EKSPEDISI SUNGAI NIL (28)

by Agus Mustofa on Monday, September 6, 2010 at 11:22pm

~ Menyusuri Laut Merah ke Tempat Nabi Khidr ~

Turun dari Jabbal Musa, kami sampai di penginapan pukul 10 pagi. Untuk menghilangkan lelah setelah mendaki gunung Sinai semalaman, saya beristirahat segera. Apalagi, setelah Zhuhur kami harus check out untuk melanjutkan perjalanan ke Sharm el Sheikh, sebuah kota di tepi laut merah yang masih berjarak sekitar 270 km ke arah selatan.

Menuju ke Sharm el Sheikh, kami tidak melewati rute datang, melainkan mengambil rute selanjutnya. Kalau awalnya datang dari arah teluk Suez di sebelah timur, maka kini kami melanjutkan ke arah barat sehingga bertemu dengan pantai teluk Aqabah yang berseberangan dengan jazirah Arab. Setelah itu, berbelok ke kanan melewati kota Dahab, menuju ke ujung paling selatan dataran Sinai.

Kurang lebih 4 jam kami menyusuri pegunungan batu dan padang pasir. Separo perjalanan terakhir, kami menyusuri pantai teluk Aqabah yang berseberangan dengan negara Saudi Arabia. Pemandangan di kawasan ini tak kalah indah dengan pantai Timur, di Teluk Suez. Lebih dari 100 km kami menyusuri pantai yang bersebelahan dengan perbukitan batu yang indah. Di sebelah kanan, bukit dan padang pasir. Sedangkan di sebelah kiri, laut yang indah membiru.

Keindahan itu berujung di Sharm el Sheikh. Sebuah kota paling selatan dari dataran Sinai. Ia berada di tepi pantai Laut Merah yang luar biasa. Disinilah selat Aqabah bertemu dengan selat Suez. Di sebelah kanan kami adalah laut yang menjorok ke teluk Suez, dan sebelah kiri kami adalah laut yang menjorok ke teluk Aqabah. Kami persis berada di persimpangan dua laut itu.

Memasuki pintu gerbang kota sudah kelihatan pantai yang ramai dengan kapal-kapal pesiar. Disepanjang pantainya berdiri gedung-gedung yang megah, hotel, apartemen maupun villa bergaya Eropa. Kota yang memanjang searah pantai itu terbagi dalam 3 wilayah, yakni wilayah permukiman lama yang disebut sebagai Old Town.

Yang kedua adalah kawasan tepi pantai yang disebut Sharm el Moya. Disini terdapat hotel-hotel mewah, tempat-tempat hiburan malam, spa, pusat perbelanjaan, dan segala macam permainan yang disukai turis-turis Barat. Dan yang ketiga, adalah El Hadaba, kawasan yang dipenuhi dengan permukiman warga asing untuk berlibur, seperti villa, kondominium, dan apartemen. Berada di kota ini seperti berada di kawasan Eropa. Apalagi, yang kebanyakan berlalu lalang adalah para bule.

Kota Sharm el Sheik sudah jauh berubah dibandingkan tahun 80-an. Dulu daerah ini adalah sebuah desa nelayan yang kecil. Dan sempat menjadi kawasan yang diperebutkan antara Mesir dan Israel. Pernah diduduki Israel pada tahun 1956 dan 1967. Tetapi, kemudian dikembalikan ke Mesir pada tahun 1982, atas tekanan PBB dan dunia internasional. Sekarang kawasan yang sangat strategis ini menjadi pantai wisata nomer wahid di Mesir, bahkan di Timur Tengah.

Presiden Husni Mubarak sangat suka dengan tempat ini, sehingga sering menerima tamu-tamu negara atau menyelenggarakan pertemuan internasional disini. Bahkan, hampir setiap tahun, selama liburan Idul Fitri, ia dan keluarga memilih berada di Sharm el Sheikh. Sampai-sampai ada yang menyebut kota ini sebagai kota Mubarak. Meskipun pernah dibom oleh kalangan radikal Mesir di tahun 2005, kota ini mendapat julukan City of Peace.

Memasuki kota, saya berusaha mencari lokasi yang disebut oleh al Qur’an sebagai tempat bertemunya dua laut itu. Dari peta kami tahu, itu adalah kawasan yang kini bernama Ras Muhammad. Kawasan itu, benar-benar berada di paling ujung dataran Sinai. Bentuknya adalah tanjung yang menjorok ke laut.

Kawasan sepi ini, kini menjadi cagar alam kehidupan biota laut, yang sangat digandrungi oleh wisatawan dunia. Mereka senang menyelam di lepas pantainya, karena di dasar lautnya ada ribuan jenis ikan dan terumbu karang yang unik. Bahkan, ada kawasan yang terdapat gugusan karang berusia dua juta tahun, yang memberikan banyak informasi tentang kondisi alam masa silam. Tak kurang dari 50 ribu penyelam setiap tahunnya datang ke Ras Muhammad, Sharm el Sheikh. Daratannya memang sepi, karena kebanyakan turis langsung membawa kapalnya dari dermaga, menuju ke lepas pantai dimana mereka ingin menyelam.

* * *

Sore kemarin menjelang matahari tenggelam, saya berada di pantai tempat bertemunya dua laut itu. Lokasinya seperti yang digambarkan oleh al Qur’an. Benar-benar surprise, dan merasa seperti dalam mimpi. Disinilah, ribuan tahun yang lalu, dua hamba Allah bertemu untuk mempelajari salah satu rahasia ilmu Allah yang luar biasa tingginya, yaitu tentang kesabaran. Mereka adalah Nabi Musa sang Kalimullah dan Khidr, seorang misterius ’penunggu pantai’ yang tidak terkenal.

Allah menceritakan ini di dalam al Qur’an al Karim, ketika memerintahkan Musa untuk bertemu dengan guru spiritual, yang tak disebut namanya itu. ’’Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’’. [QS. 18: 60] ’’Lalu mereka bertemu dengan seseorang di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami’’. [QS. 18: 65]

Kenapa Musa yang hebat itu – memiliki sembilan buah mukjizat dan berbicara langsung dengan Allah di puncak Sinai – masih diperintah Allah untuk berguru kepada Khidr? Ternyata, Musa dianggap Allah belum memiliki kualitas kesabaran yang seharusnya. Apalagi, dalam menghadapi umatnya – Bani Israil – yang terkenal sangat cerewet dalam beragama.

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” [QS. 18: 66]. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” [QS. 18: 67-68].

Mendalam sekali dialog dua hamba Allah itu. Musa yang sedemikian hebat diprediksi Khidr tidak akan bisa bersabar mengikutinya, karena ilmunya ’belum cukup’. Kesabaran, ternyata hanya bisa dilakukan jika seseorang memiliki ilmunya. Jika tidak, ia hanya bisa ’menyabar-nyabarkan’ diri belaka. Terpaksa sabar. Belum benar-benar bersabar. Dan terbukti, selama mengikuti Khidr, Musa sering protes kepadanya ketika Khidr melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak masuk akal.

Sesuatu dikatakan masuk akal atau tidak, bergantung kepada seberapa tinggi ilmu yang telah kita miliki. Karena itu, Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu dan mengedepankan akal sehat dalam menjalankannya. Hanya orang-orang yang berilmu dan berakal sajalah yang bisa menjalankan agama ini dengan baik, sehingga tercapai tatanan masyarakat yang rahmatan lil alamin yang sebenar-benarnya. ’’… Dan tidak bisa mengambil pelajaran (dari ilmu-ilmu Allah) kecuali orang-orang yang berakal. [QS. 3: 7]

Pos ini dipublikasikan di bayu pancoro. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s