jump to navigation

EKSPEDISI SUNGAI NIL (30) September 30, 2010

Posted by bayupancoro in bayu pancoro.
trackback

by Agus Mustofa on Wednesday, September 8, 2010 at 9:18pm

~ Lebaran di Kairo, Didaulat Khutbah Idul Fitri ~

Alhamdulillahi rabbil alamin. Akhirnya selesailah ekspedisi spiritual Jawa Pos, Jelajah Sungai Nil. Dari tachometer mobil yang kami gunakan selama sebulan, kami tahu bahwa ekspedisi ini telah menyusuri jarak 4.798 km, saat sampai di Alexandria. Jarak itu kami tempuh sejak berangkat dari Kairo ke Abu Simbel, lantas menyusuri Nil menuju ke muara, dan melakukan pengembangan ke gurun Sinai. Maka, sesampai di Kairo nanti, perjalanan kami telah menempuh jarak lebih dari 5000 km.

Kami serasa baru keluar dari mimpi panjang berburu hikmah ke masa silam, sambil melakukan i’tikaf Ramadan sepanjang bulan. Dan kini, kami bersiap menerapkan segala hikmah itu untuk menghadapi realitas kehidupan, setelah belajar dari berbagai peristiwa di sekitar, sebagaimana disindirkan Alquran. ’’Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lewati, sayang mereka tidak menghiraukannya.’’ [QS. 12: 105]

Lega rasanya bisa menuntaskan tafakur panjang ini. Berpuluh hikmah kami dapatkan selama bulan suci yang memang penuh hikmah. Ramadan, benar-benar bulan membaca dan bertafakur bagi umat Islam. Meskipun, tidak sedikit yang menjadikan Ramadan justru sebagai bulan menurunnya produktivitas. Padahal, mestinya justru berlatih untuk meningkatkannya.

Ada sebuah pemahaman yang perlu dikaji kembali tentang latar belakang turunnya perintah berpuasa Ramadan. Kebanyakan kita berpendapat, bahwa perintah berpuasa Ramadan disebabkan oleh dua alasan. Yakni: supaya menjadi sehat, dan supaya menjadi lebih bertakwa. Saya rasa itu kurang tepat.

Karena sesungguhnya kalau kita lihat redaksinya, dua hal itu bukan ’penyebab’ turunnya perintah berpuasa, melainkan ’akibat’. Yakni: agar sehat – agar bertakwa. Kata ’agar’, tentu saja menunjukkan kedua hal itu sebagai ’akibat’ dari puasa. Barangsiapa berpuasa dengan baik, maka ’akibatnya’ adalah: memperoleh kualitas hidup yang lebih sehat, dan perilakunya lebih terkendali – bertakwa.

Penyebab puasa Ramadan ternyata dikaitkan oleh Allah dengan satu peristiwa penting yang terjadi di dalam bulan suci itu. Penjelasannya ada di dalam QS. 2: 185. ’’Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia … Karena itu, barangsiapa di antara kalian berada di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di dalamnya…’’

Jadi, perintah berpuasa di bulan Ramadan, sebenarnya dikarenakan turunnya Alqur’an sebagai petunjuk kehidupan. Karena di dalam bulan itu turun Alquran, maka umat Islam diperintahkan untuk berpuasa. Untuk apa? Supaya umat Islam banyak mempelajari kitab penuh hikmah ini sambil mensucikan dirinya, dan kemudian memperoleh petunjuk. Sebab, kandungan Alquran memang hanya bisa dipahami dengan baik oleh orang-orang yang sedang berproses mensucikan diri. Diantaranya adalah para pelaku puasa, dalam arti sesungguhnya.

Maka, sungguh salah besar orang yang berpuasa tanpa mengkaji ayat-ayat Quran. Dan hanya bertahan untuk sekedar tidak makan dan tidak minum, atau mencegah dari hal-hal yang membatalkannya sampai matahari tenggelam. Bulan Ramadan adalah bulan produktif, yang disediakan oleh Allah untuk belajar dan berkarya. Yang dengan itu, diharapkan, kita bisa memperoleh hikmah dari ilmu-ilmu Allah yang dihamparkan di sekitar kita.

Hasilnya, keluar dari bulan Ramadan menjadi orang yang lebih bertakwa: terkendali dan bijaksana. Itulah, kenapa di akhir Ramadan Allah menurunkan Lailatul Qadr. Kaitannya menjadi sangat jelas. Perintah puasa disebabkan oleh turunnya Alquran, dan karena itu, orang-orang yang berpuasa dengan baik akan memperoleh hikmah Alquran di akhir puasanya. Yaitu, pada suatu malam yang mulia dan penuh hikmah.

’’Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang mendalam) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.’’ [QS. 2: 269].

Kita bersyukur, Ramadan ini bisa belajar banyak dari berbagai peristiwa yang terekam di sepanjang sungai Nil. Sebuah drama panjang selama ribuan tahun, yang Allah abadikan dalam berbagai artefak-artefak sejarah yang sangat berharga. Juga di dalam kitab-kitab suci. Semua itu untuk menjadi pelajaran dan bahan kajian agar generasi kemudian menjadi lebih baik.

’’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah, dan jauhilah yang selain Dia”. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang tidak mempercayai.’’ [QS. 16: 36]

’’Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.’’ [QS. 11: 49]

Akhirnya, saya mengucapkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah, Sang Maha Berilmu, atas segala karunia dan rahmat-Nya. Mudah-mudahan Ramadan kali ini adalah Ramadan yang bertaburan hikmah yang bisa meningkatkan amal ibadah kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Saya mengucapkan terima kasih kepada Jawa Pos yang telah memberikan ruang untuk Kajian Ramadan bagi umat yang haus hikmah ini. Dan juga kepada tim Ekspedisi Sungai Nil atas kerja kerasnya, dan ketulusannya menggali hikmah bersama. Saya tidak tahu, apakah Ramadan depan kita bisa bertemu lagi untuk belajar hikmah seperti ini. Allahu a’lam…

Besok, kami merayakan Idul Fitri bersama masyarakat Indonesia di Kairo. Ribuan orang Indonesia dijadwalkan beramah tamah di masjid As Salam, Hay el Ashir, atas undangan Kedutaan Besar Indonesia di Ibukota Mesir. Sebelum itu, masyarakat Indonesia dan Duta Besar RI beserta seluruh staf menggelar Shalat Id, dimana saya didaulat untuk menjadi Khatibnya.

Saya mohon maaf tidak sempat membuat naskah khutbah untuk diperbanyak bagi jamaah, karena seluruh tenaga dan perhatian tercurah kepada Ekspedisi Sungai Nil ini. Tetapi, mudah-mudahan Allah tetap memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. Keluar dari bulan Ramadan, semoga menjadi orang yang lebih bertakwa.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita selama Ramadan. Mengampuni dosa dan kesalahan kita. Dan selalu membimbing kita semua di dalam Ridha-Nya … Amin ya rabbal alamin.

~ Salam ~

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: