nabi Khidr, ketika Allah memerintahkkan untuk berguru kepadanya. Empat puluh tahun kemudian, Musa berhasil mendidik generasi muda Bani Israil untuk berjuang memasuki negeri harapan, yakni Palestina. Sayang ia terburu meninggal dunia, sebelum Bani Israil berhasil masuk ke kota suci itu…!

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: