EKSPEDISI SUNGAI NIL (27)

by Agus Mustofa on Sunday, September 5, 2010 at 10:18pm

~ Mendaki Gunung Sinai di Waktu Sahur ~

Menjelang Maghrib kami baru sampai di kota St Katherine. Inilah sebuah kota kecil di kaki gunung Sinai, yang penduduknya hanya beberapa ribu keluarga. Kotanya tenang, jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor. Kawasan lembah ini berada di cekukan perbukitan batu yang tandus dan tebing-tebing tinggi. Bagaikan bayang-bayang raksasa yang sedang berkerumun, saat matahari hampir tenggelam, jam tujuh malam.

Kami langsung mencari penginapan agar bisa beristirahat sejenak, setelah berkendara 6 jam melintasi gurun pasir. Sejumlah hotel strategis yang kami datangi fully-booked, tak ada kamar kosong. Kami pun mencari yang agak ke ujung jalan, dan alhamdulillah masih ada. Ternyata, sejumlah hotel itu dipesan oleh rombongan turis dari Eropa. Beberapa bis berderet-deret di depan hotel mereka.

Jam dua dini hari, usai shalat malam dan sahur, kami telah berada di kaki gunung Sinai. Terminalnya penuh dengan bis dan kendaraan para peziarah. Kebanyakan datang dari Eropa, dan beragama kristen. Sebagiannya lagi orang-orang Yahudi. Dan sedikit diantaranya beragama Islam. Bagi orang Kristen dan Yahudi, berziarah ke gunung Sinai ini setara dengan umroh ke tanah suci Mekkah bagi umat Islam.

Mereka terlihat membawa perbekalan yang cukup untuk mendaki gunung setinggi 2.285 meter dari permukaan laut. Tetapi, pendakian dari kaki Sinai sebenarnya tinggal menyisakan sekitar 1000 meter saja. Jalan setapaknya hanya bisa dilewati unta dan manusia. Saya lihat, kebanyakan peziarah membawa ransel kecil berisi makanan dan minuman, sambil memegang tongkat.

Yang paling penting adalah minuman atau air mineral. Karena dari pengalaman para peziarah sebelumnya, pendakian itu akan memakan waktu 4 jam untuk naik, dan 3 jam untuk turun. Jadi, total sekitar 7 jam. Tentu, harus mengganti tenaga yang hilang dengan makanan dan minuman. Sayang, kami tidak akan bisa melakukan itu, karena sedang berpuasa. Tetapi, tekat kami sudah bulat. Kami harus sampai ke atas. Terutama saya, agar bisa bercerita untuk pembaca.

Di waktu sahur itulah kami mulai mendaki dengan berjalan kaki. Suasana gelap malam hari mengharuskan peziarah membawa lampu senter. Tapi, setelah beberapa saat berjalan dalam kegelapan, kami memilih untuk tidak menggunakannya lagi. Mata kami sudah beradaptasi dengan kegelapan malam. Apalagi, bulan sepotong di langit sangat membantu menerangi jalanan setapak yang kami lewati.

Tak berapa lama berjalan, kami bertemu dengan gereja besar di kaki gunung Sinai: Gereja St Katherine, gereja legendaris masyarakat kota ini. Di depannya ada pos penjagaan polisi. Kami ditanyai, apakah sudah membawa pemandu untuk berziarah. Sebab, bagi yang tidak kenal rutenya, bisa tersesat. Dan tidak diizinkan untuk meneruskan perjalanan. Kecuali, ’menyewa’ salah satu polisi itu sebagai guide. Kami berusaha menawar, agar kami bisa mendaki sendiri, karena salah satu anggota tim ekspedisi ~ Dadan S. Junaedy ~ sudah pernah mendakinya.

Mereka tetap bersikukuh melarang. Kecuali, bila kami mau menyewa unta dan penggembalanya yang orang Badui. Akhirnya, kami memutuskan menyewa unta saja, empat ekor. Sekalian untuk berhemat tenaga karena sedang dalam kondisi puasa. Maka, menjelang subuh itu kami mengendarai unta menuju ke puncak Sinai.

Ternyata, naik unta dalam waktu lama tidak senyaman yang kita duga. Perut dan pinggang serasa dikocok-kocok, sakit semua. Lebih nikmat berjalan kaki. Apalagi, di jalanan menanjak, dan unta yang kadang tidak dijaga sepenuhnya oleh para penggembalanya. Setiap dua ekor unta dijaga oleh satu orang Badui. Maka, satu jam naik unta, isteri saya menyerah. Ia yang sempat ketakutan karena untanya lepas kendali, akhirnya minta turun di pos peristirahatan pertama. Dan tidak mau melanjutkan mendaki lagi. Dia ketakutan naik unta di jalanan terjal, apalagi badan terasa pegal-pegal.

Saya memutuskan melanjutkan perjalanan berdua dengan Dadan. Sedang anggota tim lainnya, Yovi saya minta untuk menemani isteri saya di pos tersebut. Perjalanan yang tersisa masih sekitar 2,5 jam. Dengan rute yang semakin menanjak. Saya shalat subuh di atas unta. Karena tidak ada musholla atau tempat yang layak untuk turun shalat.

Dua jam kemudian, punggung dan perut saya benar-benar terasa sakit. Hampir-hampir tak tahan rasanya. Untung, di depan saya sudah terlihat tempat pemberhentian terakhir, yaitu pos ke tujuh. Sisa rutenya, sudah tidak bisa ditempuh dengan naik unta lagi. Harus berjalan kaki. Dan, masya Allah, sisa rute itu ternyata berupa tebing terjal menuju puncak Jabbal Musa. Di depan saya membentang anak tangga dari bebatuan dengan kemiringan antara 45 – 60 derajat.

Anak tangga itu berjumlah sekitar 800 buah. Ketinggian setiap trapnya sekitar 30 cm. Jadi, tebing yang masih harus didaki sekitar 250 meter lagi. Inilah perjuangan terakhir, sebelum para peziarah menikmati matahari terbit di puncak Sinai dan merasakan suasana Nabi Musa saat berada di sana. Dengan mengempos semangat, saya melangkah mendaki tebing curam dengan hati-hati, menjelang pagi.

Ketinggian yang hanya 250 meter itu serasa berkilo-kilo meter saja laiknya. Setiap belasan anak tangga, nafas saya terengah-engah. Maklum sudah lebih dari 20 tahun tidak pernah berjalan mendaki gunung lagi. Dan, tenggorokan yang kering disebabkan nafas memburu, kini tidak bisa dibasahi air lagi karena berpuasa.

Tapi, semangat saya tak surut sedikit pun, terbayang betapa nabi Musa naik ke bukit ini sendirian untuk bermunajat kepada Allah. Sekitar setengah jam kemudian, perjuangan itu berakhir. Jantung terasa hampir copot. Dan nafas memburu, dalam dinginnya hawa pegunungan yang berkadar oksigen rendah.

Namun, sungguh luar biasa pemandangan di puncak Jabbal Musa. Di ufuk Timur, matahari sedang beranjak memperlihatkan dirinya. Warna langit yang kuning kemerahan menjadi latar belakang puncak-puncak gunung di sekitarnya, diantara lembah dan ngarai yang tiada tara: Subhanallah…!

Di puncak itulah para peziarah mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Dalam bahasa agama masing-masing. Saya melihat ada dua tempat ibadah tak berapa besar yang bertengger di puncak Sinai, yaitu sebuah musholla dan gereja. Sebagian peziarah memanfaatkannya untuk berdoa. Sebagian lagi memilih di tempat terbuka sambil menikmati matahari terbit.

Saya memilih berdoa dan bersyukur di atas sebuah batu besar, yang dari tempat itu saya bisa melihat lembah sekeliling puncak Jabbal Musa. Saya membayangkan, disinilah dulu utusan Allah itu bermunajat kepada-Nya, berdialog langsung dengan-Nya. Dan ketika beliau meminta kepada Allah untuk bisa melihat Zat-Nya, bukit di sekitar puncak Jabbal Musa itu pun bergetar hebat, lantas runtuh membuat Nabi Musa pingsan karenanya.

Kini, saya menyaksikan bukit-bukit batu itu. Memang berbeda dengan bukit-bukit yang lebih jauh di sekelilingnya. Bebatuan di sekitar puncak Jabbal Musa itu terlihat pecah belah berantakan. Seperti pernah dilanda gempa..!

Saya menjadi ingat firman-Nya di dalam al Quran: ’’… Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung, maka gunung itu pun hancur dan Musa jatuh pingsan. Setelah tersadar, Musa berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman”. [QS. 7: 143].

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s